Presiden Iran Murka ke Trump Usai Diduga Hina Paus Leo XIV

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengecam pernyataan Donald Trump yang dianggap menghina Paus Leo XIV yang sebelumnya mengkritik tindakan agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Dalam unggahannya di X, Senin waktu setempat, Pezeshkian menyampaikan pesannya kepada Leo XIV  dan menegaskan bahwa dirinya mengutuk penghinaan tersebut. 

"Yang Mulia Paus Leo XIV, saya mengutuk penghinaan terhadap Yang Mulia atas nama bangsa Iran yang agung, dan menyatakan bahwa penodaan terhadap Yesus, nabi perdamaian dan persaudaraan, tidak dapat diterima oleh siapa pun yang menjunjung kebebasan," tulis dia seperti dikutip dari laman presstv.ir, Selasa 14 April 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia juga mendoakan agar pemimpin umat Katolik itu senantiasa mendapat kemuliaan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Pernyataan Pezeshkian ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada hari Minggu melontarkan kritik terhadap Paus Leo XIV karena kecamannya atas agresi AS dan Israel terhadap Iran. Trump bahkan menyatakan dirinya bukan penggemar pemimpin Katolik tersebut.

 “Kami tidak menyukai seorang paus yang mengatakan bahwa memiliki senjata nuklir itu tidak masalah… Ia adalah sosok yang berpandangan bahwa kita tidak seharusnya bermain-main dengan negara yang ingin memiliki senjata nuklir hingga bisa menghancurkan dunia,” kata Trump dalam sesi tanya jawab dengan wartawan di atas pesawat Air Force One.

Trump bahkan tak segan mengatakan dirinya bukan penggemar pemimpin tertinggi umat Katolik tersebut.

“Saya bukan penggemar Paus Leo,” sambung Trump.

Sementara itu, saat berbicara kepada wartawan di dalam penerbangan kepausan menuju Aljazair pada hari Senin, Paus menegaskan bahwa ia akan terus menyuarakan penentangan terhadap perang dan penderitaan.

Pemimpin Gereja Katolik itu menyatakan meskipun ia akan terus menyebarkan pesan perdamaian, ia tidak berminat untuk terlibat dalam perdebatan dengan Trump.

“Saya akan terus bersuara lantang menentang perang, mendorong perdamaian, dialog, dan hubungan multilateral antarnegara demi mencari solusi yang adil atas berbagai masalah. Terlalu banyak orang yang menderita di dunia saat ini… Terlalu banyak orang tak bersalah yang terbunuh. Saya pikir harus ada yang berani berdiri dan mengatakan bahwa ada cara yang lebih baik,” ujarnya.

Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran tanpa provokasi pada 28 Februari. Dalam serangan tersebut, mereka disebut menargetkan berbagai fasilitas, termasuk lokasi nuklir, sekolah, rumah sakit, serta infrastruktur sipil.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selama konflik berlangsung, Angkatan Bersenjata Iran melancarkan sekitar 100 gelombang serangan balasan yang diklaim berhasil menyasar target-target strategis milik Amerika dan Israel di berbagai kawasan.

Mereka juga memblokir Selat Hormuz bagi kapal tanker minyak dan gas yang berafiliasi dengan pihak lawan serta pihak yang bekerja sama dengan mereka, sebagai upaya menjaga keamanan di jalur perairan strategis tersebut.