Makna Filosofis Passapu yang Dipakai Jokowi di Rakernas PSI

Rakernas PSI, Jokowi, passapu, Makassar, Makna Filosofis Passapu yang Dipakai Jokowi di Rakernas PSI

 Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo mengenakan passapu, penutup kepala khas Sulawesi Selatan, saat menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Makassar, Sabtu (31/1/2026).

Dalam Rakernas PSI di Hotel Claro itu, Jokowi mengenakan kemeja putih dipadu songkok passapu, penutup kepala adat yang dikenal sebagai identitas budaya masyarakat Makassar–Gowa.

Dalam pidatonya, Jokowi menekankan pentingnya penguatan struktur PSI hingga ke tingkat paling bawah, yakni desa dan RT/RW, yang ditargetkan rampung pada akhir 2026.

“Kekuatan partai politik itu terletak pada struktur yang kuat dan bekerja sampai ke bawah,” ujar Jokowi.

Jokowi juga menegaskan masih sanggup turun langsung ke seluruh provinsi, kabupaten/kota, hingga kecamatan apabila diperlukan untuk membantu membangun mesin partai.

Mengenal passapu

Dilansir dari KompasTV, Sabtu, passapu merupakan simbol keberanian, kehormatan, dan kepemimpinan, serta kerap diasosiasikan dengan raja-raja Gowa, termasuk Sultan Hasanuddin.

Passapu yang juga dikenal sebagai patonro dalam tradisi Makassar, adalah ikat kepala berupa lilitan kain yang menjadi bagian penting dari busana tradisional laki-laki di masyarakat Bugis-Makassar dan sejumlah etnis di Sulawesi Selatan.

Passapu bukan sekadar aksesori, namun simbol budaya yang mencerminkan identitas sosial, martabat, dan nilai filosofis masyarakat setempat. 

Dilansir dari laman Gramedia, passapu biasanya akan dikenakan pria Bugis yang tengah mengenakan baju tradisional Bella Dada.

Model baju Bella Dada adalah memiliki lengan panjang dengan leher berkerah dan dihiasi oleh kancing berwarna emas atau perak. Selain itu ada juga tambahan saku pada bagian kanan dan kiri baju tersebut.

Saat mengenakan baju adat ini, para pria Makassar akan menambahkan hiasan penutup kepala bernama passapu.

Kaum pria akan mengenakan baju Bella Dada pada saat menghadiri upacara adat, pernikahan, serta acara kenegaraan maupun acara formal lainnya.

Sejarah dan makna filosofis dari passapu

Penutup kepala ini bukan sekadar pelengkap busana, melainkan lambang kehormatan, kebijaksanaan, dan identitas sosial bagi kaum pria Makassar sejak masa lampau.

Menurut catatan sejarah, passapu telah digunakan sejak zaman Kerajaan Gowa-Tallo sebagai penanda status dan martabat seseorang di masyarakat.

“Pada masa kerajaan, bentuk dan motif passapu menunjukkan kedudukan sosial pemakainya. Bangsawan biasanya mengenakan passapu dengan bahan sutra atau songket, sedangkan rakyat biasa menggunakan bahan kapas atau katun,” jelas Dr. Abd. Rahman Rahim, sejarawan budaya Universitas Hasanuddin, dikutip dari Jurnal Budaya Sulawesi (2022).

Lipatan segitiga di bagian atas passapu melambangkan hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam, dilansir dari RRI.

Dalam kehidupan modern, passapu tetap lestari dan sering digunakan pada upacara adat, pernikahan, dan festival budaya.

Pemerintah Kota Makassar bahkan menjadikan passapu sebagai bagian wajib dari pakaian adat pria pada Hari Kebudayaan.

Menurut Dinas Kebudayaan Kota Makassar, hal ini merupakan upaya pelestarian simbol identitas lokal di tengah arus globalisasi.

Perajin lokal di Kabupaten Gowa dan Takalar terus memproduksi passapu dengan inovasi warna dan bahan yang lebih beragam tanpa meninggalkan nilai tradisionalnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang