Top 6+ Fakta Mengerikan Siswa SD di Ngada NTT Bunuh Diri di Pohon Cengkih
Kasus meninggalnya seorang siswa kelas IV sekolah dasar berinisial YBR di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyita perhatian publik.
Korban ditemukan tidak bernyawa dengan kondisi mengenaskan usai diduga bunuh diri.
Berikut rangkaian fakta-fakta terbaru yang terungkap dari peristiwa tersebut:
1. Ditemukan Meninggal di Pohon Cengkeh
Ilustrasi bunuh diri.
Peristiwa ini terungkap setelah YBR ditemukan tewas tergantung di pohon cengkih setinggi kurang lebih 15 meter pada Kamis, 29 Januari 2026.
Aparat kepolisian kemudian melakukan evakuasi dan penyelidikan di lokasi kejadian. Saat proses evakuasi, polisi menemukan sepucuk surat yang diduga ditulis sendiri oleh korban sebelum mengakhiri hidupnya.
2. Sepucuk Surat Berisi Pesan untuk Ibu
Surat yang ditemukan ditulis menggunakan bahasa daerah. Kepala Seksi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus R. Pissort, membenarkan bahwa surat tersebut merupakan tulisan tangan korban.
Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, isi surat tersebut berisi pesan perpisahan kepada sang ibu, disertai permintaan agar tidak menangis dan tidak mencarinya. Pada kertas yang sama, juga terdapat gambar seorang anak laki-laki dengan air mata.
Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)
Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)
Mama molo Ja'o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)
Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)
Molo Mama (Selamat tinggal mama)
3. Korban Tinggal Bersama Nenek
YBR diketahui tinggal bersama neneknya. Ibunya merupakan orang tua tunggal yang bekerja sebagai petani dan terkadang menjadi pekerja serabutan di desa tetangga.
Dalam kondisi tersebut, sang ibu harus menghidupi lima orang anak, termasuk YBR, dengan keterbatasan ekonomi yang dihadapi keluarga.
4. Tak Mampu Membeli Buku dan Pena
Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, mengungkapkan bahwa pemicu peristiwa ini diduga berkaitan dengan permintaan korban kepada ibunya untuk dibelikan buku tulis dan pena seharga Rp10 ribu. Permintaan tersebut disampaikan pada malam sebelum kejadian, namun belum dapat dipenuhi karena kondisi keuangan keluarga.
Belakangan, informasi tersebut dibantah oleh pihak kepolisian. Kapolres Ngada, Ajun Komisaris Besar Polisi Andrey Valentino menegaskan, hasil penyelidikan di lapangan menunjukkan bahwa latar belakang peristiwa lebih mengarah pada tekanan psikologis korban akibat sering mendapat nasihat dari orang tuanya.
"Fakta di lapangan bukan karena alat tulisnya, melainkan karena sering dinasihati oleh orang tuanya. Hal ini dikarenakan si anak dalam satu minggu itu beberapa kali tidak masuk sekolah dengan alasan sakit," kata Andrey kepada wartawan, Rabu, 4 Februari 2026.
Ia menjelaskan, pada malam sebelum peristiwa tragis itu terjadi, orang tua korban sempat menasihati YRB agar tidak bermain hujan-hujanan. Nasihat tersebut diberikan dengan tujuan agar korban tidak jatuh sakit dan kembali izin tidak masuk sekolah.
"Namun, mungkin yang namanya orang tua memberikan nasihat, penerimaan anaknya mungkin merasa tersinggung atau bagaimana. Jadi ceritanya bukan karena alat tulis, tetapi karena sering dinasihati oleh ibunya mengenai pemberian nasihat tersebut," katanya.
5. Cak Imin: Kasus Ini Cambukan bagi Pemerintah
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin menilai insiden yang menimpa siswa tersebut harus menjadi cambuk bagi pemerintah.
"Ya ini harus menjadi cambuk ya, kewaspadaan kita, kehati-hatian kita, semua membuka diri untuk mudah dimintain tolong oleh siapapun. Pemerintah juga waspada, masyarakat satu dengan lain harus gotong royong," kata Cak Imin kepada wartawan di kawasan Jakarta Pusat, Selasa, 3 Februari 2026.
6. Wali Kelas: Korban Pintar dan Ceria di Sekolah
Wali kelas, Bonivasius Snae mengungkap YRB adalah anak yang cukup pintar dan ceria di sekolah. Dia juga mengaku kaget dengan insiden yang menimpa siswanya itu.
”Saya mau sampaikan siswa saya ada 8 orang, yang terdiri dari laki-laki 5 dan perempuan 3. Untuk korban kalau kesehaarian di sekolah anak ini selalu ceria. Kalau di kelas juga termasuk anak yang pintar, jujur dan selalu bermain bersama teman,” kata Bonivasius dikutip dari tayangan YouTube tvOne.
“Kalau tentang masalah terjadi di rumah itu tidak pernah bercerita. Anak ini selalu ceria di dalam kelas,” sambung sang guru.
Berita ini memuat isu sensitif terkait bunuh diri. Jika Anda atau orang di sekitar Anda mengalami tekanan emosional, pikiran untuk menyakiti diri sendiri, atau gangguan kesehatan mental, segera cari bantuan profesional seperti psikolog, psikiater, atau fasilitas layanan kesehatan terdekat. Anda tidak sendirian, dan dukungan yang tepat dapat membantu melewati masa sulit.