Profil Pakubuwono XIII dalam Jejak Sejarah Keraton Solo
Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat berduka. Sri Susuhunan Pakubuwono XIII mangkat pada Minggu pagi (2/11/2025) di usia 77 tahun.
Kabar berpulangnya PB XIII disampaikan pihak keraton sekitar pukul 07.30 WIB.
PB XIII lahir dengan nama lengkap Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Hangabehi pada 28 Juni 1948 di Surakarta.
Ia merupakan putra tertua dari Sri Susuhunan Pakubuwono XII.
Pakubuwono XIII naik takhta pada 10 September 2004, didampingi Permaisuri Gusti Kanjeng Ratu Pakubuwono.
Pernikahan PB XIII dengan GKR Pakubuwono dikaruniai seorang putra, KGPH Purbaya, yang kemudian ditunjuk sebagai putra mahkota pada upacara Jumenengan ke-18 tahun 2022.
Masa muda Pakubuwono XIII
Menurut keterangan kerabat, PB XIII semasa kecil sering sakit-sakitan, sehingga namanya sempat diubah menjadi GRM Suryo Partono.
Sejak muda, beliau menunjukkan minat besar terhadap kebudayaan dan sejarah Keraton Solo.
PB XIII aktif di berbagai bidang budaya, termasuk menjabat sebagai Pangageng Museum Keraton Surakarta, sehingga terlibat langsung dalam pelestarian pusaka dan arsip sejarah Kasunanan.
Saat terjadi kebakaran besar di keraton pada 1985, beliau turun tangan langsung memimpin penanganan krisis dan menyelamatkan banyak pusaka penting.
Sebelum naik tahta, PB XIII sempat bekerja di Caltex Pacific Indonesia di Riau, lalu menetap di Jakarta.
Ia juga dikenal gemar musik dan teknologi, serta aktif di Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI).
Kepemimpinan dan pelestarian budaya
Sebagai raja, Pakubuwono XIII dikenal tegas, rendah hati, dan konsisten melestarikan tradisi Jawa.
Beliau menjaga keberlangsungan upacara adat besar seperti Grebeg, Sekaten, Labuhan, Kirab Malam 1 Suro, hingga Tingalan Dalem Jumenengan.
PB XIII berupaya membuka Keraton Solo agar lebih dekat dengan publik, tanpa mengurangi kesakralan nilai-nilai leluhur.
Ia juga memperkuat kerja sama dengan lembaga kebudayaan internasional dan menerima gelar Doktor Kehormatan dari Global University (GULL), Amerika Serikat, sebagai pengakuan atas perannya dalam pelestarian budaya Jawa.
Upacara Tingalan Dalem Jumenengan ke-21 yang digelar pada 25 Januari 2025 di Sasana Sewaka menjadi momen penting, menandai dua dekade kepemimpinannya sekaligus pengingat warisan budaya yang ia jaga.
Pernikahan Pakubuwono XIII
PB XIII menikah beberapa kali. Pernikahan pertama dengan Kanjeng Raden Ayu Endang Kusumaningdyah dikaruniai tiga putri: GKR Timoer, GRA Devi Lelyana Dewi, dan GRA Dewi Ratih Widyasari.
Pernikahan kedua dengan Kanjeng Raden Ayu Winari Sri Haryani dikaruniai seorang putra, KGPH Mangkubumi, dan dua putri, yaitu GRA Sugih Oceania dan GRA Putri Purnaningrum.
Pernikahan terakhir dengan Permaisuri GKR Pakubuwono XIII Hangabehi dikaruniai seorang putra, GRM Suryo Aryo Mustiko (KGPH Purbaya), yang kemudian menjadi putra mahkota.
Meski penunjukan putra mahkota sempat menuai polemik, PB XIII berusaha menjaga transisi kepemimpinan agar berjalan damai.
Warisan dan penghormatan publik untuk Pakubuwono XIII
PB XIII dikenal sebagai penjaga tradisi dan budaya Jawa yang tegas, tetapi rendah hati.
Ia memimpin berbagai upacara adat, menjadikan keraton sebagai simbol sakral kekuasaan keraton.
Di bawah kepemimpinannya, Keraton Solo dijadikan ruang dialog budaya antara tradisi dan masyarakat modern.
Ia membuka keraton agar lebih dekat dengan publik, tetapi tetap menjaga kesakralan nilai-nilai leluhur.
PB XIII wafat di RS Indriati Solo Baru sekitar pukul 07.29 WIB.
R.Ay Febri Hapsari Dipokusumo, adik iparnya, mengonfirmasi kepergian beliau.
Jenazah PB XIII disemayamkan di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat sebelum akan dimakamkan di Kompleks Makam Raja-raja Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta.
Kerabat keraton, KPH Eddy Wirabhumi, menyebut pemakaman kemungkinan digelar pada Rabu (5/11/2025).
Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “”.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.