Viral Sarden Disebut Bukan Ultra Processed Food, Ini Penjelasannya
Sarden disebut-sebut bukan termasuk Ultra Processed Food (UPF) atau makanan ultra olahan.
Topik ini ramai setelah cuitan milik pengguna Thread bernama Erwin Setiawan @anakpanganindonesia viral di media sosial.
"Sebagai orang Teknologi Pangan, mau kasih tau kalau ikan sarden (ikan kaleng) bukan ultra process food. Jadi cocok buat stock makaan kamu," tulis Erwin pada Senin (18/5/2026).
Topik ini ramai setelah cuitan milik pengguna Thread bernama Erwin Setiawan @anakpanganindonesia viral di media sosial.
Unggahan itu mendapatkan ribuan komentar. Banyak warganet mengaku baru mengetahui bila sarden bukan termasuk jenis UPF, seperti yang disimpulkan selama ini.
Saat dihubungi Kompas.com pada Rabu (20/5/2026), Erwin menjelaskan pandangan soal sarden bukanlah jenis UPF.
Apakah sarden termasuk Ultra Processed Food (UPF)?
Sebagai Quality Assurance Specialist di industri makanan, Erwin menegaskan bahwa sarden termasuk jenis makanan yang diproses (processed food), bukan ultra processed food.
"Kalau kita ngomongin ultra processed food sendiri kan bahasa gampangnya itu rekayasa pangan, di mana makanan yang kita konsumsi itu bentuknya sudah enggak sesuai dengan bahan utamanya," kata Erwin.
Misalnya, keripik kentang kemasan yang dijual di supermarket dengan komposisi bahan baku kentang hanya 0,2 persen dari keseluruhan.
Sementara itu, sarden yang banyak dijual di Indonesia umumnya masih dijual dalam bentuk ikan utuh.
Kebanyakan produk sarden kalengan juga mengandung komposisi ikan lebih dari 50 persen dengan tambahan bumbu dapur yang umum ditemui, seperti garam, saus tomat, dan minyak sayur.
"Makanya, secara prosesnya (sarden) tidak bisa dikatakan ultra processed food," jelas Erwin.
Namun demikian, sarden bisa saja dikategorikan sebagai UPF bila mengandung pengawet atau bahan tambahan pangan yang tinggi gula.
"High fructose itu kan dari dari buah-buahan yang diproses sampai bening, sampai transparan lah kalau kita ngomong. Itu prosesnya panjang dan bisa dikatakan ultra processed food," kata dia.
Mengapa sarden tinggi natrium?
Selain kategori UPF, sarden juga menjadi sorotan karena mengandung natrium tinggi yang disebut memicu hipertensi hingga penyakit serius.
Ilustrasi sarden kaleng dimasak dengan beragam bumbu.
Erwin tidak menampik bila sarden memang mengandung natrium tinggi. Menurut dia, tingginya kandungan natrium tersebut merupakan bagian dari proses pengawetan produk.
Sebab produk tersebut pada dasarnya tidak menggunakan bahan pengawet tambahan.
Sejak dulu, metode pengawetan paling sederhana yang banyak digunakan masyarakat adalah dengan menambah gula atau garam.
Maka tidak heran bila produk makanan kaleng, termasuk sarden, memiliki kandungan garam atau gula cukup tinggi.
"Kalau kita melihat supply chain management atau cold chain management dari ikan di Indonesia sendiri itu sangat susah untuk mendapatkan akses ikan segar," kata Erwin.
"Karena transportasi, jarak antardaerah yang jauh, sehingga gimana caranya orang teknologi pangan menciptakan supaya ikan ini tetap dalam bentuk yang masih utuh, masih bisa dikonsumsi dan nutrisinya masih terjaga. Salah satunya tadi lewat ikan kaleng atau ikan sarden yang kita kenal," sambung dia.
Meski berfungsi sebagai pengawet alami, konsumsi natrium tinggi berlebihan tetap tidak disarankan.
Erwin mengatakan, processed food seperti kaleng seharusnya tetap menjadi makanan darurat atau dikonsumsi tidak lebih dari dua kali seminggu.
"Sekali lagi, harus digarisbawahi bahwa makanan kaleng atau sarden itu termasuk makanan darurat yang diciptakan untuk di daerah tertentu," jelas Erwin.
"Pangan fungsional atau makanan seperti itu didesain untuk dikonsumsi ketika dalam kondisi darurat, seperti saat terjadi bencana banjir, tsunami, gunung meletus," pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang