Kala Pengadaan Motor Listrik Dikritik, Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Bilang Gini

Array,Kala Pengadaan Motor Listrik Dikritik, Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Bilang Gini

Pengadaan motor listrik buat program makan bergizi gratis (MBG) sebenarnya menuai banyak kritik keras. Kini, mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana cs menjadi tersangka korupsi, salah satunya karena pengadaan motor listrik tersebut.

Kejaksaan Agung (Kejagung) mengungkapkan Dadan Hindayana cs melakukan markup pada anggaran terkait program makan bergisi gratis (MBG). Salah satu markup yang dilakukan adalah pengadaan motor listrik untuk SPPG.

Kejagung mengungkap sejumlah pengadaan yang tidak sesuai di antaranya 21.801 unit motor listrik. Nilai dari pengadaan itu mencapai sekitar Rp 1 triliun. Kejagung mengatakan pengadaan itu dimasukkan Dadan cs padahal tidak dibutuhkan.

"Pengadaan motor listrik sebanyak 21.801 unit dengan total pengadaan sekitar Rp 1 triliun. Pengadaan 32 ribu pasang sepatu tidak sesuai ketentuan dan adanya markup," kata Direktur Penyidikan pada Jampidsus Kejagung, Syarief Sulaeman Nahdi, di Kejagung, Rabu (3/6/2026).

"Dalam penyusunan KAK (kerangka acuan kerja) pengadaan barang dan jasa pada BGN tidak disusun sesuai kebutuhan riil di lapangan dan adanya markup harga pengadaan sehingga terjadi kerugian yang tidak mendukung operasional pelaksanaan MBG," ucap Syarief.

Banyak pihak yang mengkritik pengadaan itu sebagai pemborosan. Saat masih menjabat sebagai Kepala BGN, Dadan menanggapi kritik masyarakat terkait pengadaan motor listrik tersebut.

"Kadang kita harus melihat berbasis kebutuhan yang ada. Ketika Badan Gizi dibentuk kemudian dididik SDM untuk mengoperasikan, di situlah timbul kebutuhan untuk mobilisasi, seluruh yang ditugaskan di lapangan. Kaitannya seperti itu. Saya kira nanti ketika motor ini nanti dibagikan ke seluruh petugas kita yang ada di daerah-daerah, nanti akan terlihat lah gunanya," kata Dadan saat wawancara dengan detikcom April 2026 lalu.

Dadan saat itu mengklaim, motor listrik tersebut diperuntukkan bagi SPPG di daerah-daerah. "Ya program ini kan menjangkau daerah-daerah yang nanti akan sangat sulit. Menjangkau desa-desa daerah-daerah yang memang hanya bisa dengan motor. Saya kira itu untuk menunjang operasional," ungkapnya.

Yannes Pasaribu selaku pengamat otomotif mengatakan, motor listrik buatan EMMO kurang ideal dipakai sebagai kendaraan operasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebab, selain masih baru, produsen tersebut juga belum punya jaringan di Indonesia.

Seharusnya, untuk ukuran proyek bernilai triliunan rupiah, Badan Gizi Nasional (BGN) memilih motor lain yang jaringannya telah tersebar di mana-mana. Sebab, jika kendaraan dengan jaringan terbatas mengalami kerusakan, akan sulit melakukan perbaikan.