Kesalahan Sahur yang Bikin Tubuh Cepat Lemas Saat Puasa, Apa Saja?

sahur, Kesalahan Sahur yang Bikin Tubuh Cepat Lemas Saat Puasa, Apa Saja?

Sahur menjadi salah satu kunci utama agar tubuh tetap bertenaga selama menjalani puasa.

Namun, tanpa disadari, banyak orang melakukan kesalahan saat sahur, sehingga tubuh cepat lemas, mudah haus, dan sulit berkonsentrasi di siang hari.

Board of Medical Excellence Halodoc, dr. Irwan Heriyanto, MARS mengingatkan, sahur bukan hanya soal makan, tetapi juga tentang strategi memilih makanan yang tepat. 

Mengabaikan konsumsi serat

Salah satu kesalahan paling umum saat sahur adalah mengabaikan asupan serat. Padahal, serat berperan penting dalam membantu tubuh merasa kenyang lebih lama.

“Serat itu akan bantu untuk dia bertahan lebih lama rasa kenyangnya. Jadi kalau pas sahur makan sayur, buah,” ujar dr. Irwan dalam acara Halodoc Talks di Jakarta Pusat, Rabu (21/1/2026).

Ia menjelaskan, kebiasaan makan tanpa memperhatikan serat membuat rasa kenyang hanya bertahan sementara. Akibatnya, tubuh lebih cepat merasa lapar, meski baru beberapa jam berpuasa.

Di sisi lain, saat sahur, banyak orang yang memilih makanan berdasarkan selera sesaat, bukan kebutuhan tubuh.

Hal ini membuat tubuh kekurangan serat sehingga rasa lapar bisa muncul lebih cepat di siang hari.

“Kadang-kadang kita lapar mata. Semua disiapkan, begitu dimakan, sudah kenyang. Lihat sayur jadi enggak kepengin,” kata dr. Irwan.

Mengonsumsi mi sebagai menu sahur

Kesalahan berikutnya adalah menjadikan mi sebagai menu sahur terlalu sering, misalnya mi instan. Menurut dr. Irwan, kebiasaan ini perlu dibatasi karena mi memiliki sifat menyerap cairan sehingga dapat mempercepat rasa haus.

Selain itu, mi umumnya rendah serat dan protein sehingga rasa kenyang yang dihasilkan tidak bertahan lama ketika puasa.

Dalam kondisi tersebut, tubuh cenderung lebih cepat merasa lemas dan membutuhkan asupan cairan lebih banyak saat seseorang berpuasa.

“Mi itu kan menyerap air juga. Kalau lama enggak dimakan, airnya diambil,” ujar dr. Irwan.

Ia menegaskan, konsumsi mi untuk sahur tidak harus dihindari sepenuhnya, tetapi sebaiknya tidak dijadikan kebiasaan agar tubuh tidak lebih cepat mengalami dehidrasi dan lapar saat puasa.

Terapkan pola makan dan minum yang lebih teratur

Di samping itu, dr. Irwan mengatakan, sahur dan berbuka sebaiknya tidak dilakukan secara tergesa-gesa maupun berlebihan. 

Pola makan yang lebih teratur dan bertahap membantu sistem pencernaan bekerja lebih stabil selama puasa. Pemilihan jenis makanan juga menjadi faktor penting agar tubuh tetap bertenaga dan tidak mudah mengalami gangguan pencernaan.

“Selama Ramadan, jaga pola makan yang teratur dan bertahap saat sahur dan berbuka, awali dengan air putih, pilih makanan seimbang yang mengandung protein, karbohidrat kompleks, dan serat, serta batasi makanan berlemak, pedas, dan berkafein,” jelas dr. Irwan.

“Asupan cairan juga penting dijaga secara bertahap antara berbuka dan sahur, misalnya dengan pola minum 2-4-2, untuk membantu mencegah dehidrasi dan gangguan pencernaan,” tambahnya.

Menurutnya, kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu tubuh menjalani puasa dengan lebih nyaman serta menurunkan risiko keluhan kesehatan selama Ramadan.

Dengan sahur yang lebih terencana, tubuh tidak hanya lebih kuat berpuasa, tetapi juga dalam menjalani aktivitas sepanjang hari.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang