Menelusuri Jejak Sejarah Desa Tertua di Malang dan Penemuan Situs Purbakalanya

Array,Menelusuri Jejak Sejarah Desa Tertua di Malang dan Penemuan Situs Purbakalanya
Malang

Di balik modernitas Kota Malang, terselip sebuah wilayah legendaris yang usianya sudah melampaui delapan abad? Inilah Merjosari, sebuah kawasan yang bukan sekadar pemukiman biasa, melainkan saksi bisu kejayaan nusantara yang pernah menjadi bagian penting dari tiga kerajaan besar sekaligus: Singosari, Kediri, hingga Mataram Islam.

Lebih istimewa lagi, daerah ini dulunya diyakini sebagai tempat suci yang memiliki kedudukan spiritual sangat tinggi.

Secara administratif, Merjosari kini dikenal sebagai salah satu kelurahan di Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Namun, jejak sejarahnya sebagai desa mandiri tercatat hingga tahun 1987, saat wilayah ini masih berstatus Desa Merjosari di bawah naungan Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Perubahan status menjadi wilayah perkotaan tak lantas melunturkan aura historis yang melekat pada tanahnya.

Dalam ulasan kali ini, kita akan mengupas tuntas misteri di balik Merjosari-mulai dari asal-usul namanya yang penuh makna, sejarah panjangnya sebagai kawasan sakral bagi para pemuka agama zaman dulu, hingga berbagai temuan situs bersejarah yang membuktikan bahwa Merjosari adalah harta karun arkeologi yang nyata di tengah hiruk-pukuk Kota Malang. Siap melakukan perjalanan melintasi waktu?

Asal-usul Nama Merjosari

Penelusuran asal-usul nama Merjosari membawa kita pada sebuah temuan linguistik yang sangat menarik. Menurut para ahli purbakala terkemuka, Suwardono dan Rakai Hino, nama wilayah ini ternyata memiliki hubungan darah yang erat dengan aliran sungai yang membelah daerah tersebut-sebuah fakta yang diperkuat oleh data historis dalam Staatblad nomor 16 tahun 1819.

Secara etimologi, nama Merjosari berakar dari bahasa kuno yang sarat akan makna filosofis. Suwardono menjelaskan bahwa nama tersebut merupakan evolusi dari kata yang jauh lebih megah.

"Arti Merjosari terkait kata amrtajayasri. Dalam perkembangannya, kata amerta berubah menjadi merto, lalu merti hingga menjadi metro-yang merupakan nama sungai yang mengalir di Desa Merjosari hingga saat ini," ungkap Suwardono.

Makna di balik kata amrtajayasri sendiri bukan sembarangan; ia melambangkan kejayaan dan kemuliaan yang abadi layaknya air kehidupan. Hal ini membuktikan bahwa sejak zaman dahulu, sungai Metro bukan sekadar aliran air, melainkan urat nadi yang memberikan identitas suci bagi Merjosari.

Berdasarkan hasil investigasi mendalam yang dilakukan oleh kedua purbakalawan tersebut, tabir sejarah Merjosari semakin tersingkap lebar. Dengan menggabungkan data otentik dari Museum Mpu Purwa serta kesaksian lisan penduduk setempat, mereka berhasil mengalkulasi usia desa ini dengan sangat presisi.

Temuan ini merujuk pada sebuah prasasti berangka tahun 1216 Masehi yang menjadi bukti autentik keberadaan wilayah ini di masa lalu. Dengan rujukan tersebut, maka pada tahun 2026 ini, Desa Merjosari telah genap menginjak usia 810 tahun-sebuah angka yang menasbihkannya sebagai salah satu pemukiman tertua di Malang yang masih tetap hidup hingga sekarang.

Pernah Menjadi Tempat Suci

Keyakinan bahwa Merjosari pernah menyandang status sebagai "Tanah Suci" bukanlah tanpa alasan. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya Prasasti Kertajaya (atau Prasasti Merjosari II) di dekat kediaman seorang petinggi masa lalu, Djojoredjo. Prasasti tersebut memuat guratan huruf dan sistem penanggalan Jawa Kuno yang sangat langka dan unik.

Dengan merujuk pada buku sistem penanggalan karya Louis Charles Damais, Suwandono berhasil memecahkan kode pada prasasti tersebut. Angka 1138 Saka yang terukir di sana merujuk tepat pada hari Selasa Legi, 3 Mei 1216 Masehi. Temuan ini semakin istimewa dengan adanya lukisan Garudamukha sebagai segel resmi kerajaan, serta penyebutan nama Kr-t-ja-ya yang menegaskan keterkaitannya dengan penguasa besar masa itu.

Secara historis, tanggal 3 Mei 1216 merupakan hari yang disakralkan oleh masyarakat untuk melakukan ritual Wanaprasta (bertapa di hutan) atau beribadah di wihara. Merjosari sendiri diyakini sebagai lokasi wihara pertapaan peninggalan Raja Kertajaya yang dibangun oleh Rakryan Manguri, dengan nama resmi yang sangat agung: Wihara Pertapaan Sang Apanji Durggati Rakryan Juru Baba Kaki Ganjar.

Hingga detik ini, aura kesucian Merjosari tidak dibiarkan hilang ditelan zaman. Pemerintah dan warga setempat bahu-membahu menjaga warisan spiritual ini melalui tradisi Bersih Desa. Puncak khidmat dari tradisi ini adalah doa bersama di Makam Eyang Djojo Tirto Rodjo, seorang prajurit legendaris dari Kerajaan Mataram Islam yang pernah menjaga dan memimpin wilayah Merjosari. Sebuah harmoni yang luar biasa antara sejarah kuno dan penghormatan masa kini!

Temuan Situs Bersejarah di Merjosari

Berdasarkan informasi dari Museum Mpu Purwa, Suwardono dan Rakai Hino menemukan 12 titik lokasi benda cagar budaya (BCB) di Merjosari yang terdiri dari:

  1. 10 Batu Umpak, beberapa fragmen bata dan arca (Dukuh Candri-Jl. Mertojoyo Barat (Barat Masjid Al Ikhlas)).
  2. Arca Vyala Singa dan beberapa fragmen pondasi bata (Dukuh Sempol-Jl. Mertojoyo Barat Dalam (Perum Dinoyo Residence)).
  3. 2 Batu Makara (Dukuh Gandul atau Pekarangan Pak Legimin-Jl. Joyo Pranoto Merjosari berdasarkan laporan Belanda).
  4. Tempat Yoni berbentuk kubus polos (Perempatan jalan depan Kantor Kelurahan Merjosari).
  5. Tempat Yoni (belakang pos kamling Jl. Joyo Utomo Gg. IX atau sawah Mbok Ratemo berdasarkan laporan Belanda).
  6. Tempat Yoni dan struktur bata kuno (Jl. Mertojoyo kawasan Taman Singha dan sekarang ada di rumah Pak Hari Kurniawan alias Kibat).
  7. Arca Buddha perunggu (Kampus UNIGA-Jl. Mertojoyo Blok L).
  8. Situs Pasidikan dengan fragmen pondasi bata dan arca belum jadi (Jl. Joyo Suko Gg. II).
  9. Situs Urung-Urung alias Goa Bawah Tanah (sisi timur Jl. Joyo Suko).
  10. Situs Urung-Urung alias Goa Bawah Tanah (Jl. Joyo Tamansari I).
  11. Tempat Yoni (Sawah Kasin-Merjosari).
  12. Tempat Batu Lumpang (Sawah Kasin-Merjosari).
Halaman 2 dari 2