Polres Metro Jakarta Pusat Dalami Dugaan Penganiayaan Pedagang Es Gabus
Polres Metro Jakarta Pusat mendalami dugaan penganiayaan terhadap pedagang es gabus bernama Suderajat (49).
Pendalaman dilakukan menyusul pengakuan korban di media sosial yang menyebut dirinya mengalami kekerasan fisik saat diamankan aparat.
Peristiwa tersebut terjadi di wilayah Jakarta Pusat dan berkaitan dengan dugaan penjualan es gabus berbahan berbahaya.
Polisi menyatakan akan mengklarifikasi kebenaran informasi tersebut secara menyeluruh.
Polisi Akan Klarifikasi Pengakuan Pedagang Es Gabus
Dilansir dari Antara, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra mengatakan pihaknya akan memeriksa kebenaran pengakuan Suderajat yang beredar di media sosial.
"Kami akan mengklarifikasi apakah yang disampaikan (pedagang es gabus) di media sosial itu benar adanya atau tidak," kata Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra di Jakarta, Selasa.
Menurut Roby, saat menjalani pemeriksaan di Polsek Kemayoran, Suderajat tidak menyampaikan adanya kekerasan fisik yang dialaminya.
Pendalaman Dilakukan Setelah Pengakuan Muncul
Roby menjelaskan, kepolisian baru memperoleh informasi dugaan penganiayaan tersebut setelah muncul pengakuan di luar proses pemeriksaan resmi.
Karena itu, penyelidikan lanjutan akan dilakukan untuk menelusuri apa yang sebenarnya dialami Suderajat saat diamankan.
"Kami pun baru dapat informasi karena kemarin kita belum dapat info selama pemeriksaan di Polsek Kemayoran, Pak Suderajat tidak menyampaikan adanya informasi mendapat penganiayaan," ujarnya.
Ia menegaskan, pendalaman dilakukan dengan penuh kehati-hatian agar tidak terjadi kesalahan serupa di kemudian hari.
Roby memastikan proses pendalaman juga mencakup evaluasi terhadap tindakan petugas di lapangan.
Langkah tersebut diambil untuk mencegah pengulangan tindakan yang berpotensi
menimbulkan persoalan hukum maupun pelanggaran prosedur.
Ia menekankan pentingnya kehati-hatian dalam penanganan laporan masyarakat, terutama yang menyangkut dugaan pelanggaran kesehatan dan keamanan pangan.
Aparat Akui Terlalu Cepat Menyimpulkan
Sebelumnya, anggota TNI dan Polri yang bertugas di Kelurahan Kampung Rawa, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat, mengakui telah terlalu cepat mengambil kesimpulan.
Akibatnya, pedagang es gabus sempat diamankan karena komoditas yang dijual diduga mengandung bahan berbahaya seperti polyurethane foam (PU Foam) atau material busa kasur maupun spon cuci.
"Kami di lapangan telah menyimpulkan terlalu cepat, tanpa menunggu hasil pemeriksaan ilmiah dari pihak berwenang seperti Dinas Kesehatan, Dokpol, maupun Labfor Polri," kata Bhabinkamtibmas Kelurahan Kampung Rawa, Polres Metro Jakarta Pusat Aiptu Ikhwan Mulyadi dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Atas peristiwa tersebut, Ikhwan menyampaikan permohonan maaf kepada Suderajat sebagai pihak yang terdampak langsung.
Ia memastikan tidak ada niat untuk merugikan ataupun mencemarkan nama baik pedagang yang bersangkutan.
Suderajat, Pedagang Es Gabus Mengaku Dianiaya
Sebelumnya diberitakan , Suderajat, pedagang es gabus asal Depok, mengaku mengalami luka gores di pipi dan nyeri pada bahu setelah dianiaya akibat tuduhan bahwa es gabus yang dijualnya terbuat dari spons.
Peristiwa bermula sekitar pukul 10.00 WIB ketika sekelompok orang menghampiri Suderajat dengan dalih ingin membeli es gabus.
“Iya, (es gabus) diremas-remas jadi hancur. Dibejek-bejek, ini dekat mata saya jadi sakit karena disabet kena timpukan es sama dia,” ucap Suderajat saat ditemui Kompas.com, Selasa (27/1/2026).
Ia juga mengaku sempat ditendang hingga tubuhnya terasa lemas. Upaya klarifikasi bahwa es gabus yang dijualnya merupakan produk asli pun tidak membuahkan hasil. Suderajat mengaku terus disudutkan hingga tidak berdaya.
“Saya bilang ini es kue yang asli. Saya bilang bukan tapi mereka bilang es spons,” ungkap Suderajat.
Usai kejadian, Suderajat pulang tanpa menerima permintaan maaf maupun uang ganti rugi sebesar Rp 300.000 atas barang dagangannya yang rusak.
Hingga kini, ia mengaku belum kembali berjualan selama tiga hari karena trauma dan khawatir mengalami kejadian serupa.
“Sudah tiga hari belum jualan, gara-gara kejadian hari Sabtu ya begini, takutnya saya dikeroyokin pas ke Kemayoran,” jelasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang