Sejarah Imogiri, Makam Raja-Raja Mataram Islam, Peristirahatan Terakhir Pakubuwono XIII
- Asal Usul Imogiri: Warisan Sultan Agung
- Makna Nama Imogiri: Gunung Berkabut yang Sakral
- Arsitektur Imogiri: Perpaduan Hindu, Jawa, dan Islam
- Pembagian Area: Simbol Dua Kerajaan Mataram
- Raja-Raja yang Dimakamkan di Imogiri
- Prosesi Pemakaman Raja, Antara Adat dan Spiritualitas
- Makna Imogiri bagi Kebudayaan Jawa
- Tempat Peristirahatan Pakubuwono XIII
Di atas perbukitan berkabut di Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, berdiri kompleks pemakaman megah yang menjadi saksi perjalanan panjang Dinasti Mataram Islam.
Tempat ini dikenal sebagai Pasareyan Agung Imogiri, peristirahatan terakhir para raja dan bangsawan dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat serta Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Lebih dari sekadar makam, Imogiri adalah simbol spiritualitas, kekuasaan, dan budaya Jawa yang tak lekang waktu, tempat di mana dunia fana dan alam leluhur seolah bersentuhan. Kini, di kompleks sakral ini pula, jenazah Sinuhun Pakubuwono XIII Hangabehi dimakamkan, menambah satu nama lagi dalam deretan panjang penguasa Mataram yang beristirahat di sana.
Asal Usul Imogiri: Warisan Sultan Agung
Awal mula pembangunan Makam Imogiri berasal dari gagasan Sultan Agung Hanyakrakusuma, raja besar Mataram Islam pada abad ke-17.
Menurut Tiwuk Kusuma Hastuti, Dosen Sejarah Universitas Sebelas Maret, Sultan Agung awalnya berencana membangun makam di Bukit Girioyo, namun rencana itu terhenti setelah pamannya, Panembahan Juminah, wafat.
“Sultan Agung kemudian memindahkan lokasi ke Bukit Merak, yang kini dikenal sebagai Imogiri,” jelas Tiwuk.
Pemilihan lokasi di tempat tinggi bukan tanpa makna. Dalam pandangan kosmologi Jawa, puncak bukit melambangkan kedekatan manusia dengan alam spiritual dan ilahi.
Pada tahun 1645, Sultan Agung menjadi raja pertama yang dimakamkan di sana, menandai Imogiri sebagai tempat persemayaman para penguasa Mataram.
Makna Nama Imogiri: Gunung Berkabut yang Sakral
Nama Imogiri berasal dari bahasa Sanskerta, ima berarti kabut, dan giri berarti gunung.
Secara harfiah berarti “Gunung Berkabut”, nama ini menggambarkan suasana mistis yang menyelimuti kawasan tersebut.
Kabut yang turun setiap pagi dianggap sebagai simbol antara dunia manusia dan alam roh leluhur yang bersemayam di puncak.
Jenazah PB XIII saat di Makam raja-raja Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (5/11/2025)
Bagi masyarakat Jawa, bukit Imogiri bukan sekadar tanah pemakaman, melainkan “gunung keramat”, tempat arwah raja-raja beristirahat dalam kedamaian abadi.
Arsitektur Imogiri: Perpaduan Hindu, Jawa, dan Islam
Kompleks Imogiri dibangun pada masa Sultan Agung, saat pusat pemerintahan Mataram masih di Kotagede. Arsitekturnya mencerminkan perpaduan budaya Hindu-Jawa-Islam.
“Bangunan berundak di Imogiri mencerminkan konsep kosmologi Jawa yang membagi dunia menjadi tiga lapisan, bawah, tengah, dan atas,” ujar Tiwuk.
- Bagian bawah: Dunia manusia, tempat masjid dan gapura utama.
- Bagian tengah: Area transisi spiritual.
- Bagian atas: Dunia ilahi, tempat makam Sultan Agung dan para raja.
Gapura dihiasi ukiran flora dan simbol kosmos, sementara dinding bata merah yang tebal melambangkan kekuatan dan keabadian.
Arsitektur ini menunjukkan betapa ajaran Islam mampu berasimilasi dengan budaya Jawa tanpa menghapus warisan sebelumnya.
Pembagian Area: Simbol Dua Kerajaan Mataram
Setelah Perjanjian Giyanti (1755) memisahkan Mataram menjadi dua kerajaan, Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, kompleks Imogiri pun ikut terbagi.
Terdapat delapan kedaton atau area pemakaman utama, di antaranya:
- Kedaton Sultan Agung, pusat tertinggi dan paling suci.
- Kedaton Pakubuwanan, tempat dimakamkannya raja-raja Surakarta.
- Kedaton Kasuargan, Saptorenggo, dan Girimulyo, diperuntukkan bagi raja-raja Yogyakarta.
“Tiga kedaton pertama dikelola Kasunanan Surakarta, sementara tiga lainnya menjadi milik Kasultanan Yogyakarta. Dua kedaton awal merupakan tanggung jawab bersama,” jelas Tiwuk
Pembagian wilayah ini bahkan diakui secara resmi sejak masa pendudukan Jepang (1942–1945), menegaskan kepemilikan bersama antara Sunan Surakarta dan Sultan Yogyakarta atas kawasan suci tersebut.
Raja-Raja yang Dimakamkan di Imogiri
Imogiri menjadi tempat peristirahatan bagi hampir seluruh raja dari dua garis Mataram Islam.
- Di Kedaton Sultan Agung, bersemayam Sultan Agung Hanyakrakusuma, Amangkurat II, dan Amangkurat III.
- Di Kedaton Pakubuwanan, dimakamkan para raja Surakarta mulai dari Pakubuwono I hingga Pakubuwono XII, termasuk Pakubuwono XIII yang baru saja berpulang pada November 2025.
- Di sisi Yogyakarta, Sultan Hamengkubuwono I hingga IX dimakamkan di kedaton bagian selatan.
Namun, dua raja Mataram tidak dimakamkan di sana, yakni Amangkurat I yang wafat di Tegal Arum, dan Hamengkubuwono II yang dikebumikan di Kotagede akibat Perang Diponegoro.
Prosesi Pemakaman Raja, Antara Adat dan Spiritualitas
Prosesi pemakaman di Imogiri berlangsung khidmat dan penuh tata krama adat Mataram.
Jenazah dimandikan dan dikafani sesuai syariat Islam, lalu disemayamkan di Bangsal Sasono Mulyo Keraton untuk didoakan.
Setelah itu, jenazah diarak menuju puncak Imogiri untuk dimakamkan.
Selama perjalanan, lantunan doa dan tembang Jawa menggema dari para abdi dalem dan sentono dalem.
Setelah penguburan, keluarga besar keraton menggelar musyawarah penerus takhta, yang biasanya baru dikukuhkan setelah masa berkabung antara 40 hingga 100 hari.
Makna Imogiri bagi Kebudayaan Jawa
Imogiri tidak hanya menyimpan jasad para raja, tetapi juga roh peradaban Jawa.
Imogiri menjadi pusat spiritual, tempat masyarakat memuliakan leluhur melalui tradisi seperti nyadran, kuras padasan, dan upacara sesaji.
“Imogiri adalah saksi perjalanan sejarah dan simbol pelestarian tradisi. Harapan saya, kompleks ini tetap dijaga agar generasi muda memahami akar budaya Mataram Islam,” ujar Tiwuk.
Keberadaan Makam Raja-Raja Mataram di Imogiri menjadi bukti bahwa kejayaan kerajaan bukan hanya diukur dari kekuasaan duniawi, tetapi juga dari kemampuan menjaga warisan rohani dan budaya.
Tempat Peristirahatan Pakubuwono XIII
Kini, setelah Pakubuwono XIII Hangabehi wafat pada 2 November 2025, Imogiri kembali menjadi pusat perhatian publik.
Jenazah beliau dimakamkan dengan upacara adat penuh khidmat di kawasan yang sama tempat Sultan Agung beristirahat empat abad silam.
Pemakaman ini bukan sekadar seremoni kerajaan, melainkan penyambungan takdir sejarah Mataram Islam, dari Sultan Agung hingga generasi ke-14 Dinasti Pakubuwono.
Di antara kabut dan kesunyian bukit, Imogiri kembali membuktikan dirinya sebagai pusat spiritual dan simbol keabadian Jawa.
Sebagian artikel ini telah tayang di KOMPAS.com dengan judul .
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.