Konsep Ini Dianggap Bisa Kurangi Keraguan Konsumen Motor Listrik
Salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan ekosistem motor listrik di Indonesia masih berkaitan dengan baterai.
Selain harga yang relatif mahal, banyak calon konsumen juga masih memiliki kekhawatiran mengenai usia pakai, biaya penggantian, hingga risiko kerusakan baterai.
Abdulah, pemilik bengkel motor listrik Dolland Motor Electric di Bekasi, Jawa Barat, mengatakan konsep ideal untuk mempercepat pertumbuhan motor listrik adalah memisahkan kepemilikan kendaraan dan baterai.
"Menurut saya, kalau mau mengejot ekosistem motor listrik saat ini supaya masif, banyak yang pakai, kan keterbatasannya itu masyarakat masih banyak yang maju-mundur," katanya kepada Kompas.com, belum lama ini.
Bengkel motor listrik Dolland Motor Electric di Bekasi, Jawa Barat
"Permasalahan baterai. Baterai kalau rusak gimana? Baterai kalau begini, begitu, dan segala macam. Harganya mahal," kata Abdul panggilannya.
"Pandangan saya untuk mengejot ekosistem itu, baterai dipegang oleh pemerintah. Jadi tidak ada orang yang membeli motor listrik yang memiliki baterainya," ujarnya.
Menurut dia, dengan begitu, konsumen tidak perlu menanggung risiko kepemilikan baterai yang selama ini dianggap sebagai komponen paling mahal pada motor listrik.
"Sama seperti kita membeli bensin. Kita boleh pakai, tapi tidak boleh memiliki. Jadi biaya motor listriknya pasti akan murah," ujarnya.
Menurut Abdulah, konsep tersebut sebenarnya sudah mulai diterapkan oleh beberapa merek melalui sistem sewa baterai (battery renting).
Polytron Fox 350
Polytron
Salah satu contohnya adalah Polytron yang menawarkan pilihan pembelian motor dengan atau tanpa baterai.
"Seperti misalkan Polytron. Dia (konsumen) kan tidak memiliki baterai, walaupun ada pilihan untuk memiliki baterai. Tapi biaya dengan memiliki Rp 27 juta, sewanya cuma Rp 16 juta," katanya.
Dengan skema tersebut, harga awal motor menjadi lebih rendah sehingga dinilai dapat menarik minat masyarakat yang ingin beralih ke kendaraan listrik.
Soal masih ada anggapan bahwa biaya sewa baterai justru menambah pengeluaran bulanan pengguna. Abdulah memiliki pandangan berbeda.
"Walaupun nanti ada yang bilang, 'Wah, mahal-mahal' (kalau sewa baterai) tapi di situlah sebenarnya murah. Sebab kita terbiasa beli bensin. Kalau di Polytron (sewa baterai) Rp 200.000 (per bulan) atau di yang lainnya nanti, swap atau segala macam, itu lebih murah," katanya.
"Bukan lebih murah ya, tapi lebih nyaman dan aman dirasa sama si pengguna," kata dia.
Baterai motor listrik Electrum H5 mengusung model swap
Tukar Baterai
Meski berbeda dengan sistem sewa baterai, sisten tukar baterai (battery swap) juga dinilai dapat mendorong percepatan pemakaian motor listrik di jalan.
Alasannya kata Abdul, sistem tukar baterai mampu mengurangi kekhawatiran konsumen terkait kondisi baterai di masa depan.
Jika terjadi kerusakan atau penurunan performa, pengguna cukup menukar baterai sesuai ketentuan layanan yang berlaku.
"Pembeliannya juga, orang tidak ragu untuk beli. Kita kalau kenapa-kenapa gimana? Ada klaim garansi baterai, ada tinggal tukar. Sesimpel itu sebenarnya," ujar Abdulah.
Ia menambahkan, kemudahan tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang mendorong masyarakat untuk lebih percaya diri beralih ke motor listrik.
"Jadi anggapan bahwa motor listrik susah atau motor listrik tidak bisa dijual itu terbantahkan," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang