Pakai Fast Charging Bisa Bikin Baterai Mobil Listrik Cepat Drop?
Kehadiran fasilitas fast charging membuat pengguna mobil listrik semakin mudah melakukan pengisian daya, terutama saat melakukan perjalanan jarak jauh. Dalam waktu relatif singkat, baterai kendaraan bisa kembali terisi dan siap digunakan.
Namun, masih banyak pemilik mobil listrik yang bertanya-tanya apakah penggunaan fast charging secara rutin dapat mempercepat penurunan performa baterai.
Kepala Teknisi Domo Hybrid EV Yogig Pramono mengatakan, pada dasarnya pabrikan kendaraan listrik lebih menyarankan pemilik kendaraan melakukan pengisian daya menggunakan metode slow charging untuk penggunaan sehari-hari.
Menurut dia, kebiasaan menggunakan fast charging memang tidak langsung membuat baterai rusak. Akan tetapi, dalam jangka panjang dapat memengaruhi kesehatan baterai dan kapasitas penyimpanan energinya.
"Setiap pabrikan juga menyarankan untuk slow charging. Sebenarnya ini pengaruh ke usia baterainya juga," kata Yogig, saat ditemui Kompas.com, di Jakarta Utara, belum lama ini.
charging station di Seoul Korea Selatan
Jarak Tempuh Bisa Berkurang
Yogig menjelaskan, salah satu dampak yang bisa dirasakan pengguna adalah penurunan jarak tempuh kendaraan setelah baterai digunakan selama beberapa tahun.
Sebagai gambaran, mobil listrik yang saat baru memiliki daya jelajah sekitar 300 kilometer dalam kondisi baterai penuh, bisa mengalami penurunan kapasitas apabila terlalu sering menggunakan fast charging.
"Kalau misalnya kita sering pakai fast charging, biasanya setelah lima tahun atau bahkan kurang dari lima tahun, saat dicas penuh jarak tempuhnya bisa berkurang. Yang tadinya 300 kilometer sekali cas bisa jadi sekitar 250 kilometer," kata Yogig.
Menurut dia, kondisi tersebut terjadi karena baterai menerima arus listrik yang jauh lebih besar saat proses fast charging berlangsung.
Arus Besar Membuat Baterai Bekerja Lebih Keras
Yogig menjelaskan, saat menggunakan fast charging, baterai menerima ampere atau daya yang besar dalam waktu singkat.
Kondisi tersebut membuat proses pengisian berlangsung lebih cepat dibandingkan slow charging.
"Kalau fast charging kan dia dikasih ampere atau daya yang langsung besar," ujarnya.
Sementara itu, saat menggunakan slow charging, arus listrik yang masuk ke baterai relatif lebih kecil sehingga proses pengisian berlangsung lebih perlahan dan stabil.
Karena pengisian dilakukan secara bertahap, kondisi baterai dinilai lebih ideal dibandingkan saat terus-menerus menerima daya besar dari fast charging.
"Kalau slow charging itu ampere yang masuk biasanya kecil, jadi baterai benar-benar penuh. Kalaupun ada floating, tidak sebanyak saat fast charging," kata Yogig.
Toyota menambah fasilitas charging station di Gandaria City Mal, Jakarta Selatan
Fast Charging Tetap Aman Digunakan
Meski demikian, Yogig menegaskan bahwa pengguna tidak perlu menghindari fast charging sepenuhnya. Fitur tersebut memang dirancang untuk memudahkan pengisian daya, terutama ketika kendaraan digunakan untuk perjalanan jauh atau dalam kondisi darurat.
Hanya saja, untuk menjaga kesehatan baterai dalam jangka panjang, pengisian daya menggunakan slow charging lebih disarankan sebagai metode utama sehari-hari.
Dengan kata lain, fast charging tetap aman digunakan sesekali sesuai kebutuhan. Namun jika terlalu sering menjadi pilihan utama, penurunan kapasitas baterai berpotensi terjadi lebih cepat dibandingkan kendaraan yang lebih sering menggunakan slow charging.
Karena itu, pemilik mobil listrik sebaiknya menyesuaikan pola pengisian daya dengan kebutuhan penggunaan kendaraan agar umur baterai tetap optimal dan jarak tempuh dapat terjaga dalam jangka panjang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang