Jejak Sejarah Pajimatan Girirejo Imogiri, Tempat PB XIII Disemayamkan

Keraton Solo, Pakubuwono XIII, Pajimatan Girirejo Imogiri, Yogyakarta, Bantul, PB XIII, Pemakaman PB XIII, Jejak Sejarah Pajimatan Girirejo Imogiri, Tempat PB XIII Disemayamkan

Jenazah Raja Keraton Kasunanan Surakarta, Sri Susuhunan Pakubuwono XIII, dimakamkan hari ini, Rabu (5/11/2025), di kompleks makam raja-raja mataram, Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Raja Keraton Solo menghembuskan napas terakhir pada Minggu (2/11/2025) sekitar pukul 07.00 WIB di Rumah Sakit Indriati, Solo Baru, Sukoharjo, Jawa Tengah, pada usia 77 tahun.

Jenazah Pakubuwono XIII diberangkatkan dalam prosesi kirab menuju Loji Gandrung sekitar pukul 09.00 WIB sebelum diteruskan ke Pajimatan Girirejo Imogiri menggunakan ambulans.

Pajimatan Girirejo Imogiri, kompleks makam raja-raja Mataram

Pajimatan Girirejo Imogiri adalah komplek makam bersejarah yang menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi raja-raja Mataram Islam beserta keturunannya.

Lokasinya sekitar 12 kilometer di selatan Kota Yogyakarta, tepatnya di Bukit Merak, Dusun Pajimatan, Girirejo, Kecamatan Imogiri, Bantul.

Makam ini dibangun oleh Sultan Agung pada 1554 Saka atau 1632 Masehi.

Sultan Agung, raja ke-3 Kesultanan Mataram Islam yang memerintah 1613–1645, menjadi raja pertama yang dimakamkan di kompleks ini.

Kompleks ini kemudian dikenal dengan istilah Pajimatan, yang berasal dari kata "jimat" atau pusaka, menandai makam sebagai tempat suci bagi leluhur Kerajaan Mataram.

Lokasi makam dipilih di bukit tinggi sebagai simbol bahwa arwah nenek moyang bersemayam di tempat yang luhur.

Untuk mencapai area makam, pengunjung harus menaiki sekitar 300 anak tangga, menekankan kesakralan lokasi.

Struktur dan kelompok makam di Pajimatan Girirejo Imogiri

Sejak Perjanjian Giyanti 1755, yang membagi Kerajaan Mataram menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, status Pajimatan Imogiri tetap menjadi 'harta suci'.

Kedua kerajaan memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam pemeliharaan kompleks makam.

Kompleks Makam Imogiri terbagi menjadi tiga kelompok besar:

  • Kelompok Makam Raja-Raja Mataram Islam: Kedhaton Sultan Agungan dan Kedhaton Pakubuwanan.
  • Kelompok Makam Raja-Raja Kasultanan Yogyakarta: Kedhaton Kasuwargan, Kedhaton Besiyaran, dan Kedhaton Saptarengga.
  • Kelompok Makam Raja-Raja Kasunanan Surakarta: Kedhaton Bagusan, Kedhaton Astana Luhur, dan Kedhaton Girimulya.

Beberapa raja yang dimakamkan di kompleks ini antara lain Sultan Agung, Sunan Amangkurat II dan III, hingga Sunan Pakubuwono XIII yang baru saja berpulang.

Sejarah pembangunan Pajimatan Girirejo Imogiri

Pada akhir masa pemerintahannya, Sultan Agung memerintahkan Panembahan Juminah, pamannya, untuk membangun makam di Giriloyo Imogiri.

Namun sebelum pembangunan selesai, Panembahan Juminah meninggal dan dimakamkan di lokasi tersebut.

Sultan Agung kemudian menugaskan Kyai Tumenggung Citrokusumo untuk menyelesaikan pembangunan Makam Pajimatan Imogiri, yang menjadi tempat pemakaman raja-raja Mataram dan keturunannya.

Sejak saat itu, Pajimatan Imogiri menjadi pusat ritual pemakaman keraton dan simbol keberlangsungan dinasti Mataram.

Nama "Imogiri" sendiri berasal dari bahasa Jawa, “hima” berarti kabut dan “giri” berarti gunung, sehingga dapat diartikan sebagai "gunung yang diselimuti kabut".

Sebagian artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul "Profil Pajimatan Imogiri Bantul, Jadi Lokasi Pemakaman Raja Solo Pakubuwana XIII".

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.