Usai Macan Tutul Lepas, BBKSDA Jabar: Hewan Tak Agresif, Warga Tangkuban Parahu Diingatkan Tetap Tenang

gunung tangkuban parahu, BBKSDA Jabar, macan tutul lepas, macan tutul lepas di Lembang Park and Zoo, Usai Macan Tutul Lepas, BBKSDA Jabar: Hewan Tak Agresif, Warga Tangkuban Parahu Diingatkan Tetap Tenang

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat memastikan seekor macan tutul kabur dari kandang karantina pada Kamis (28/8/2025) dari Lembang Park & Zoo kini telah memasuki kawasan hutan lindung di kaki Gunung Tangkuban Parahu.

Dengan temuan jejak kaki dan kesaksian warga, tim akhirnya menghentikan pencarian intensif dan beralih ke pemantauan jarak jauh.

Koordinator Tim Pencarian BBKSDA Jabar, Ujang Acep, menyebut macan tutul tersebut diduga kuat sudah bergerak ke arah hutan Gunung Tangkuban Parahu.

"Daya jelajah macan tutul bisa mencapai 400 hektare. Kalau sudah dua hari lebih, kemungkinan besar sudah cukup jauh masuk ke hutan. Kami simpulkan macan tutul sudah mengarah ke kaki Gunung Tangkuban Parahu," kata Ujang dalam keterangan di Bandung, Minggu (7/9/2025) dikutip dari Antara.

Pencarian sempat dilakukan dengan bantuan drone thermal yang diterbangkan setiap malam. Namun satwa predator berusia tiga tahun itu terus lolos dari kejaran tim.

Sejumlah jejak kaki dan suara gonggongan anjing peliharaan warga turut memperkuat dugaan bahwa satwa ini sudah kembali ke habitat alaminya.

Apakah macan tutul berbahaya bagi warga?

Ujang mengimbau masyarakat agar tidak panik. Menurutnya, macan tutul cenderung menghindari manusia dan tidak agresif.

"Masyarakat tidak perlu waswas. Macan tutul tidak agresif menyerang, justru selalu mencari celah untuk bersembunyi dan menghindar," ujarnya.

Meski begitu, masyarakat di sekitar hutan diminta tetap waspada. Laporan warga mengenai pergerakan satwa ini menjadi salah satu indikator penting bagi tim BBKSDA untuk menentukan langkah lanjutan.

Mengapa pencarian dihentikan?

Kepala BBKSDA Jawa Barat, Agus Arianto, menjelaskan bahwa pencarian intensif dihentikan karena satwa itu sudah kembali ke kantong habitatnya.

"Kalau pencarian istilahnya bukan dihentikan sebetulnya, tapi kita memantau saja. Kita tidak mencari lagi karena kan hutan sudah masuk ke kantong habitat dari macan tutulnya," ungkap Agus, Sabtu (6/9/2025).

Dengan masuknya macan tutul ke hutan lindung, BBKSDA menilai upaya penelusuran langsung tidak lagi relevan.

Fokus kini bergeser pada pemantauan jarak jauh dan menunggu laporan dari masyarakat. Tim lapangan tetap disiagakan, meski jumlahnya dikurangi.

Bagaimana respons Lembang Park & Zoo?

Pihak Lembang Park & Zoo memastikan perawatan satwa tetap berjalan meskipun kawasan wisata ditutup sementara.

"Walaupun terpaksa tutup, perawatan, penjagaan, dan pakan satwa tetap terjaga dengan baik," ujar Humas Lembang Park & Zoo, Miftah Setiawan.

Ia menambahkan, kejadian kaburnya macan tutul dijadikan bahan evaluasi menyeluruh terhadap keamanan kandang.

"Pascakejadian ini akan kami jadikan bahan evaluasi safety awareness agar peristiwa serupa tidak terulang," kata Miftah.

Pengelola juga terus melakukan patroli rutin di dalam area kebun binatang untuk memastikan keamanan sebelum dibuka kembali untuk pengunjung.

Pembukaan kembali kawasan wisata ini masih menunggu arahan resmi dari pemerintah daerah dan laporan hasil pemantauan tim BBKSDA.

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul ".

Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.