Top 8+ Fakta Kasus Pedagang Es Gabus Dituduh Pakai Spons: Sempat Ditampar, Hasil Lab Bicara

Suderajat (49), pedagang es gabus di Kemayoran, Jakarta Barat, dituduh menggunakan bahan baku spons untuk mengolah dagangannya.
Tuduhan ini awalnya datang dari warga, yang kemudian melaporkannya ke pihak yang berwajib. Tak lama, aparat pun turun tangan, ikut "menuding" bahwa Suderajat menggunakan spons sebagai bahan baku es gabus.
Kasus ini kemudian viral, terutama setelah uji klinis dilakukan dan dipastikan es gabus milik Suderajat aman dikonsumsi.
Ini beberapa fakta yang perlu diketahui dari kasus ini.
1. Berawal dari laporan warga
Diberitakan, tuduhan itu awalnya berasal dari warga, gara-gara melihat tekstur es habus yang berpori dan kenyal, dan dianggal tak lazim.
Kemudian, seorang warga yang tinggal di Utan Panjang III, Kemayoran, Jakarta Pusat melaporkan dugaan penjualan makanan berbahaya berupa es gabus berbahan spons lewat call center 110 pada Sabtu (24/1/2026).
Laporan tersebut kemudian ditindaklanjuti aparat kepolisian dengan melakukan pemeriksaan terhadap sampel es kue gabus untuk memastikan keamanan pangan.
Dalam video yang viral, tampak dua orang pria berseragam TNI dan Polri yang menuding seorang pedagang es gabus menjajakan jajanan berbahan spons atau busa.
Dalam video itu, pria yang mengenakan kaos bertuliskan polisi di bagian punggungnya itu menjelaskan soal bahan kue dari spons sambil memegang makanan itu di depan pedagangnya yang sudah tua.
"Penjual es kue jadul, yang dulu pernah kita makan. Nah sekarang harap hati-hati bagi orang tua ya, karena ini sudah rekayasa, bukan bahan kue lagi, tapi bahan spons. Ini bisa kita lihat bahan spons dibakar dia meleleh," kata pria berpakaian polisi dalam video yang diunggah.
2. Kronologi polisi datangi pedagang
Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra membenarkan bahwa pihaknya menerima laporan es kue atau es gabus diduga berbahan Polyurethane Foam melalui Call Center 110 pada Sabtu (24/1/2026).
Lalu, anggota Reskrim Polsek Kemayoran langsung mendatangi lokasi pedagang di wilayah Utan Panjang untuk menindaklanjuti laporan tersebut.
“Begitu informasi diterima, kami langsung bergerak cepat melakukan pengecekan ke lokasi. Barang dagangan milik pedagang kami amankan untuk diuji lebih lanjut, karena keselamatan masyarakat adalah prioritas,” kata Roby dalam keterangannya, Minggu (25/1/2026).
Diberitakan Tribun, seluruh barang dagangan itu kemudian diperiksa Tim Keamanan Pangan Dokpol Polda Metro Jaya.
Dari hasil pemeriksaan awal, es kue, es gabus, agar-agar, hingga cokelat meses dipastikan tidak mengandung bahan berbahaya.
“Tim DOKKES telah melakukan pemeriksaan menyeluruh dan hasilnya jelas: Produk tersebut layak dikonsumsi atau tidak mengandung zat berbahaya. Namun untuk menjamin ketenangan publik dan memastikan hasil yang lebih pasti dan ilmiah, kami juga mengirim sampel ke Dinas Kesehatan dan Laboratorium Forensik (Labfor) Polri untuk hasil resmi masih menunggu proses uji,” ucapnya.
Roby menyebut pihaknya juga telah melakukan penyelidikan dengan mendatangi tempat pembuatan es jadul itu di daerah Depok, Jawa Barat.
Hasilnya tetap sama. Polisi tidak menemukan penggunaan bahan spons atau busa untuk membuat es kue jadul tersebut.
3. Suderajat dipulangkan dan diberi Rp 300.000
Kapolres Metro Depok Kombes Pol Abdul Waras memberikan sepeda motor dan modal usaha kepada Suderajat, pedagang es gabus yang dituduh pakai spons, Bojonggede, Kabupaten Bogor, Selasa (27/1/2026).
Setelah dinyatakan aman, Suderajat akhirnya dipulangkan ke rumahnya di Depok.Bahkan, pihak kepolisian juga mengganti uang dagangan yang sempat diamankan untuk keperluan pemeriksaan.
“Kami memahami bahwa pedagang kecil sangat bergantung pada hasil jualan hariannya. Karena itu, sebagai wujud empati, kami mengganti kerugian atas barang dagangan yang harus diuji. Kami ingin memastikan masyarakat terlindungi, tetapi juga tidak ada pihak yang dirugikan,” tuturnya.
Dilansir dari , Selasa, Suderajat mengaku mendapatkan uang ganti sebanyak Rp 300.000
"Dapat uang ganti Rp 300.000 dari polisi, (dikasih) di tempat dan di hari itu juga,” kata Suderajat saat ditemui Kompas.com di rumahnya, Selasa (27/1/2026).
Lebih lanjut, Roby mengimbau masyarakat tidak mudah percaya isu viral yang belum jelas kebenarannya.
4. Suderajat mengaku ditampar dan ditendang
Saat kejadian itu, Sabtu sekitar pukul 10.00 WIB, Suderajat mengaku sudah mencoba memastikan es gabus dagangannya tidak berbahaya dan dibuat dari pabrik rumahan di Depok Lama. Namun, penjelasannya diabaikan, dan ia malah mendapat kekerasan fisik.
Dilansir dari , Suderajat mengatakan, saat itu empat hingga lima orang menghampirinya dengan dalih hendak membeli es gabus. Namun, situasi berubah setelah barang dagangannya dituding menggunakan bahan spons.
“(Yang datang) sekitar lima orang. Saya digampar, ditonjok semua, ditendang,” ucap Suderajat.
Ia mengungkapkan, bahu kirinya dipukul menggunakan benda menyerupai rotan. Selain itu, es gabus yang dijualnya diremas, dihancurkan, lalu dilempar ke arah wajahnya hingga menyebabkan luka gores di pipi yang masih terasa perih.
“(Es gabus) diremes-remes hancur, dibejek. Nih, mata saya jadi sakit nih, ditimpuk sama dia,” ujar Suderajat.
Suderajat juga mengaku ditendang menggunakan sepatu boot hingga barang dagangannya terpental.
Setelah kejadian, Suderajat baru kembali ke rumah pada Minggu (25/1/2026) sekitar pukul 05.00 WIB dengan menaiki KRL Commuter Line arah Bogor. Ia membawa sisa barang dagangan yang telah hancur dan tidak bisa dijual kembali.
5. Aparat minta maaf
Diketahui, petugas yang langsung turun ke lapangan menindaklanjuti pemeriksaan dan membuat video viral adalah anggota TNI selaku Babinsa Kelurahan Utan Panjang dan Bhabinkamtibmas Kelurahan Kampung Rawa.
Bhabinkamtibmas Kelurahan Kampung Rawa, Aiptu Ikhwan Mulyadi menyatakan rasa penyesalan atas sikap kelirunya, serta menyampaikan permohonan maaf kepada si penjual.
"Asslamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Kami, Bhabinkamtibmas dan Babinsa yang bertugas dan membuat video tentang penjual es hunkue yang diduga berbahan spons di wilayah Kemayoran, menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat atas kegaduhan yang timbul akibat video yang sempat beredar luas di media sosial," kata Aiptu Ikhwan dalam keterangannya, Senin (27/1/2026).
Ia menyebut tindakannya itu sebagai bukti hadirnya aparat untuk menjaga keselamatan warga atas laporan yang masuk.
"Kedua, niat kami semata-mata untuk mengedukasi, agar tidak ada konsumen yang dirugikan dan memastikan masyarakat merasa aman dalam membeli makanan di lingkungannya. Dalam situasi tersebut, kami hanya berusaha menjalankan tugas dengan cepat untuk mencegah potensi bahaya," ucapnya.
"Namun demikian, kami menyadari bahwa kami telah menyimpulkan terlalu cepat, tanpa menunggu hasil pemeriksaan ilmiah dari pihak berwenang seperti Dinas Kesehatan, Dokpol, maupun Labfor Polri. Seharusnya proses klarifikasi dan verifikasi dilakukan terlebih dahulu sebelum memberikan informasi kepada masyarakat," sambungnya.
6. Polres Metro Depok beri Suderajat motor
Suderajat (49), pedagang es gabus yang menerima motor dan modal usaha dari Polres Metro Depok seusai viral karena dituduh dagangannya menggunakan spons, Bojonggede, Kabupaten Bogor, Selasa (27/1/2026).
Usai kasus itu viral, Polres Metro Depok memberikan satu unit sepeda motor kepada Suderajat.
Namun, Kapolres Metro Depok Kombes Abdul Waras menegaskan, pemberian sepeda motor dan modal usaha itu bukan sebagai bentuk permintaan maaf institusi kepolisian, melainkan inisiatif pribadi dan kepedulian Polres Depok terhadap warga di wilayah hukumnya.
Abdul menyampaikan, kedatangannya ke rumah Suderajat di Bojonggede, Kabupaten Bogor, pada Selasa (27/1/2026) sore dilakukan sebagai bentuk empati terhadap warga yang terdampak peristiwa viral dugaan penjualan es gabus berbahan spons di Kemayoran, Jakarta Pusat.
“Beliau warga saya, wilayah administrasi masuk Bogor tapi wilayah hukum masuk Polres Depok,” ucap Abdul.
Melalui bantuan berupa satu unit sepeda motor Yamaha Mio dan uang tunai, Abdul berharap Suderajat dapat kembali beraktivitas dan memenuhi kebutuhan keluarganya, khususnya untuk berdagang.
7. Aparat diperiksa Propam
Imbas kejadian itu, Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polres Metro Jakarta Pusat telah memeriksa Aiptu Ikhwan Mulyadi.
Kasatreskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra mengatakan, Propam turun langsung untuk melakukan penyelidikan terkait tindakan aparat yang bersangkutan, termasuk proses pemeriksaan awal yang sempat dilakukan di lapangan.
"Jadi Propam pun sudah melakukan tindakan penyelidikan. Terkait tindak lanjut proses, apalagi sanksi, itu belum bisa kita sampaikan sekarang," katanya, Selasa.
Roby mengonfirmasi hingga kini Aiptu Ikhwan masih bertugas seperti biasa sebagai Bhabinkamtibmas Kelurahan Kampung Rawa.
Ia juga mengakui Aiptu Ikhwan bersama Babinsa Kelurahan Utan Panjang, Kecamatan Kemayoran, Serda Heri Purnomo, melakukan kekeliruan karena terlalu cepat menarik kesimpulan terkait bahan yang terkandung dalam es gabus yang dijual pedagang bernama Suderajat.
8. Pangdam Jaya berharap selesai lewat dialog sejuk
Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) Jaya/Jayakarta Mayjen TNI Deddy Suryadi buka suara soal kasus ini.
Deddy mengatakan, pihaknya telah menemui Suderajat dan melakukan klarifikasi atas insiden yang melibatkan Babinsa Kelurahan Utan Panjang dan Bhabinkamtibmas Kelurahan Kampung Rawa.
Klarifikasi dilakukan untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi di lapangan.
“Adapun langkah-langkah yang telah diambil yaitu berusaha menemui pedagang es atas nama Bapak Suderajat untuk menyelesaikan permasalahan secara kekeluargaan dan melalui jalur dialog yang sejuk,” kata Deddy dalam keterangannya, Selasa (27/1/2026).
Ia menjelaskan, pihak-pihak yang terlibat juga telah melakukan klarifikasi dalam bentuk video yang berlangsung di Aula Polsek Kemayoran pada Senin (26/1/2026) malam.
Deddy menegaskan, hasil uji laboratorium forensik menunjukkan bahwa es gabus berbahan tepung hunkwe yang dijual Suderajat aman untuk dikonsumsi.
Pangdam Jaya berharap persoalan tersebut tidak diperpanjang dan tidak berujung pada konflik berkepanjangan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang