Apa Itu Ultra Processed Food dan Mengapa Harus Dibatasi?
Istilah Ultra Processed Food (UPF) atau makanan ultra olahan bisa jadi asing di telinga banyak orang. Padahal, jenis makanan ini umum ditemui sehari-hari.
Saat berbelanja ke supermarket, bisa jadi kamu membeli aneka makanan dan minuman yang tergolong UPF.
Ahli Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) Toto Sudargo, menjelaskan bahwa Ultra Processed Food (UPF) atau makanan ultra olahan merupakan makanan atau minuman yang melalui serangkaian proses industri.
Berbeda dengan makanan segar (real food), produk UPF umumnya mengandung bahan pengawet buatan yang bertujuan memperpanjang umur simpan makanan dalam jangka waktu yang lama.
"Yang jelas untuk makanan ultra proses itu pasti ada pengawetnya. Ya, karena pasti akan dibekukan dalam jangka waktu lama. Ada juga yang ditambahkan dengan garam yang relatif tinggi," jelas Toto ketika dihubungi Kompas.com, Selasa (19/5/2026).
Contoh makanan Ultra Processed Food
Toto menyebut beberapa contoh makanan UPF, di antaranya nugget, kornet, dan buah kalengan.
Ilustrasi mi instan.
Selain itu, ada jenis makanan Ultra Processed Food lainnya yang bisa kamu catat, seperti dikutip , Selasa (19/5/2026) berikut ini.
- Minuman bersoda dan minuman energi
- Camilan kemasan seperti es krim, permen, dan keripik
- Roti, kue, dan biskuit produksi massal
- Margarin dan olesan
- Mi instan
- Sereal sarapan serta batangan energi
- Yogurt buah, minuman susu, dan minuman cokelat
- Nugget ayam, sosis, hot dog, pizza instan, dan sup bubuk
- Alternatif vegan seperti “daging dan keju vegan”
- Susu formula bayi dan produk pelangsing
Mengapa konsumsi produk UPF harus dibatasi?
Toto menjelaskan, produk UPF tetap boleh dikonsumsi, tetapi harus dibatasi jumlah dan periode makannya.
"Bukan melarang, tapi bijak mengonsumsi sehingga tetap nyaman. Misalnya, sarden yang tinggi protein dan tinggi omega-3 tetap aman dimakan, tetapi makannya harus ditambahkan dengan sayur. Itu yang yang penting," jelas Toto.
Daging olahan seperti kornet tinggi zat pengawet dan sodium, jadi tak baik jika dikonsumsi berlebihan oleh penderita diabetes.
Sebagai salah satu jenis produk UPF, Toto mencontohkan bahwa sarden boleh dikonsumsi maksimal seminggu sekali.
Dengan catatan, wajib menyiapkan lauk atau sayur pelengkap yang tinggi serat untuk membantu menyeimbangkan asupan gizi.
"Natrium itu akan tereduksi oleh serat sehingga ketika mengonsumsi sarden, sesungguhnya harus ada sayur-sayur yang menyertainya di situ," kata Toto.
anak yang tidak doyan sayur, sebaiknya mengonsumsi sarden maksimal setengah bulan sekali.
Mengonsumsi makanan ultra olahan terlalu sering dikhawatirkan dapat membuat kerja ginjal semakin berat, sehingga bisa memicu risiko tekanan darah tinggi hingga penyakit jantung.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang