Bukan Jarak, Ini yang Bikin Baterai Mobil Listrik Cepat Rusak

Ilustrasi pengisian baterai mobil listrik.
Ilustrasi pengisian baterai mobil listrik.

 Salah satu alasan yang membuat sebagian konsumen masih ragu membeli mobil listrik adalah kekhawatiran terhadap usia baterai. Banyak yang beranggapan bahwa baterai akan cepat rusak setelah beberapa tahun penggunaan dan membutuhkan biaya penggantian yang sangat mahal.

Namun berbagai data terbaru justru menunjukkan bahwa baterai mobil listrik modern memiliki daya tahan yang jauh lebih baik dari perkiraan banyak orang. Bahkan sejumlah kendaraan listrik yang telah menempuh ratusan ribu kilometer masih mampu mempertahankan sebagian besar kapasitas baterainya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Lalu apa sebenarnya yang membuat baterai mobil listrik mengalami penurunan performa?

Disadur VIVA Otomotif darui Insideev, Kamis 4 Juni 2026, jarak tempuh bukanlah faktor utama yang menentukan kesehatan baterai. Para ahli menyebut proses pengisian dan pengosongan daya atau charge-discharge cycle menjadi faktor yang jauh lebih berpengaruh.

Semakin sering baterai mengalami siklus pengisian dan penggunaan, maka kapasitasnya secara alami akan berkurang seiring waktu. Namun proses tersebut berlangsung secara bertahap dan tidak serta-merta membuat baterai kehilangan fungsi dalam waktu singkat.

Selain siklus pengisian, suhu juga menjadi musuh utama baterai kendaraan listrik. Paparan panas berlebihan dalam jangka panjang dapat mempercepat proses degradasi sel baterai.

Karena itu, sebagian besar mobil listrik modern kini dilengkapi sistem pendingin cairan atau liquid cooling yang berfungsi menjaga suhu baterai tetap stabil saat digunakan maupun ketika melakukan pengisian daya.

Faktor lain yang sering dikaitkan dengan kerusakan baterai adalah penggunaan fast charging. Meski demikian, sejumlah studi dan pengamatan terhadap kendaraan listrik berjarak tempuh tinggi menunjukkan bahwa pengisian cepat tidak selalu berdampak buruk seperti yang selama ini dikhawatirkan.

Pengaruhnya sangat bergantung pada jenis baterai yang digunakan. Baterai berteknologi Lithium Iron Phosphate (LFP) diketahui memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap pengisian cepat maupun pengisian hingga 100 persen dibandingkan baterai berbasis Nickel Manganese Cobalt (NMC).

Karena itulah banyak produsen mobil listrik mulai mengadopsi baterai LFP pada berbagai model terbaru. Selain lebih terjangkau, teknologi tersebut juga dikenal memiliki umur pakai yang panjang.

Menariknya, proses penurunan kapasitas baterai tidak berlangsung secara linear. Penurunan terbesar biasanya terjadi pada tahun-tahun awal penggunaan atau setelah puluhan ribu kilometer pertama.

Setelah itu, laju degradasi cenderung melambat dan berlangsung jauh lebih stabil. Dengan kata lain, baterai yang sudah kehilangan sebagian kecil kapasitas di awal belum tentu akan terus mengalami penurunan dengan kecepatan yang sama.

Berbagai pengujian terhadap mobil listrik dengan jarak tempuh lebih dari 240 ribu kilometer menunjukkan sebagian besar kendaraan masih memiliki kesehatan baterai di kisaran 80 hingga 90 persen dari kondisi awal.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bahkan ada kendaraan listrik yang telah digunakan hingga mendekati 500 ribu kilometer dan masih menyimpan sekitar 75 persen kapasitas baterainya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kekhawatiran mengenai baterai mobil listrik yang cepat rusak tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta di lapangan. Yang lebih penting justru bagaimana kendaraan digunakan dan dirawat selama masa kepemilikannya.