Benarkah Ultra Processed Food dan Processed Food Berbeda? Ahli Beri Penjelasan

processed food, real food, Benarkah Ultra Processed Food dan Processed Food Berbeda? Ahli Beri Penjelasan

processed food (UPF) atau makanan ultra olahan tidak sama dengan processed food? 

Quality Assurance Specialist di industri makanan, Erwin Setiawan, menjelaskan, perbedaan UPF dan makanan olahan biasa (processed food) terletak pada pengolahannya.

"Kalau kita ngomongin ultra processed food sendiri kan bahasa gampangnya itu rekayasa pangan, di mana makanan yang kita konsumsi itu bentuknya sudah enggak sesuai dengan bahan utamanya," kata Erwin saat dihubungi Kompas.com, Rabu (20/5/2026).

Produk UPF umumnya menggunakan bahan tambahan pangan berupa pengawet dan penguat rasa berkadar tinggi.

Erwin mencontohkan, salah satu produk UPF yang umum ditemui adalah keripik kentang dengan komposisi kentang sangat sedikit, tidak sampai satu persen dari keseluruhan bahan.

Selain itu, bentuk produk UPF juga berbeda drastis dibandingkan makanan utuh (real food). Contoh makanan ultra olahan atau UPF lainnya adalah minuman bersoda, sosis, nugget, dan kornet.

Lalu, apa bedanya dengan processed food?

Ultra-processed food berbeda dengan processed food

Apa itu processed food?

processed food, real food, Benarkah Ultra Processed Food dan Processed Food Berbeda? Ahli Beri Penjelasan

Benarkah ultra-processed Food (UPF) atau makanan ultra olahan tidak sama dengan processed food? Simak penjelasan pakar.

Pengolahan processed food lebih sederhana dibandingkan UPF, serta masih mempertahankan bentuk asli bahan baku makanan.

Menurut Erwin, contoh processed food yang umum dijumpai di Indonesia adalah sarden, buah kaleng, dan asinan.

"Sebenarnya kalau processed food, ada juga roti seperti sourdough yang lagi happening akhir-akhir, dia termasuk kategori processed food juga," kata Erwin.

Meski melewati proses pengolahan dan pengemasan yang panjang, banyak makanan olahan masih mempertahankan nilai gizinya sehingga tetap sehat untuk dikonsumsi.

Salah satunya adalah sarden. Erwin mengatakan, sarden menggunakan banyak garam (natrium) untuk membantu makanan kaleng tersebut bertahan lebih lama, tanpa mengubah kandungan gizi di dalamnya.

Bagaimana batas konsumsi makanan olahan?

processed food, real food, Benarkah Ultra Processed Food dan Processed Food Berbeda? Ahli Beri Penjelasan

Benarkah ultra-processed Food (UPF) atau makanan ultra olahan tidak sama dengan processed food? Simak penjelasan pakar.

Berdasarkan klasifikasi NOVA atau sistem yang mengelompokkan makanan berdasarkan jenis, tingkat, dan tujuan pengolahan industri, terdapat beberapa jenis proses untuk makanan.


Pertama, makanan asli (whole food atau real food) yakni jenis makanan yang tidak melewati proses olahan apapun, seperti buah-buahan segar, sayuran, dan umbi.

Ada juga bahan makanan yang diproses secara minimal (minimally processed foods), seperti madu, gula, dan garam.

Hal itu ditambah dengan jenis makanan olahan yang mirip padahal berbeda yakni processed food dan ultra processed food.

Makanan asli atau utuh boleh dikonsumsi sesering mungkin, bahkan menjadi jenis makanan yang sangat disarankan karena tidak melewati banyak proses pengolahan.

Sebaliknya, makanan olahan seperti processed food dan ultra processed food sebaiknya tidak dikonsumsi terlalu sering.

"Kalau processed food itu seminggu bisa dua kali karena kan sebenarnya makanan processed food atau kaleng itu termasuk makanan darurat," jelas Erwin.

"Selain itu, ya lebih ke makanan real food aja yang udah jelas lah. Masak ikan di daerah kita enggak ada? Pasti ada kan," sambung dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang