Jelang Lebaran, Mengapa Berat Badan Malah Naik Saat Puasa?

Jelang Lebaran, Mengapa Berat Badan Malah Naik Saat Puasa?

Menjelang Hari Raya Idul Fitri, banyak orang menaruh harapan untuk memiliki bentuk tubuh yang lebih bugar dan berat badan berkurang.

Mengingat durasi ibadah puasa yang mengharuskan seseorang menahan lapar selama 12 jam, turunnya angka pada timbangan seharusnya lumrah terjadi.

Sayangnya, sering kali berat badan malah naik seiring berjalannya bulan puasa. Baju Lebaran yang sudah dibeli pun terasa semakin sempit. Apa alasannya?

"Naik berat badan ini paling sering banget karena pemilihan menu saat berbuka puasa," ujar Spesialis Gizi Klinik dr. Firisha Virgidewi Witjaksono, Sp.GK dalam acara media gathering bersama Siloam Hospitals Mampang di Jakarta Selatan, Selasa (10/3/2026).

Mengapa berat badan naik menjelang Lebaran?

Jebakan revenge food saat berbuka

Dokter Sasha menjelaskan bahwa kesalahan krusial yang kerap tidak disadari adalah pola makan balas dendam atau revenge food begitu adzan Magrib berkumandang.

"Kadang pada saat kita buka, kan kita sudah puasa lama. Kita harus bijak, jangan revenge food. Jangan langsung makan besar, atau jangan langsung yang terlalu tinggi gula," jelas dia.

Ia mengingatkan bahwa hidangan takjil yang umum dikonsumsi masyarakat, seperti es buah berkuah kental manis menyumbang asupan gula yang sangat tinggi secara tiba-tiba.

"Jadi kalau bisa, mulai dari air putih dulu, kemudian boleh kurma ataupun buah. Batasi yang langsung manis dan tinggi gula, batasi gorengan. Tapi yang paling penting, batasi yang langsung makan besar supaya menghindari lonjakan gula darah tadi," tutur dr. Sasha.

Gula yang dikonsumsi secara berlebihan saat berbuka akan langsung disimpan sebagai lemak oleh tubuh. Fungsi kerja hormon insulin cenderung menurun ketika seseorang berpuasa belasan jam, sehingga asupan manis berlebih menjadi penyebab utama kegemukan.

Hindari melewatkan sahur

Di sisi lain, mengabaikan makan sahur dengan harapan memangkas kalori juga menjadi penyebab utama melonjaknya berat badan menjelang Lebaran. Berkurangnya asupan karena tidak sahur justru tidak menghasilkan penurunan berat badan.

"Kalau enggak sahur juga enggak boleh. Pasti kalori kita akan kurang sekali. Tapi kalori yang kurang ini sayangnya tidak menyebabkan penurunan berat badan. Kenapa? Karena puasa kita kan lama tuh. Pasti ketika kita tidak ada sahur, craving (keinginan ngemil) akan lebih tinggi," jelas dr. Sasha.

Kebiasaan melewatkan sahur justru membuat tubuh menjadi sangat lapar ketika waktu berbuka tiba. Kondisi ini sering memicu seseorang kalap mengonsumsi makanan apa pun, terutama yang manis-manis, dalam porsi berlebihan tanpa memperhitungkan jumlah kalori yang masuk.

"Jadi malah sebenarnya, tanpa disadari, (asupan) kalorinya ganda," lanjut dia.

Terapkan strategi makan bertahap

Untuk mengatasi masalah ini, dr. Sasha menyarankan untuk menerapkan metode makan secara bertahap. Hindari berbuka puasa dengan langsung menyantap hidangan penuh yang berisi lauk pauk (big meal).

"Jadi kalau kita habis puasa, perutnya kosong lama, mulai dari makanan yang ringan dulu biar perut kita enggak kaget. Dikenalin dulu perutnya sama makanan, jedain 10-15 menit baru makan besar," ucap dia.

Dengan mengatur jeda waktu yang konsisten dan mengenalkan makanan ke lambung secara perlahan, tubuh bisa lebih mudah mengontrol lonjakan gula darah. Disiplin ini mencegah penumpukan lemak, sehingga impian memiliki berat badan ideal saat Hari Raya tetap bisa tercapai dengan sehat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang