Rismon Akui Ijazah Asli dan Minta Maaf ke Jokowi, Roy Suryo: Saya Tak Akan Bergeser!

Pakar telematika Roy Suryo enggan mengikuti jejak ahli digital forensik, Rismon Sianipar, yang meminta maaf dan menyatakan keaslian ijazah mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Roy Suryo menegaskan bahwa dirinya tidak memerlukan permintaan maaf dari Jokowi terkait kasus ini.
Meskipun Rismon telah mengoreksi penelitiannya dan meminta maaf, dirinya tidak akan mengikuti jejak Rismon.
"Nggak perlu ditawar-tawar dan saya nggak butuh maafnya. Saya nggak usah lah Restorative Justice ala Solo ini, ngaco, nggak usah," tegas Roy Suryo dalam tanggapannya.
Roy Suryo juga menegaskan bahwa dirinya mendapat dukungan dari banyak pihak, terutama para ahli, terkait dengan kasus ijazah Jokowi ini.
Ia menyebutkan bahwa tim yang mendukungnya tidak hanya melibatkan ahli biasa, tetapi juga profesor dan doktor yang turut memberikan pendapat mereka dalam perkara ini.
"Saya tidak akan bergeser, apalagi sudah didukung dengan banyaknya ahli-ahli, tidak hanya ahli biasa, ada profesor, doktor, dan juga lain-lain yang ada di belakang kami," ucapnya dengan penuh keyakinan.
Jadi, permintaan Rismon disebutnya tak akan menghentikan langkahnya sama sekali.
"Rismon tidak bisa menghentikan apa-apa," katanya.
Roy juga mengungkapkan bahwa ia berharap Rismon akan mendapatkan pencerahan terkait kesalahan yang dilakukan dan menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
"Saya berdoa saja, ini bulan suci Ramadan, dia dapat hidayah lah dan tercerahkan nanti kemudian sadar," imbuh Roy.
Rismon akui ijazah Jokowi asli
Peneliti forensik digital Rismon Sianipar dan kuasa hukumnya Jahmada Girsang seusai bertemu Jokowi di Solo, Jawa Tengah, Kamis (12/3/2026).
Diberitakan sebelumnya, Rismon menegaskan bahwa ijazah Jokowi adalah asli setelah ia melakukan uji ulang yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.Hal ini disampaikan setelah pertemuannya dengan Jokowi di kediamannya di kawasan Sumber, Banjarsari, Solo, Kamis (12/3/2026).
Diketahui, Rismon sempat mengungkapkan adanya kejanggalan terkait ijazah Jokowi, namun setelah melakukan penelitian lanjutan, ia mengoreksi kesimpulannya.
Ia menyatakan bahwa perubahan kesimpulan ini bukan karena tekanan, tetapi hasil dari pengujian ilmiah yang lebih mendalam.
"Kebenaran itu kadang-kadang menyakitkan, itulah yang saya ungkapkan kepada penyidik," kata Rismon yang menekankan bahwa keputusan tersebut diambil secara objektif.
Rismon juga menyampaikan permintaan maaf langsung kepada Jokowi atas kesalahannya yang sebelumnya telah menimbulkan kontroversi.
"Saya minta maaf kepada publik, terutama kepada Bapak Jokowi dan pihak terkait lainnya," ujarnya.
Ada watermark konsisten
Rismon juga menjelaskan lebih lanjut mengenai penelitian dan temuan barunya.
Ia menemukan bahwa dokumen ijazah Jokowi yang sebelumnya ia anggap janggal memiliki watermark dan emboss yang konsisten, yang menegaskan keaslian dokumen tersebut.
"Tidak ada kejanggalan terhadap keaslian ijazah Pak Jokowi baik yang diupload Dian Sandi Utama maupun yang di gelar perkara khusus," tambahnya.
Rismon juga memastikan bahwa hologram tidak ditemukan pada ijazah tersebut, dan ia mengoreksi penemuan sebelumnya yang sempat disalahpahami sebagai hologram.
Ia menjelaskan bahwa yang terlihat pada ijazah adalah embos, bukan hologram. Selain itu, ia menemukan konsistensi antara dokumen tersebut dengan ijazah milik saksi lain dalam persidangan.
"Mungkin setelah saya kaji dengan beberapa objek ijazah lainnya di tahun yang sama dari UGM memang pada saat itu hologram memang tidak dipakai sebagai pengunci atau pengaman dalam sebuah ijazah. Jadi memang yang ada hanya watermark dan embos," tambahnya, dilansir dari , Kamis.
Rismon mengaku merasa tersakiti dengan temuan barunya dalam penelitian tersebut.
"Ya, saya juga merasa tersakiti terhadap temuan saya sendiri karena saya harus jujur menyatakan bahwa temuan saya itu bakal dicerca, dihina, dan dilabel sebagai pengkhianat," ujar dia.
Rismon sendiri bertandang ke kediaman Jokowi bersama pengacaranya, Jahmada Girsang, untuk menyelesaikan masalah ini melalui mekanisme Restorative Justice.
Sebagai simbol iktikad baik, mereka membawa makanan dan kain ulos Batak
"Pertemuan ini bertujuan untuk menyelesaikan perkara dengan cara yang baik dan damai," kata Jahmada.
Menurutnya, salah satu syarat utama Restorative Justice adalah adanya kesepakatan saling memaafkan antara kedua belah pihak.
Jahmada juga menambahkan bahwa pertemuan dengan Jokowi berlangsung dalam suasana yang hangat dan bersahabat, meski sebelumnya terdapat ketegangan akibat tuduhan yang beredar.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang