Dedi Mulyadi Pastikan Pemprov Jabar Jemput Warga Cirebon Korban Pengantin Pesanan di China

pengantin pesanan, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, Dedi Mulyadi Pastikan Pemprov Jabar Jemput Warga Cirebon Korban Pengantin Pesanan di China

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memastikan pemerintah provinsi akan membantu proses pemulangan Vina (27), warga Kabupaten Cirebon yang diduga menjadi korban praktik pengantin pesanan di China.

Kepastian itu disampaikan setelah kasus tersebut viral di media sosial dan memicu perhatian publik.

Gubernur menyatakan telah berkomunikasi langsung dengan pemerintah kabupaten setempat untuk menindaklanjuti laporan dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) berkedok pernikahan.

“Hari ini ada warga Cirebon menjadi korban penjualan orang di China, dan saya sudah berkomunikasi. Nanti ditangani dan akan dijemput,” kata Dedi dalam keterangannya di Cirebon, Sabtu (28/2/2026) malam dikutip dari Antara.

Apa Langkah Pemprov Jawa Barat?

Pemerintah Provinsi akan berkoordinasi dengan sejumlah pihak guna memastikan keselamatan korban serta kelancaran proses pemulangan ke Indonesia. Koordinasi tersebut mencakup instansi pusat maupun perwakilan diplomatik di luar negeri.

Menurut Dedi, praktik pengantin pesanan kerap memanfaatkan janji uang maupun janji dinikahi dengan mahar tinggi untuk membujuk korban.

Ia meminta pemerintah kabupaten/kota dan aparat desa meningkatkan pengawasan serta edukasi kepada masyarakat.

“Banyak sekali perempuan Jabar ini yang mudah terbujuk oleh janji uang dan janji dinikahi dengan mahar yang mahal,” ujarnya menyayangkan.

Bagaimana Pengakuan Vina?

Sebelumnya, video berdurasi 59 detik yang diterima Kompas.com memperlihatkan Vina memohon bantuan agar bisa kembali ke tanah air. Dalam rekaman tersebut, ia mengaku menjadi korban TPPO dengan modus pengantin pesanan.

“Saya memohon dengan sangat kepada Gubernur Jawa Barat Pak Dedi Mulyadi, tolong bantu saya agar bisa kembali ke tanah air. Saya ingin kembali ke rumah, tolong bantu saya, Pak,” kata Vina dalam video yang beredar, Sabtu (28/2/2026) siang.

Vina mengaku sejumlah dokumen penting miliknya ditahan sehingga ia kesulitan untuk kembali. Selain itu, ia menyebut beberapa kali mengalami dugaan kekerasan fisik apabila tidak menuruti keinginan pihak yang diduga terlibat.

Ia juga mengungkapkan sempat melakukan panggilan video dengan Dedi Mulyadi.

“Pak Gubernur sempat memarahi saya, kenapa mau menikah dengan orang yang belum sangat dikenal. Saya memahami dan memang saya salah. Selain itu, Pak Gubernur juga meminta banyak informasi dari saya,” kata Vina saat dihubungi Sabtu petang.

Menurut Vina, teguran tersebut ia anggap sebagai bentuk kepedulian. Ia berharap informasi yang telah disampaikan dapat membantu proses pemulangannya.

Apa Kendala Hukum yang Dihadapi?

Kuasa hukum keluarga Vina, Asep Maulana Hasanudin dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Garuda Sakti, mengatakan keluarga telah mengadukan kasus ini ke Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Kedutaan Besar Republik Indonesia, serta polisi.

Namun, menurut Asep, terdapat kendala karena pernikahan Vina dengan pria asal China tersebut telah tercatat dan buku nikahnya terbit secara hukum di negara setempat.

“Kendalanya karena buku nikah sudah terlanjur terbit sehingga dianggap sah secara hukum di sana. Tapi kami yakin pemerintah dapat membantu Vina agar dapat kembali pulang,” kata Asep.

Ia menyebut hingga kini kondisi psikologis Vina masih belum stabil dan merasa ketakutan.

Bagaimana Awal Perkenalan Vina?

Asep menjelaskan, awal perkenalan Vina dengan pria tersebut terjadi saat korban bekerja di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.

Ia dikenalkan oleh seorang perantara dan dijanjikan kehidupan yang lebih baik melalui pernikahan.

Beberapa kali calon suami bersama rekannya datang ke rumah keluarga Vina di Cirebon untuk proses lamaran. Setelah itu, Vina diberangkatkan ke China pada awal Agustus 2025.

Namun setibanya di sana, komunikasi dengan keluarga mulai berubah. Hingga akhirnya, muncul video pengakuan yang kini viral dan memicu perhatian luas masyarakat.

Keluarga berharap pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Luar Negeri, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, serta instansi terkait, dapat segera memberikan perlindungan maksimal dan membantu proses pemulangan Vina.

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "".

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang