Kegemaran Warga Jabar Konsumsi Aci-acian Disorot, Ini Kata Ahli Gizi

cireng, cimol, cilok, Cireng, Makanan Aci, Kegemaran Warga Jabar Konsumsi Aci-acian Disorot, Ini Kata Ahli Gizi, Pola Makan Aci-acian Banyak Ditemukan pada Keluarga dengan Anak Stunting, ITB menilai Camilan Aci perlu Ditingkatkan Gizinya, Riset Pangan Butuh Waktu Panjang dan Regulasi Adaptif, Dinkes Bandung Awasi Pangan dari Hulu ke Hilir

Kegemaran masyarakat Jawa Barat, khususnya warga Bandung, mengonsumsi makanan berbahan aci-acian seperti cireng, cimol, dan cilok menjadi sorotan ahli gizi karena dinilai berpotensi memicu masalah gizi bila tidak diimbangi asupan lain.

Kesadaran masyarakat pada pangan bergizi disebut masih perlu ditingkatkan di tengah ketidakseimbangan gizi yang meliputi obesitas, kekurangan gizi umum, hingga stunting.

Pemerintah Kota Bandung bersama akademisi ITB menilai pola makan tinggi aci tanpa variasi gizi lain dapat memperparah persoalan malnutrisi yang masih terjadi di Indonesia.

Pola Makan Aci-acian Banyak Ditemukan pada Keluarga dengan Anak Stunting

Plt Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Kesehatan Kota Bandung Dewi Primasari mengungkap kecenderungan warga memilih makanan berbahan dasar aci, terutama pada keluarga yang memiliki anak stunting.

Dewi menyebut cireng, cimol, dan cilok masih dapat menjadi sumber karbohidrat, tetapi sering dikonsumsi tanpa memperhatikan keseimbangan gizi.

"Itu boleh, hanya tadi prinsip kesimbangan dipenuhi juga sumber proteinnya, sumber sayur serat mineralnya. Masyarakat kita itu ingin mudahnya saja. Kan udah makan cilok satu mangkok kenyang tapi dia gak peduli nilai gizinya," ujarnya.

Dewi menekankan Indonesia sedang menghadapi triple burden malnutrition berupa kekurangan gizi, kelebihan berat badan, dan defisit zat gizi mikro secara bersamaan.

Anemia masih ditemukan pada sekitar sepertiga remaja, ibu hamil, hingga orang dewasa sehingga pola makan seimbang dinilai menjadi kebutuhan mendesak.

Pemkot Bandung menerbitkan Peraturan Wali Kota Nomor 6 Tahun 2025 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat yang menekankan pola makan sehat, aktivitas fisik, dan perilaku tidak merokok.

cireng, cimol, cilok, Cireng, Makanan Aci, Kegemaran Warga Jabar Konsumsi Aci-acian Disorot, Ini Kata Ahli Gizi, Pola Makan Aci-acian Banyak Ditemukan pada Keluarga dengan Anak Stunting, ITB menilai Camilan Aci perlu Ditingkatkan Gizinya, Riset Pangan Butuh Waktu Panjang dan Regulasi Adaptif, Dinkes Bandung Awasi Pangan dari Hulu ke Hilir

DKST ITB menghadirkan Innovibes vol 4 yang mengusung tema Empowering Healthy Lives Through Food Innovation di ITB Innovation Park, Kota Bandung, Jumat (21/11/2025).

ITB menilai Camilan Aci perlu Ditingkatkan Gizinya

Dosen FTI ITB Prof Dr Made Tri Ari Penia Kresnowati mengatakan Bandung dikenal kreatif mengolah jajanan berbahan aci, tetapi produk aci ini punya tantangan besar dari sisi kandungan gizi.

"Kita sangat mengenal cireng cimol segala macam, nah ini mungkin tantangan besar mengemas 'ci-ci' itu menjadi suatu yang punya gizi lebih," katanya.

Tri menilai variasi pangan bergizi alternatif perlu diperbanyak agar masyarakat memiliki pilihan camilan dan makanan yang lebih sehat.

"Variabilitinya ini memang kita perlu banyak sekali menyajikan produk-produk alternatif dan ini menjadi peluang, karena itu berarti banyak usaha dan riset yang bisa dikembangkan, tapi peluangnya ya perlu effort besar juga," katanya.

Tri mendorong pemanfaatan bahan pangan lokal agar masyarakat tidak fanatik pada satu jenis makanan dan bisa mengoptimalkan sumber karbohidrat serta protein lain seperti singkong, ubi, dan komoditas lokal lain.

"Dengan mengonsumsi beragam pangan dari berbagai bahan lokal, kecukupan gizi masyarkat akan lebih baik."

Tri menilai diversifikasi pangan juga dapat mendorong pertumbuhan petani dan industri pengolahan karena permintaan bahan baku menjadi lebih beragam.

"Petani berkembang karena banyak yang ditanam dan terserap, industri pengolahan juga berkembang karena produk tidak hanya satu jenis. Mungkin kita bisa bergandengan tangan di situ," jelasnya.

cireng, cimol, cilok, Cireng, Makanan Aci, Kegemaran Warga Jabar Konsumsi Aci-acian Disorot, Ini Kata Ahli Gizi, Pola Makan Aci-acian Banyak Ditemukan pada Keluarga dengan Anak Stunting, ITB menilai Camilan Aci perlu Ditingkatkan Gizinya, Riset Pangan Butuh Waktu Panjang dan Regulasi Adaptif, Dinkes Bandung Awasi Pangan dari Hulu ke Hilir

Ilustrasi menggoreng cireng dilakukan dua tahap agar hasilnya kopong dan tak mudah kempis.

Riset Pangan Butuh Waktu Panjang dan Regulasi Adaptif

Tri mengingatkan riset pangan tidak bisa instan, sementara tren produk pangan di masyarakat cenderung cepat berubah sehingga inovasi perlu bergerak dinamis.

"Riset itu tidak ada yang instan. Prosesnya panjang," ujarnya.

Tri menjelaskan tahapan riset pangan mencakup bahan baku, produk antara, hingga produk akhir, lalu tantangan terbesar justru berada pada produk antara seperti ragi dan emulsifier yang masih banyak diimpor.

Tri menilai strategi riset perlu disusun sesuai karakter setiap tahapan, termasuk mempercepat inovasi produk akhir yang umur trennya pendek.

"Jadi kita perlu berstrategi, mana yang effortnya lebih karena jangka panjang, mana yang effortnya harus lebih cepat untuk mengejar umurnya yang lebih pendek ini," ucapnya.

Tri menegaskan standar utama produk pangan bagi generasi sekarang tetap pemenuhan gizi, baik dari sisi jumlah maupun keseimbangan komponen.

"Bagaimana rasa ini harus dikemas sedemikian rupa agar sesuai dengan lidah nya, tapi jangan sampai mengabaikan kebutuhan gizinya ,baik keseimbangan komponen gizi, maupun jumlah gizinya," tuturnya.

Dosen SITH ITB Kamarisima menambahkan riset produk pangan membutuhkan proses panjang karena melibatkan banyak faktor yang berangkat dari kebutuhan masyarakat dan industri.

Kamarisima menilai percepatan inovasi pangan kerap terhambat kesiapan regulasi, terutama untuk produk berbasis biowaste atau bioteknologi.

"Produk berbasis biowaste atau bioteknologi regulasinya masih terbatas. Kadang semuanya dipukul rata tidak baik, padahal ada klasifikasinya. ini jadi barrier untuk inovasi masuk ke pasar," uar Kamarisima.

Kamarisima menekankan edukasi diperlukan bukan hanya bagi konsumen, tetapi juga regulator agar mampu mengikuti perkembangan produk makanan sehat berbasis probiotik atau fermentasi.

"Edukasi itu perlu untuk regulator agar mengenali bagaimana perkembangan zaman terkait makanan sehat, probiotik atau produk fermentasi," ujarnya.

Dinkes Bandung Awasi Pangan dari Hulu ke Hilir

Dewi mengatakan Dinas Kesehatan Kota Bandung melakukan pengawasan pangan dari proses pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan ke masyarakat.

"Kami bekerja sama dengan Dinas Ketahanan Pangan untuk memastikan bahan baku aman. Dinkes mulai dari proses pengolahan sampai distribusi."

Pengawasan disebut dilakukan puskesmas melalui tenaga nutrisionis dan sanitarian yang memeriksa kelayakan fasilitas produksi makanan.

"Pengawasannya dilakukan oleh puskesmas melalui tenaga nutrisionis dan sanitarian, tenaga kesehatan lingkungan," kata Dewi.

Dewi menyebut pengawasan rutin dilakukan di pasar, katering, sekolah, hingga pedagang kaki lima, lalu pembinaan diberikan bila ditemukan ketidaksesuaian standar keamanan dan kelayakan pangan.

Sebagian artikel ini telah tayang di KOMPAS.com dengan judul .

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.