Lemas Saat Puasa, Normal atau Tanda Dehidrasi? Ini Cara Membedakannya
Lemas saat puasa tidak selalu berarti tubuh mengalami dehidrasi, karena sebagian kondisi tersebut merupakan respons normal tubuh yang sedang beradaptasi dengan perubahan pola makan dan asupan cairan.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Pondok Indah, dr. Ihsanul Rajasa, Sp.PD, FISQua, menjelaskan bahwa masyarakat perlu memahami perbedaan antara lemas biasa saat puasa dan lemas yang menjadi tanda dehidrasi.
“Lemas saat berpuasa sering terjadi karena tubuh beradaptasi dengan perubahan pola makan dan asupan cairan. Namun, tidak semua rasa lemas itu sama,” ujar dr. Ihsanul dalam wawancara eksklusif bersama Rabu (25/2/2026).
Menurutnya, sebagian orang mengalami lemas ringan yang masih termasuk kondisi normal, tetapi ada juga lemas yang menandakan tubuh kekurangan cairan.
Lemas biasa saat puasa
Lemas ringan saat puasa umumnya terjadi karena penurunan gula darah sementara dan proses adaptasi tubuh terhadap perubahan jadwal makan.
Kondisi ini biasanya masih dapat ditoleransi dan tidak disertai gangguan fungsi tubuh yang serius. Beberapa tanda lemas yang masih termasuk normal saat puasa antara lain:
- Rasa lemas yang masih dapat ditoleransi
- Sedikit pusing yang membaik setelah beristirahat
- Konsentrasi menurun tetapi masih mampu beraktivitas
- Tubuh tetap mampu menjalankan aktivitas sehari-hari
Kondisi tersebut biasanya akan membaik menjelang waktu berbuka.
“Dengan durasi puasa berkisar 12 sampai 14 jam, biasanya tidak akan menyebabkan dehidrasi berat pada tubuh manusia,” jelas dr. Ihsanul.
Tanda lemas akibat dehidrasi
Ilustrasi pusing. Rasa lemas saat puasa bisa menjadi respons normal tubuh, tetapi dalam beberapa kondisi juga dapat menandakan dehidrasi yang perlu segera diwaspadai.
Berbeda dengan lemas biasa, dehidrasi terjadi ketika tubuh kekurangan cairan sehingga fungsi organ mulai terganggu.
Dehidrasi dapat terjadi saat puasa jika cairan yang dikonsumsi saat sahur tidak mencukupi atau aktivitas di siang hari terlalu berat. Beberapa tanda dehidrasi ringan hingga sedang yang perlu diwaspadai meliputi:
- Rasa haus hebat
- Bibir dan mulut kering
- Urine berwarna kuning tua
- Jumlah urine lebih sedikit dari biasanya
- Pusing atau lemas lebih berat dari biasanya
Jika kondisi ini memburuk, tanda dehidrasi berat dapat muncul, seperti:
- Tidak buang air kecil selama lebih dari 6–8 jam
- Urine sangat pekat
- Pusing hebat hingga hampir pingsan
- Kebingungan atau perubahan kesadaran
- Jantung berdebar cepat
Kapan harus menghentikan puasa
Ihsanul menegaskan bahwa puasa sebaiknya dihentikan jika muncul tanda-tanda dehidrasi yang berbahaya.
“Jika ada gejala-gejala berbahaya ini, puasa sebaiknya dihentikan dan cairan harus segera diberikan. Jika tidak cepat membaik, segeralah mendapatkan bantuan medis,” ujarnya.
Mengenali perbedaan antara lemas biasa dan dehidrasi menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah puasa.
Dengan memahami sinyal tubuh sejak awal, seseorang dapat menentukan apakah kondisi yang dialami masih wajar atau memerlukan penanganan segera.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang