Pengakuan Membingungkan Pedagang Es Kue Jadul Soal Biaya Sekolah Anaknya, Bikin Gregetan Dedi Mulyadi
Pedagang es kue jadul, Sudrajat yang viral di media sosial kembali menuai sorotan pengguna media sosial. Kali ini, Sudrajat diketahui berbohong kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi terkait dengan pendidikan anaknya.
Dalam saluran YouTube Kang Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat itu sempat berbincang dengan Sudrajat di mobilnya yang menuju Karawang. Saat itu, Sudrajat mengaku tengah banyak pikiran hingga membuat tubuhnya kurus.
Saat ditanya oleh KDM, sapaan sang Gubernur, Sudrajat mengaku tengah memikirkan tentang biaya pendidikan anaknya. Disebut Sudrajat dirinya belum membayar iuran sekolah anaknya dan kontrakannya. Mendengar itu, KDM sempat terkejut sebab, seharusnya biaya pendidikan sekolah dasar terutama sekolah dasar negeri tidak lagi dipungut biaya.
“SD dipikiran kan sekolah kagak bayar kalau SD,” kata KDM dikutip dari saluran YouTubenya, Jumat 30 Januari 2026.
“Di Citayam bayar,” sahut Sudrjat.
KDM langsung menyecar Sudrajat. Dia meminta konfirmasi dimana anaknya itu mengenyam pendidikan sekolah. Sebab sudah seharusnya anak Sudrajat tidak lagi dimintai biaya sekolah. Namun saat ditanyai di sekolah mana anaknya belajar, Sudrajat beberapa kali terdengar linglung. Dia hanya menyebut bersekolah di SD Negeri di Citayam.
“Loh bilang sama bupati Bogor. Bapak bayar apa? SD Negeri? SD apa namanya,” kata KDM.
“SD Negeri deket di Citayam, katanya masuk bayar,” kata Sudrajat.
“Nanti saya telfon Bupati Bogor kalau SD, SMP kewenangannya bupati. Nanti saya tanya bener nggak itu Sdnya bayar. Bapak sebutin bapak bayar apa di SD itu?,” tanya KDM lebih lanjut.
“Masuknya bayar, semuanya bayar,” kata Sudrajat.
KDM yang mendengar itu kemudian meminta rincian biaya yang harus dikeluarkan oleh Sudrajat untuk anaknya. Disebut Sudrajat dia harus mengeluarkan uang senilai Rp 200 ribu setiap bulannya. Mendengar itu, KDM mempertanyakan apakah benar anak Sudrajat bersekolah di sekolah dasar negeri atau bukan. Namun lagi-lagi Sudrajat memberikan jawaban yang tak jelas.
“Masa sih bayar, swasta kali?,” tanya KDM.
“Iya swasta bayar,” kata Sudrajat.
“Swasta ya bayar. Sekarang ini kalau SD dan SMP swasta itu wajib tidak bayar karena ada keputusan Mahkamah Konstitusi. Nanti saya tanyain ke bupatinya deh,” jelas KDM.
Tak kunjung memberikan nama sekolah anaknya menimba ilmu, Sudrajat masih terus mengeluhkan biaya pendidikan anaknya.
“Rapot semua bayar, masa rapot bayar? Semua bayar,” kata Sudrajat.
“Makanya saya cek, nama SDnya apa. Nanti saya telfon bupatinya, bapak harus jelas dulu SD-nya SD mana,” kata KDM.
“SD Citayam pak, deket madrasah di bawahnya. Iya SD Madrasah,” kata Sudrajat.
“Bapak anaknya SD atau madrasah?,”tanya KDM lagi.
“SD tauk namanya SD apa,” kata Sudrajat.
“Bapak anak sendiri masa nggak tau nama sekolah. Gimana bapak. Bapak ingetin dulu sekolah apa namanya ya. Walaupun swasta bagi masyarakat tidak mampu harus gratis,” kata KDM.
Ternyata Anaknya.....
Di hari berikutnya, Sudrajat terlihat datang bersama dua anaknya dan kepala RW wilayahnya bertemu dengan KDM. Di saat itu diketahui bahwa anak Sudrajat tidaklah bersekolah di Sekolah Dasar Negeri melainkan di Madrasah. Hal ini sempat membuaat KDM terdengar gregetan dengan pernyataan Sudrajat sebelumnya.
“Kemarin kata babe sekolah negeri,” kata KDM.
“Tapi bayar,” sahut Sudrajat.
KDM kemudian menyebut bahwa wajar jika sekolah swasta meminta iuran kepada peserta didik. Namun saat ini berdasarkan keputusan Mahkamah Konstitusi biaya pendidikan dasar yang mencakup SD dan SMP baik negeri maupun swasta sudah tidak lagi dipungut biaya.
“Kan aku ngomong sama babeh nih. Saya bilang sama babeh pasti itu sekolahnya swasta makanya bayaran. Ya sekolah swasta makanya bayar,” kata KDM.
“Dikit dikit duit dikit dikit bayar,” sahut Sudrajat.
“Ya namanya sekolah swasta. Tapi sekarang masyrakat itu mau di negeri mau di swasta kalau pendidikanya dasar SD, SMP itu seharusnya gratis karena ada keputusan Mahkamah Konstitusi. Kalau belum gratis saya urus ke pemkab Bogornya,” kata KDM.