Tajir Melintir, Elon Musk dan Zuckerberg Pilih Beli Rumah KPR

Mark Zuckerberg, Tajir Melintir, Elon Musk dan Zuckerberg Pilih Beli Rumah KPR

Elon Musk dan Mark Zuckerberg sebenarnya mampu membeli rumah secara tunai tanpa perlu mencicil. Namun, kedua triliuner ini justru memilih mengambil kredit kepemilikan rumah (KPR) untuk membeli hunian mewah mereka. Lalu, apa alasannya?

Para ahli keuangan menilai langkah tersebut sebagai strategi yang cerdas. Bagi orang super kaya, mengambil cicilan rumah meski sanggup membayar tunai justru bisa jadi keputusan finansial yang paling menguntungkan.

Musk, yang tercatat sebagai orang terkaya di dunia, memiliki beberapa cicilan rumah bernilai besar. Salah satunya pinjaman senilai 61 juta dollar AS (sekitar Rp1,1 triliun) dari Morgan Stanley untuk membeli lima properti di California.

Angka itu terlihat besar, tetapi hanya sebagian kecil dari total kekayaannya yang menyentuh 703 miliar dollar AS (sekitar Rp12.654 triliun).

Bagi kebanyakan orang, sulit memahami alasan sosok seperti Musk perlu meminjam puluhan juta dollar AS untuk membeli rumah, padahal ia bisa membayar tunai dengan mudah. Jawabannya ternyata sederhana. Ini bukan soal mampu atau tidak, melainkan soal di mana sebaiknya menempatkan uang.

Salah satu alasan utamanya adalah sebagian besar kekayaan orang super kaya tidak berbentuk uang tunai. Harta para triliuner seperti Musk dan Zuckerberg umumnya tertanam dalam investasi, saham, dan obligasi, bukan disimpan sebagai uang kontan.

Menurut Miltiadis Kastanis, direktur eksekutif penjualan di perusahaan properti Compass, kelompok ultra-high-net-worth memiliki cara berpikir berbeda soal likuiditas dan utang, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari Fortune. 

Mereka lebih memilih membiarkan uang terus bekerja dalam bentuk investasi, bisnis, atau koleksi seni, ketimbang mengunci seluruhnya di satu properti.

Logikanya, jika seseorang menanam uang di saham atau bisnis dengan keuntungan sekitar 10 persen per tahun, sementara bunga cicilan rumahnya hanya 5 persen, ia justru diuntungkan dengan mengambil pinjaman.

Menurut Kastanis, persoalannya bukan pada biaya pinjaman, melainkan pada cara mengoptimalkan penempatan dana.

Zuckerberg dapat bunga hanya 1,05 persen

Mark Zuckerberg, CEO Meta sekaligus orang terkaya nomor tujuh di dunia, menerapkan strategi serupa. 

Pada 2012, ia membiayai ulang rumahnya di Palo Alto dengan kredit 30 tahun dan bunga sangat rendah, yakni hanya 1,05 persen. Dengan bunga sekecil itu, cicilannya nyaris tanpa beban tambahan.

Dalam kondisi tersebut, menahan uang sekitar 6 juta dollar AS di dalam rumah justru kurang masuk akal. Dana itu lebih berpotensi memberi keuntungan jika dialihkan ke instrumen investasi lain.

Era suku bunga sangat rendah pada dekade 2010-an memang menjadi masa emas bagi orang kaya untuk mengambil kredit jangka panjang. Banyak pembeli berkantong tebal berhasil mengunci bunga jauh di bawah standar saat ini.

Selain manfaat investasi, ada pula keuntungan dari sisi pajak. Di Amerika Serikat, bunga cicilan rumah bisa menjadi pengurang pajak untuk pinjaman hingga 750.000 dollar AS bagi wajib pajak yang merinci laporannya. 

Meski nilai cicilan Zuckerberg jauh melampaui batas tersebut, ia tetap dapat memangkas sebagian bunga dari penghasilan kena pajak sehingga biaya pinjaman menjadi lebih ringan.

Islay Robinson, pendiri sekaligus CEO perusahaan pialang kredit Enness Global, menambahkan bahwa cicilan rumah membuka peluang optimisasi pajak di sejumlah negara karena pembayaran bunga bisa dikurangkan. 

Ia juga menjelaskan, dalam kondisi inflasi tinggi nilai uang cenderung menurun seiring waktu. Maka dari itu, meminjam sekarang dan membayarnya kelak dengan uang yang nilainya sudah lebih rendah bisa menjadi pilihan yang lebih menguntungkan.

Strategi "beli, pinjam, mati"

Ada satu strategi lain yang jarang dibahas tetapi sangat menguntungkan bagi orang super kaya, yaitu pinjaman berbasis investasi. Konsepnya, mereka meminjam uang dengan menjadikan saham dan aset investasi sebagai jaminan, tanpa harus menjual aset tersebut.

Dalam panduannya untuk nasabah kaya, bank JP Morgan menjelaskan bahwa meminjam dengan jaminan aset memungkinkan seseorang tetap berinvestasi, menunda pajak, dan membebaskan dana untuk peluang lain, alih-alih menjual investasinya untuk mengumpulkan uang.

Strategi ini menguntungkan karena, dalam aturan pajak Amerika Serikat, dana pinjaman tidak dihitung sebagai pendapatan kena pajak.

Dengan begitu, orang kaya bisa membiayai gaya hidupnya melalui pinjaman beragunan aset tanpa dikenai pajak penghasilan.

Para analis menyebut praktik ini sebagai strategi "beli, pinjam, mati" alias buy, borrow, die. Caranya, kumpulkan aset yang nilainya terus naik, pinjam dengan aset itu sebagai jaminan untuk membiayai pengeluaran, lalu wariskan aset tersebut kepada ahli waris. 

Saat diwariskan, terjadi penyesuaian nilai dasar aset (stepped-up basis) yang membuat sebagian besar pajak keuntungan modal (capital gains tax) yang menumpuk selama bertahun-tahun praktis hilang.

Apa yang bisa dipelajari pembeli biasa?

Bagi pembeli rumah pada umumnya, strategi para triliuner ini memang tidak bisa ditiru begitu saja. Tidak semua orang punya akses ke bunga 1,05 persen atau bisa meminjam puluhan juta dollar AS dengan jaminan saham. Meski begitu, prinsipnya tetap bisa dipelajari.

Intinya bukan meniru langkah mereka secara persis, melainkan memahami prinsip di baliknya. Keputusan finansial paling cerdas terkadang bukan melunasi semua kewajiban sekaligus, tetapi menjaga uang tetap fleksibel dan terus bekerja untuk pemiliknya.

Dapatkan update berita teknologi dan gadget pilihan setiap hari. Mari bergabung di Kanal WhatsApp KompasTekno.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang