AS Tolak Visa 15 Staf Timnas Iran, Janji Manis Gianni Infantino Ditagih
Presiden FIFA, Gianni Infantino, dinilai gagal mewujudkan janjinya untuk memberikan akses penuh bagi Timnas Iran selama pagelaran Piala Dunia 2026.
Hal ini mencuat setelah otoritas Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk menolak permohonan visa belasan anggota staf tim nasional tersebut menjelang bergulirnya tiga laga penting mereka.
Kekecewaan terhadap Gianni Infantino diungkapkan secara langsung oleh pengawas Timnas Iran, Mahdi Mohammad Nabi, di Piala Dunia 2026.
Sosok yang juga menangani operasional skuad pada edisi 2018 di Rusia dan 2022 di Qatar tersebut, masuk dalam daftar 15 anggota federasi sepak bola Iran yang visanya ditolak untuk masuk ke wilayah AS.
Kondisi pelik ini berbanding terbalik dengan pernyataan sang Presiden FIFA sehari sebelumnya di Mexico City, di mana ia merayakan partisipasi Iran dalam turnamen sebagai bukti keberhasilan organisasinya menjembatani isu politik yang kompleks.
Menagih Janji dan Alasan Penolakan AS
Dalam sebuah wawancara bersama Reuters pada Kamis malam di luar Hotel Marriott di Tijuana, tempat tim menginap dan berlatih, Nabi secara tegas menagih komitmen yang pernah dilontarkan oleh petinggi sepak bola dunia tersebut.
"Kami berharap Bapak Infantino benar-benar akan melaksanakan kata-kata dan janji yang telah beliau sampaikan kepada tim nasional Iran," kata Nabi dikutip dari Reuters, Sabtu (13/6/2026).
"Peraturan dan protokol FIFA harus dipatuhi dengan benar oleh federasi anggota maupun tuan rumah," tambahnya.
Sementara pihak federasi sepak bola dunia belum memberikan respons, Departemen Luar Negeri AS menyampaikan alasan penolakan tersebut dengan nada yang keras.
Mereka menyatakan secara resmi bahwa mereka "tidak akan membiarkan tim Iran menyalahgunakan sistem ini untuk menyelundupkan teroris ke AS dengan dalih palsu".
Terkait tuduhan dari Departemen Luar Negeri bahwa federasi mencoba "menyelundupkan teroris" ke Amerika, Nabi memilih untuk tidak merespons provokasi tersebut.
"Kami di sini untuk membicarakan olahraga; kami tidak datang untuk terlibat dalam kegiatan politik apa pun." tegasnya.
Para pemain Iran berpose menjelang pertandingan sepak bola Grup A Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia antara Iran vs Korea Utara di Azadi Sports Complex di Teheran pada 10 Juni 2025. (Photo by ATTA KENARE / AFP)
Persiapan Skuad Terganggu Akibat Kekacauan Koordinasi
Polemik imigrasi ini berimbas langsung pada persiapan tim. Skuad The Cheetahs terpaksa memindahkan basis pelatihan mereka secara mendadak dari Arizona menuju Tijuana, Meksiko.
Para pemain pun baru mendapatkan izin masuk wilayah AS sepuluh hari sebelum pertandingan pertama mereka melawan Selandia Baru yang dijadwalkan berlangsung pada hari Senin di luar wilayah Los Angeles.
Nabi menyoroti betapa kacaunya persiapan kali ini. Ia mengatakan bahwa dia belum pernah mengalami "kurangnya koordinasi seperti ini" di turnamen-turnamen sebelumnya.
Seluruh kekacauan birokrasi ini, tegasnya, "telah mengganggu kemampuan para pemain kami untuk beradaptasi" dan secara nyata menempatkan tim pada posisi yang kurang menguntungkan dibandingkan pesaing mereka di fase grup.
Kasus Wasit Omar Abdulkadir Artan
Kesulitan akses ini rupanya tidak hanya dialami oleh rombongan timnas Iran.
Tuan rumah Piala Dunia 2026 juga diketahui menolak izin jurnalis dari Iran dan kawasan Afrika, serta menerapkan larangan perjalanan bagi warga dari empat negara yang telah lolos kualifikasi.
Bahkan pada pekan ini, otoritas keamanan tuan rumah secara mengejutkan menolak masuknya wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan.
Padahal, Omar Abdulkadir Artan memiliki dokumen izin masuk yang sah, namun tetap ditolak akibat dugaan keterkaitannya dengan " organisasi teror ".
Meski demikian, Iran menjadi satu-satunya tim peserta yang anggota federasinya ditolak dalam jumlah yang sangat masif.
Menanggapi kontroversi imigrasi yang mendera persiapan turnamen bersejarah yang digelar bersama oleh AS, Meksiko, dan Kanada ini, Infantino sempat membela diri pada hari Rabu. Ia berkilah bahwa organisasinya tidak dapat memaksa kebijakan imigrasi negara tuan rumah.
"Kita tidak bisa mengendalikan segalanya. Mungkin lebih baik untuk bersantai saja." ucap pria asal Swiss tersebut.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang