Sejarah Benteng Pendem Ambarawa, Jejak Kolonial Belanda di Tanah Jawa

Benteng Pendem Ambarawa, Sejarah Benteng Pendem Ambarawa, Sejarah Benteng Pendem Ambarawa, Jejak Kolonial Belanda di Tanah Jawa

Benteng Pendem Ambarawa atau Fort Willem 1, kini sudah dibuka lagi sejak Sabtu (15/11/2025) setelah tutup sementara karena revitalisasi oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

Benteng ini sekarang lebih bagus. Wisatawan bisa berkunjung ke lantai dua dan mengeksplorasi bagian-bagian benteng tanpa harus berjalan di jalan tanah yang becek.

Adapun benteng ini adalah saksi bisu berbagai peristiwa penting, mulai dari masa Perang Diponegoro, pendudukan Jepang, hingga awal kemerdekaan Indonesia.

Dibangun di jalur strategis tiga kota

Dilansir dari (27/8/2021), Ambarawa sejak lama memiliki posisi strategis karena berada di jalur pertemuan tiga kota besar, yakni Semarang, Magelang, dan Salatiga.

Ambarawa juga berada di tengah-tengah jalur yang menghubungkan Kasultanan Mataram dan Yogyakarta dengan Semarang di utara.

Oleh karena itu pada masa kolonial, kawasan ini menjadi titik penting bagi Belanda untuk mengatur logistik, pertahanan, sekaligus sebagai simpul penghubung transportasi militer.

Dalam konteks Perang Diponegoro (Perang Jawa) (1827–1830), wilayah ini makin strategis. Saat itu Kolonel Hoorn, Komandan Divisi 2, memerintahkan pembangunan barak militer dan gudang logistik di kawasan Bawen guna mendukung peperangan.

Pembangunan Fort Willem I

Setelah Perang Diponegoro berakhir, Belanda memutuskan memperkuat cengkeraman militernya di Jawa. Pada tahun 1834, pembangunan benteng besar di Ambarawa pun dimulai.

Benteng ini diberi nama Fort Willem I, diambil dari nama Raja Belanda Willem Frederik Prins van Oranje-Nassau yang memerintah pada 1815–1840.

Pembangunan benteng dilakukan dengan sangat terencana dan berskala besar. Belanda mendirikan:

  • Barak prajurit
  • Bengkel kerja
  • Perkampungan pekerja dengan kapasitas hingga 4.500 orang

Proyek raksasa ini melibatkan insinyur zeni, penjaga, hingga 3.000 kuli pribumi serta sejumlah tahanan kerja paksa.

Meski tentara mulai menempati kawasan tersebut sejak 1844, benteng baru selesai sepenuhnya pada 1845.

Fungsi Benteng Pendem Ambarawa

Berbeda dari kebanyakan benteng yang berfungsi utama sebagai pertahanan terhadap serangan musuh, Benteng Pendem Ambarawa memiliki peran yang lebih luas.

Benteng ini bahkan disebut mampu menampung hingga 12.000 tentara, menjadikannya salah satu fasilitas militer terbesar di wilayah tersebut.

Benteng Pendem Ambarawa, Sejarah Benteng Pendem Ambarawa, Sejarah Benteng Pendem Ambarawa, Jejak Kolonial Belanda di Tanah Jawa

Benteng Pendem Ambarawa atau Fort Willem 1, Minggu (16/11/2025).

Meski begitu, benteng ini juga dilengkapi bagian sebagai pertahanan, yakni bastion di sudut-sudutnya.

"Bagian bastion itu menunjukkan kalau benteng ini juga berfungsi sebagai pertahanan," kata pemandu dari Telusur Kota bernama Ulil Fachrudin kepada Kompas.com di lokasi pada Sabtu (15/11/2025).

Ia melanjutkan, kata pendem yang disematkan masyarakat disebabkan lokasi benteng yang ada di cekungan, sehingga jika dilihat dari Ambarawa, bentengnya seperti terkubur.

Beberapa fungsi benteng dari masa ke masa, antara lain:

1. Masa Pendudukan Jepang

Ketika Jepang menguasai Indonesia, Fort Willem I digunakan sebagai kamp tawanan bagi orang-orang Belanda dan penduduk lokal yang dicurigai menentang pemerintah pendudukan Jepang.

2. Masa Kemerdekaan Indonesia

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945, benteng ini sempat beralih fungsi menjadi pangkalan militer Tentara Keamanan Rakyat (TKR), cikal bakal TNI.

3. Masa Pasca-Kemerdekaan

Antara tahun 1950 hingga 1985, sebagian struktur benteng diubah menjadi penjara dewasa dan remaja.

4. Fungsi Modern

Sejak 2003 hingga sekarang, Benteng Pendem Ambarawa digunakan sebagai Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas II A Ambarawa.

Benteng Pendem Ambarawa, Sejarah Benteng Pendem Ambarawa, Sejarah Benteng Pendem Ambarawa, Jejak Kolonial Belanda di Tanah Jawa

Benteng Pendem Ambarawa Setelah Revitalisasi, Sabtu (15/11/2025).

Sekarang, benteng ini juga difungsikan untuk wisata di bawah pengelolaan The Lawu Group. Wisatawan bisa belajar sejarah, berfoto, hingga kulineran.

Jika ingin berkunjung ke Benteng Pendem Ambarawa, saat ini harga tiketnya Rp 10.000 saat hari kerja dan Rp 15.000 saat hari libur dengan jam buka pukul 08.00 sampai 20.00 WIB.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.