Roby Tremonti Ngerasa Dirugikan Soal Isu Child Grooming, Hesti Purwadinata Bilang Gini
Memoar Broken Strings karya Aurelie Moeremans terus memantik gelombang reaksi publik. Buku tersebut mengungkap pengalaman pahit Aurelie yang mengaku menjadi korban child grooming hingga kekerasan seksual saat usianya baru 15 tahun. Kisah ini tidak hanya membuka luka lama, tetapi juga memicu diskusi luas mengenai bahaya relasi manipulatif terhadap anak di bawah umur.
Dukungan terhadap Aurelie pun mengalir dari berbagai kalangan, termasuk sesama figur publik. Salah satu yang secara terbuka menyatakan empati adalah Hesti Purwadinata. Namun, sikap solidaritas tersebut justru berujung pada situasi tak terduga. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
Alih-alih sekadar mendapat apresiasi, Hesti Purwadinata bersama sang suami, Edo Borne, mengaku menerima pesan bernada ancaman. Pesan tersebut menyebutkan kemungkinan penempuhan jalur hukum oleh sosok yang disebut-sebut sebagai pelaku child grooming dalam buku Aurelie. Kendati demikian, Hesti dan Edo memilih untuk tidak memberikan respons atas ancaman tersebut.
Di tengah situasi tersebut, spekulasi publik kembali menguat mengenai identitas sosok pelaku yang disamarkan dalam buku. Sejumlah warganet mengaitkan ciri-ciri yang diungkap Aurelie dengan aktor Roby Tremonti. Meski tidak pernah disebutkan secara eksplisit, hubungan masa lalu antara Aurelie dan Roby membuat nama aktor itu kembali menjadi perbincangan hangat.
Lewat akun media sosial Threads, Hesti Purwadinata diduga melontarkan sindiran yang diarahkan pada Roby Tremonti. Unggahan itu muncul di tengah pernyataan kekecewaan Roby terhadap isi Broken Strings yang menurutnya berdampak pada reputasi dirinya.
Hesti bahkan menilai, reaksi tersebut justru berbalik arah dan menguatkan dugaan publik.
“Ketika klarifikasi jadi konfirmasi #leboktahsia," tulis Hesti, dikutip Selasa 13 Januari 2026.
Unggahan tersebut langsung menuai respons luas dari warganet. Banyak pihak kembali menyerbu akun media sosial Roby Tremonti, menyoroti rekam jejak hubungannya dengan Aurelie Moeremans di masa lalu. Tak sedikit pula yang menyerukan cancel culture sebagai bentuk penolakan terhadap praktik child grooming.
Hingga kini, Broken Strings masih menjadi topik hangat di ruang publik. Memoar tersebut dinilai tidak hanya menghadirkan pengakuan personal, tetapi juga memperluas kesadaran masyarakat mengenai bahaya child grooming serta pentingnya keberanian korban untuk bersuara.