Benarkah Skin Booster Bikin Ketergantungan? Begini Kata Ahli
Perkembangan dunia aesthetic medicine dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pergeseran tren yang signifikan. Jika sebelumnya perawatan kecantikan identik dengan perubahan drastis, kini fokus beralih pada peningkatan skin quality atau kualitas kulit secara menyeluruh.
Gaya hidup modern yang dinamis mendorong masyarakat untuk mencari solusi yang mampu memberikan tampilan kulit sehat, lembap, dan bercahaya tanpa mengganggu aktivitas harian. Scroll lebih lanjut yuk!
Salah satu perawatan yang tengah populer adalah skin booster. Perawatan ini dikenal mengandung kombinasi nutrisi penting seperti asam amino, vitamin, dan mineral yang berfungsi meningkatkan hidrasi sekaligus memperbaiki kondisi kulit dari dalam.
Berbeda dengan metode konvensional, teknik aplikasi terbaru seperti babyGLOW hanya memerlukan delapan titik injeksi, sehingga prosedurnya menjadi lebih efisien, relatif nyaman, dan minim waktu pemulihan (downtime).
Pendekatan ini memungkinkan pasien mendapatkan hasil kulit yang tampak lebih segar, lembap, dan bercahaya secara alami. Tidak hanya itu, perawatan ini juga dinilai sejalan dengan kebutuhan masyarakat modern yang menginginkan hasil optimal tanpa harus menghentikan rutinitas sehari-hari.
Namun, di tengah popularitasnya, muncul pertanyaan yang kerap menjadi kekhawatiran: apakah skin booster dapat menyebabkan ketergantungan? Menanggapi hal tersebut, Dr. Henry Tanojo, SpDVE, FINSDV memberikan penjelasan yang menenangkan.
“Dalam hal negatif, saya rasa tidak. Tapi kalau dalam hal yang positif saya rasa iya karena hasilnya baguts dan itu kembali lagi kepada pasien,” kata Dr. Henry Tanojo, SpDVE, FINSDV, dalam acara Konferensi Pers Teoxane babyGLOW oleh PT Parvus Medica Indonesia bersama Teoxane bLaboratories, di Jakarta, Minggu 26 April 2026.
Pernyataan ini menegaskan bahwa ketergantungan yang dimaksud bukanlah dalam arti medis atau adiktif, melainkan lebih kepada preferensi pasien yang merasa puas dengan hasil perawatan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa perawatan topikal seperti skincare umumnya bekerja di lapisan permukaan kulit. Tetapi, untuk meraih lapisan kulit yang lebih dalam perawatan seperti skin booster lebih dibutuhkan.
“Ada beberapa poin pada skincare yang berhasil memperbaiki permukaan kulit, tapi di titik lebih dalam itu membutuhkan peran skin booster,” jelas Dr. Henry Tanojo.
Artinya, skin booster memiliki peran komplementer untuk menjangkau lapisan kulit yang lebih dalam, sehingga hasil yang didapatkan menjadi lebih optimal.
Perawatan ini juga dinilai fleksibel dan dapat digunakan oleh berbagai jenis kulit.
“Ini adalah pilihan yang baik untuk berbagai jenis kulit, untuk memperbaiki kualitas kulit,” jelasnya.
Dengan pendekatan yang bersifat regeneratif, skin booster membantu memperbaiki kondisi kulit secara bertahap, bukan instan.
Meski demikian, penting untuk dipahami bahwa hasil dari skin booster tidak bersifat permanen. Perawatan ini merupakan bagian dari perjalanan jangka panjang dalam menjaga kesehatan kulit.
“Hasilnya bertahap dan membutuhkan perawatan rutin serta maintenance seiring proses penuaan alami. Oleh karena itu, teknik yang lebih praktis dan minim downtime menjadi penting agar pasien dapat menjalani perawatan secara konsisten,” jelas Dr. Henry Tanojo.
Dengan demikian, anggapan bahwa skin booster menyebabkan ketergantungan sebenarnya perlu diluruskan. Perawatan ini tidak menimbulkan efek adiktif, melainkan mendorong konsistensi dalam merawat kulit. Seperti halnya pola hidup sehat, hasil terbaik hanya dapat dicapai melalui perawatan yang berkelanjutan dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu.