Produsen Es Gabus Suderajat Buka Suara: Spons Itu Lebih Mahal daripada Sagu Aren

Kasus tuduhan pedagang es gabus, Suderajat, menggunakan bahan baku spons, menjadi sorotan banyak pihak.
Hal ini lantaran kasus tersebut melibatkan aparat.
Diberitakan , Jumat (30/1/2026), Komando Distrik Militer (Kodim) 0501/Jakarta Pusat secara resmi menahan Bintara Pembina Desa (Babinsa) Kelurahan Utan Kayu Serda Heri.
Serda Heri ditahan usai menjalani sidang hukuman disiplin militer pada Kamis (29/1/2026), lantaran tersandung kasus dugaan penuduhan pedagang es gabus menggunakan spons.
Meskipun sudah diselesaikan secara kekeluargaan, proses etik tetap berjalan sesuai dengan prosedur yang ada.
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Donny Pramono mengatakan, hukuman tersebut merupakan bentuk tanggung jawab institusi dalam memastikan setiap prajurit menjalankan tugas sesuai norma dan etika keprajuritan.
Produsen es gabus blak-blakan soal cara pembuatan
Buntut kasus itu, produsen es gabus yang produknya dijajakan oleh Suderajat pun buka suara.
Narsumi, pemilik usaha tersebut, mengungkap proses pembuatan es gabus.
Menurut Narsumi, membuat es gabus adalah pekerjaan yang melelahkan. Bahkan lebih melelahkan daripada mengurus bayi.
Hal ini lantaran pembuatan es gabus memakan waktu berjam-jam karena harus mengaduk, membuat adonan, merebus air, mencetak, memasukkan ke kulkas, kemudian membungkus dengan plastik.
"Capeknya setengah mati bikin es gabus, tapi keuntungannya juga enggak ada. Cuma ya ini membantu orang yang menganggur saja," ujarnya.
Narsumi membantah keras tudingan bahwa es gabus buatannya mengandung spons atau Polyurethane Foam (PU Foam). Ia menegaskan tuduhan tersebut tidak berdasar dan bertentangan dengan logika produksi.
“Enggak ada lah (spons). Spons itu lebih mahal daripada sagu aren,” kata Narsumi saat ditemui di Pancoran Mas, Kota Depok, Kamis (29/1/2026).
Narsumi menjelaskan, selama ini ia memproduksi es gabus secara sederhana bersama anggota keluarganya.
Setiap produksi, ia akan mendistribusikannya ke sekitar lima pedagang, termasuk Suderajat yang telah menjadi pelanggannya selama belasan tahun.
“Pak Suderajat itu beli enggak cuma di saya. Kadang di saya, kadang di tempat lain. Dari dulu sampai sekarang juga enggak pernah ada orang keracunan makan es krim,” ujarnya.
Membeberkan bahan baku es gabus
Cetakan es gabus di pabrik rumahan tempat distributor Suderajat (49), pedagang yang dituduh aparat, Pancoran Mas, Kota Depok, Kamis (29/1/2026).
Kepada Suderajat dan pedagang lainnya, Narsumi menjual es gabusnya Rp 500 per buah atau per potong.Menurutnya, harga tersebut sudah disesuaikan dengan modal produksi yang minim.
“Itu kan murah, dari saya Rp 500 satunya. Yang dapat untung gede justru yang jualan,” tuturnya.
Ia menyebut bahan baku es gabus sangat sederhana, yakni sagu aren, gula pasir, vanili, garam, pasta pisang ambon, serta pewarna makanan.
Tantangan utama justru terletak pada proses memasak yang membutuhkan ketelatenan.
“Pembuatannya lama, harus diaduk terus, direbus, dicetak, dibekukan di kulkas, lalu dibungkus plastik. Enggak bisa ditentukan berapa jamnya, pokoknya lama,” jelas Narsumi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang