Spesifikasi JF-17 Thunder Milik Negara Islam Penghasil Nuklir, Jokowi Pernah Naik ke Kokpit
Indonesia kabarnya semakin dekat untuk memiliki jet tempur Pakistan JF-17 Thunder.
Sejumlah sumber yang mengetahui informasi itu mengatakan, seperti dikutip dari situs Reuters, pembicaraan berkisar pembelian 40 unit jet JF-17 Thunder serta Drone Shahpar yang dirancang untuk pengawasan dan penyerangan target.
Sebagai informasi, Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) pernah menaiki kokpit JF-17 Thunder di Pangkalan Udara Nur Khan, Islamabad, kala berkunjung ke Pakistan pada 2018.
Yuk, intip spesifikasi JF-17 Thunder milik negara Islam penghasil nuklir?
Berdasarkan data yang diolah VIVA, ini adalah jenis pesawat tempur ringan single engine yang merupakan hasil produksi Pakistan Aeronautical Complex (PAC), yang tak lain merupakan varian lain dari FC-1 Xiaolong, produksi Chengdu Aircraft Industries Corporation (CAC).
Oleh CAC, filosofi pesawat tempur ini dirancang sebagai low cost fighter dengan desain airframe semi monocoque yang simpel dengan biaya produksi murah, namun tak meninggalkan kapabilitas tempur maksimal dengan persenjataan canggih.
Bahkan, untuk memaksimalkan jarak jangkau, China dan Pakistan telah menyiapkan air refueling probe untuk misi pengisian bahan bakar di udara. Debut prototipe perdana JF-17 Thunder (PT-01) terbang perdana pada Agustus 2003, hingga modifikasi dilakukan beberapa kali sampai April 2006.
Meski FC-1 justru tak digunakan dalam operasional AU China, debut JF-17 Thunder mampu membetot perhatian publik tatkala jet tempur ini ditampilkan dalam pameran dirgantara Farnborough 2010 di Inggris.
Sejak saat itu, baik China dan Pakistan, secara terang-terangan menyatakan menawarkan pesawat tempur ini untuk negara-negara yang berminat. Beberapa pengamat avasi menyebut kemampuan JF-17 Thunder jauh lebih baik dari F-5 E/F Tiger II.
Kendati pengembangan JF-17 Thunder didominasi China, namun, jet tempur ini punya kandungan Rusia. Sebab, mesin JF-17 Thunder menggunakan jenis turbofan Klimov RD-93.
Mesin ini dikenal andal dalam penggunaan di berbagai kondisi, termasuk di lingkungan berdebu. Namun, mesin ini bukan tanpa kekurangan, disebut-sebut RD-93 terkenal rakus bahan bakar.
Seperti halnya mesin-mesin jet lansiran Rusia, time between overhaul RD-93 terbilang pendek, yakni antara 500-600 jam, sementara service life RD-93 mencapai 1.800 jam.
Untuk sistem persenjataan, JF-17 Thunder ibarat mennggunakan dual operating sytsem, dimana JF-17 menggunakan interkoneksi standar NATO Mil-STD 1760 databus.
Dengan digital interface yang disesuaikan oleh pabrikan, negara pengguna jet tempur ini dapat memasangkan jenis senjata asal Barat dan Timur, sepanjang penggunanya mampu membeli persenjataan yang dimaksud.
JF-17 Thunder dilengkapi tujuh hardpoint, tiga diantaranya dapat digantungi tangki bahan bakar cadangan. Konfigurasi standar JF-17 Thunder adalah sepasang rudal jarak pendek, sepasang rudal jarak menengah-jauh dan satu atau tiga drop tank.
Secara keseluruhan, payload yang bisa digotong mencapai 3,7 ton. Di luar mesin yang dari Rusia, sentuhan lain Negeri Beruang Putih juga terasa pada penggunaan kanon internal dari jenis GSh-23/30 twin barrel.
Bicara tentang avionik, JF-17 Thunder mengacu pada teknologi yang digunakan JAS-39 Gripen, termasuk electronic flight instrumentation system (EFIS), flight control system (FCS), health and usage monitoring system (HUMS), automatic test equipment, UHF/VHF communication radio, simpatico data links, inertial navigation system (INS) dan identification friend-or-foe (IFF) transponder. Sementara radarnya dipasok Italian Grifo S-7 multi-track, multi-mode pulse doppler radar.