Top 7+ Fakta Kematian Siswa SD di Wonogiri: Bukan Santri Ponpes, Polisi Tetapkan Pelaku

Wonogiri, 7 Fakta Kematian Siswa SD di Wonogiri: Bukan Santri Ponpes, Polisi Tetapkan Pelaku, Korban bukan santri ponpes, Insiden terjadi di ruang kelas, Korban dijegal hingga kepalanya terbentur, Korban mengeluh pusing dan muntah, Dimakamkan pada hari yang sama, Polisi tetapkan anak 11 tahun sebagai pelaku

Kabar meninggalnya DRP (11) di lingkungan pondok pesantren Kecamatan Bulukerto, Kabupaten Wonogiri, menyita perhatian publik. 

Informasi yang beredar sempat menyebut korban sebagai santri. 

Namun, hasil penyelidikan dan klarifikasi sejumlah pihak mengungkap rangkaian peristiwa yang berbeda. 

Kasus meninggalnya DRP pun kian menjadi sorotan setelah akun @txtdarimedia di X membagikan ulang tentang peristiwa ini. 

"Keluarga dapat kabar anaknya D (11) dibawa ke klinik krna masuk angin & meninggal dunia. Ada luka lebam di tubuhnya namun pihak sekolah mengatakan bekas kerokan. Pas diselidiki, ternyata D dibully teman kelasnya. dia sempat dicekik & dibanting hingga kepalanya terbentuk ke lantai," tulis akun tersebut pada Kamis (19/2/2026). 

Unggahan itu menuai banyak respons dari warganet dan sudah ditonton hampir 150 ribu kali oleh pengguna X. 

Lantas, apa yang perlu diketahui dari kasus ini? Berikut tujuh fakta yang terungkap sejauh ini.

Korban bukan santri ponpes

Kementerian Agama (Kemenag) Wonogiri memastikan DRP bukan santri pondok pesantren, melainkan siswa sekolah dasar milik yayasan yang sama.

Kepala Kantor Kemenag Wonogiri, Hariyadi, mengatakan pihaknya telah melakukan pengecekan internal.

"Setelah kita cek, itu bukan santri. Itu siswa SD milik yayasan. Kebetulan yayasannya punya ponpes dan punya SD," terang Hariyadi, dikutip dari Tribun Solo, Kamis. 

Korban diketahui bersekolah di SD Nurul Falah yang berada di bawah naungan Yayasan Nurul Falah.

Insiden terjadi di ruang kelas

Peristiwa bermula pada Sabtu (14/2/2026) di ruang kelas lingkungan pondok pesantren. 

Polisi menyebut terjadi pertengkaran antara korban dan seorang teman sekelasnya.

Kasatreskrim Polres Wonogiri IPTU Agung Sedewo mengatakan pertengkaran dipicu saling ejek.

"Masalahnya terlibat saling ejek nama orang tua dan dijodoh-jodohkan dengan teman perempuan," jelasnya, dikutip dari Tribun Solo, Rabu (18/2/2026). 

Korban dijegal hingga kepalanya terbentur

Perkelahian kemudian berujung fisik. Korban sempat dijegal hingga terjatuh dan kepalanya membentur lantai.

Saat korban dalam posisi terduduk, pelaku berinisial R (11) disebut menindih tubuh korban, memegang leher, dan mendorongnya. 

Aksi itu terjadi meski ada tiga siswa lain yang menyaksikan dan sempat mencoba melerai.

"Kekerasan itu mengakibatkan luka yang cukup fatal," kata IPTU Agung.

Korban mengeluh pusing dan muntah

Setelah kejadian, DRP mengeluh pusing dan muntah sebanyak tiga kali. Pihak sekolah kemudian membawa korban ke klinik untuk mendapatkan pertolongan.

Namun, saat dirujuk ke rumah sakit, nyawa korban tidak tertolong.

"Meninggal dalam perjalanan, sampai rumah sakit sudah meninggal dunia," terang  Agung.

Dimakamkan pada hari yang sama

Korban dilaporkan meninggal dunia pada Sabtu (14/2/2026) dan dimakamkan pada malam harinya atas kesepakatan keluarga.

Keesokan harinya, Minggu (15/2/2026), ayah korban tiba dari luar daerah dan mendapat informasi mengenai kondisi jenazah sebelum dimakamkan.

Keluarga curiga ada kejanggalan

Keluarga menerima laporan bahwa jenazah sempat mengeluarkan darah dari hidung dan mulut. Selain itu, ditemukan bercak darah pada peti jenazah.

Merasa ada kejanggalan, keluarga kemudian melapor ke kepolisian agar penyebab kematian diusut tuntas.

Polres Wonogiri bersama Polsek Bulukerto melakukan ekshumasi atau pembongkaran makam di Makam Prayan, Dusun Ngelo, Desa Conto, Kecamatan Bulukerto, Selasa (17/2/2026), untuk keperluan otopsi.

Polisi tetapkan anak 11 tahun sebagai pelaku

Berdasarkan hasil penyelidikan, polisi menetapkan satu anak berusia 11 tahun sebagai pelaku.

"Dari serangkaian penyidikan penyelidikan, saat ini kita sudah menetapkan anak sebagai pelaku, satu orang," kata IPTU Agung.

Sementara itu, Kemenag Wonogiri menyatakan telah menerjunkan tim ke lokasi untuk memastikan informasi yang beredar serta memantau situasi. 

Hingga Rabu malam, Ketua Yayasan Nurul Falah belum memberikan tanggapan atas upaya konfirmasi yang dilakukan media.

Sebagian artikel ini telah tayang di TribunSolo.com dengan judul Anak Meninggal di Lingkungan Ponpes Bulukerto Wonogiri Bukan Santri, Tapi Siswa SD di Yayasan Serupa.

Sebagian artikel ini telah tayang di TribunSolo.com dengan judul Kronologi Kematian Santri Ponpes Bulukerto Wonogiri : Bermula Ejekan Nama Orang Tua hingga Adu Fisik.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang