Sering Lari Saat Puasa, Waspadai Risiko Dehidrasi dan Hipoglikemia
Lari saat puasa tetap dapat dilakukan, tetapi aktivitas ini memiliki beberapa risiko kesehatan yang perlu diperhatikan, terutama jika dilakukan dengan durasi panjang atau intensitas tinggi.
Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga RS Pondok Indah, dr. Risky Dwi Rahayu, M.Gizi, Sp.K.O, mengatakan risiko utama olahraga lari saat berpuasa berkaitan dengan kekurangan cairan dan energi dalam tubuh.
“Risiko lari jarak jauh saat sedang berpuasa adalah dehidrasi dan hipoglikemia,” ujar dr. Risky dalam wawancara dengan Kompas.com pada Rabu (25/2/2026).
Menurut dia, kedua kondisi tersebut dapat muncul jika aktivitas fisik dilakukan tanpa pengaturan waktu dan kebutuhan nutrisi yang tepat.
Risiko dehidrasi saat lari
Dehidrasi merupakan kondisi ketika tubuh kehilangan cairan lebih banyak daripada yang masuk.
Saat berpuasa, tubuh tidak mendapatkan asupan minum dalam waktu yang cukup lama sehingga risiko kehilangan cairan menjadi lebih besar.
Aktivitas lari yang memicu keluarnya keringat dapat mempercepat kehilangan cairan tersebut. Kondisi ini dapat menyebabkan tubuh terasa lemas, pusing, dan menurunnya performa saat berolahraga.
Jika tidak diantisipasi dengan baik, dehidrasi juga dapat memengaruhi keseimbangan tubuh secara keseluruhan.
Risiko hipoglikemia
Ilustrasi olahraga. Dokter mengingatkan bahwa lari saat puasa tetap aman dilakukan, tetapi pelari perlu mewaspadai risiko dehidrasi dan hipoglikemia jika latihan tidak diatur dengan baik.
Selain dehidrasi, pelari juga perlu mewaspadai hipoglikemia. Hipoglikemia adalah kondisi ketika kadar gula darah menurun sehingga tubuh kekurangan energi.
Saat berpuasa, cadangan energi tubuh berasal dari makanan yang dikonsumsi saat sahur. Aktivitas fisik seperti lari dapat mempercepat penggunaan energi tersebut.
Jika cadangan energi tidak cukup, kadar gula darah dapat turun dan memicu gejala seperti lemas, pusing, atau sulit berkonsentrasi.
Pentingnya mengatur waktu olahraga
Risky menyarankan agar waktu olahraga disesuaikan selama bulan Ramadhan agar risiko kesehatan dapat diminimalkan. Pengaturan waktu latihan membantu tubuh tetap aman saat melakukan aktivitas fisik.
Olahraga setelah berbuka puasa dapat menjadi pilihan karena tubuh sudah kembali mendapatkan energi dan cairan.
Pada waktu tersebut, intensitas olahraga juga dapat dilakukan dengan lebih tinggi dibanding saat masih berpuasa.
Perhatikan kebutuhan nutrisi
Selain waktu olahraga, kebutuhan nutrisi juga perlu diperhatikan bagi orang yang tetap aktif berolahraga selama puasa. Risky menyarankan agar sahur dan berbuka tetap memperhatikan kecukupan zat gizi.
“Asupan saat sahur dan berbuka sebaiknya mempertimbangkan kecukupan zat gizi seperti karbohidrat kompleks, protein berkualitas baik, lemak, dan cairan,” jelasnya.
Karbohidrat kompleks membantu menjaga energi tubuh lebih stabil sepanjang hari.
Protein berkualitas baik juga penting untuk membantu mempertahankan massa otot, terutama bagi orang yang rutin berolahraga.
Ia juga mengingatkan agar menghindari konsumsi gorengan dan gula sederhana secara berlebihan.
Jenis makanan tersebut dapat memberikan energi sesaat tetapi tidak membantu menjaga stamina tubuh dalam waktu lama.
Lari saat puasa tetap dapat dilakukan, tetapi perlu memperhatikan risiko dehidrasi dan hipoglikemia.
Pengaturan waktu olahraga serta pemenuhan nutrisi dan cairan yang cukup saat sahur dan berbuka membantu menjaga tubuh tetap aman selama berolahraga di bulan puasa.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang