Duduk Perkara Guru di Jambi Dikeroyok Siswa, Ini 7 Fakta di Baliknya

Guru, Agus Saputra, Jambi, Duduk Perkara Guru di Jambi Dikeroyok Siswa, Ini 7 Fakta di Baliknya

Jagat maya baru-baru ini dihebohkan dengan video viral aksi pengeroyokan seorang guru oleh massa siswa di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi.

Guru tersebut, Agus Saputra, mendatangi Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Jambi pada Rabu (14/1/2026) untuk memberikan klarifikasi.

Kedatangan Agus bertujuan untuk meluruskan narasi miring yang beredar, mulai dari tuduhan penghinaan siswa miskin hingga aksi membawa senjata tajam ke lingkungan sekolah.

Berikut adalah 7 fakta terkait insiden pengeroyokan guru oleh siswa di Jambi yang dirangkum Kompas.com:

1. Pemicu Awal: Pelecehan Verbal terhadap Guru

Insiden bermula pada Selasa pagi (13/1/2026). Agus Saputra yang merupakan guru Bahasa Inggris mengaku mendapat pelecehan verbal saat berjalan di lingkungan sekolah. Ia mendengar kata-kata kasar yang merendahkan martabatnya sebagai pendidik dari salah satu ruang kelas.

"Awalnya saya dipanggil dengan kata-kata kasar oleh siswa. Saya datangi, lalu saya tampar sebagai bentuk pembelajaran," ujar Agus di kantor Dinas Pendidikan Provinsi Jambi.

Ia menyebut tindakan fisik tersebut adalah refleks spontan karena siswa yang bersangkutan justru menantang saat ditegur.

2. Mengaku Sering Dirundung Siswa Selama 2 Tahun

Meski sudah mengabdi lebih dari 15 tahun, Agus mengaku baru kali ini kehilangan kesabaran.

Menurutnya, selama dua tahun terakhir, pelaku dan sejumlah siswa laki-laki lainnya kerap melakukan perundungan (bullying) terhadap dirinya.

"Bertahun-tahun saya dirundung pelaku. Siswa laki-laki lain juga begitu. Selama ini sabar karena risiko mengajar, tapi hari ini saya tidak tahan," ungkap Agus.

3. Penjelasan soal Video Membawa Celurit

Terkait video viral yang memperlihatkan dirinya membawa celurit dan mengejar siswa, Agus memberikan pembelaan. Ia menegaskan alat tersebut adalah peralatan pertanian milik sekolah karena sekolah tersebut memiliki jurusan pertanian.

"Saya tidak ada niat mau melukai, saya bawa celurit untuk menggertak dan membela diri agar kejadian pengeroyokan tak kembali berulang," jelasnya.

Ia mengaku membawa alat tersebut agar massa siswa yang emosional segera membubarkan diri demi menyelamatkan nyawanya.

4. Membantah Menghina "Siswa Miskin"

Salah satu narasi yang paling menyudutkan Agus di media sosial adalah tudingan bahwa ia menghina status ekonomi siswa.

Agus membantah keras hal tersebut. Ia menjelaskan bahwa konteks bicaranya adalah memberikan motivasi umum agar siswa mematuhi aturan demi masa depan.

"Tak ada niat mau mengejek atau menghina. Konteksnya mendorong siswa mematuhi aturan, sebagai motivasi umum, tidak spesifik ke individu siswa," tambahnya.

5. Dikeroyok Massa Siswa Berbagai Angkatan

Ketegangan memuncak saat jam pulang sekolah. Meski sempat dilakukan mediasi di ruangan ber-CCTV, situasi berakhir ricuh. Agus dikeroyok oleh massa siswa yang terdiri dari kelas 1, 2, hingga kelas 3.

Akibatnya, ia mengalami kekerasan fisik yang videonya kemudian tersebar luas di ranah digital.

6. Enggan Melapor ke Polisi karena Sayang Siswa

Meskipun menjadi korban kekerasan, Agus Saputra mengaku berat hati jika harus menempuh jalur hukum. Ia mempertimbangkan masa depan dan kondisi psikologis anak didiknya tersebut.

“Saya merinding kalau harus melapor ke polisi. Mereka ini anak didik saya, masih sekolah dan secara psikologis butuh bimbingan," kata Agus dengan nada getir.

7. Respons Gubernur Jambi dan Dinas Pendidikan

Gubernur Jambi, Al Haris, menyatakan akan bertindak tegas namun tetap mengedepankan mediasi. Ia menekankan bahwa guru tidak boleh berkata tidak patut, namun siswa juga tidak dibenarkan menghakimi guru dengan kekerasan.

"Kalau gurunya salah kita berikan sanksi. Namun, siswa tidak dibenarkan menghakimi guru dengan kekerasan. Penyelesaian harus dilakukan secepatnya melalui mekanisme mediasi secara kekeluargaan," tegas Al Haris, Kamis (15/1/2026).

Sementara itu Kepala Sekolah, Ranto M, memastikan bahwa pihak sekolah telah melakukan mediasi yang melibatkan Forkopimcam, kepolisian, dan Babinsa.

Saat ini, kegiatan belajar mengajar dilaporkan sudah kembali kondusif. Sementara itu, tim dari Dinas Pendidikan Provinsi Jambi masih terus mengumpulkan keterangan untuk menentukan sanksi atau keputusan terkait posisi Agus Saputra di sekolah tersebut.

Sebagian Artikel Telah Tayang di Kompas.com dengan Judul

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang