Polemik Penggantian Gembok Keraton Surakarta, Ini Tanggapan LDA dan Pihak Pakubuwono XIV Purbaya

Museum Keraton Solo, Keraton Solo, Polemik Penggantian Gembok Keraton Surakarta, Ini Tanggapan LDA dan Pihak Pakubuwono XIV Purbaya, LDA Pertanyakan Hak Akses Museum Keraton Solo, Insiden Penggantian Gembok dan Respons LDA, Surat Permintaan Akses yang Dipersoalkan, Insiden dengan Petugas BPK, Revitalisasi Museum dan Tim Lima, Sikap Kubu Pakubuwono XIV Purbaya, Latar Belakang Panggung Songgo Buwono dan Konflik Keraton

Penggantian gembok Keraton Surakarta yang dilakukan kubu Pakubuwono XIV Purbaya memicu masalah baru.

Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta, GRAy Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng, mempertanyakan pembatasan akses masuk Museum Keraton Solo.

Pembatasan tersebut diputuskan di tengah memanasnya konflik internal keraton terkait tahkta raja.

Persoalan ini mencuat setelah sekitar 10 gembok pintu keraton diganti oleh pihak yang mendukung Pakubuwono XIV Purbaya.

Situasi tersebut memperpanjang polemik kewenangan pengelolaan museum dan aset Keraton Kasunanan Surakarta.

LDA Pertanyakan Hak Akses Museum Keraton Solo

Dilansir dari TribunSolo.com, Gusti Moeng menegaskan dirinya memiliki hak masuk ke museum untuk menjalankan tugas adat sebagai Pengageng Sasana Wilapa.

Ia menyebut jabatan tersebut telah diembannya sejak era Pakubuwono XIII dan hingga kini belum berakhir.

“Saya jadi pengageng sasana wilapa 2004 sejak Bapaknya kami dudukkan sebagai pemangku adat. Sampai sekarang juga belum selesai. Jabatan saya dan bebadan belum selesai,” ungkap Gusti Moeng, Senin (15/12/2025).

Menurutnya, pembatasan akses tersebut tidak sejalan dengan tugas adat yang masih melekat pada dirinya dan lembaga yang dipimpinnya.

Insiden Penggantian Gembok dan Respons LDA

Sebelumnya, sekitar 10 gembok di Keraton Solo diganti oleh utusan Pakubuwono XIV Purbaya.

Langkah itu memicu rencana LDA untuk mengganti kembali gembok-gembok tersebut.

“Ya biar saja silakan diganti. Saya juga bisa mengganti nanti,” ungkap Gusti Moeng.

Ia menilai tindakan penggantian gembok mencerminkan persoalan serius terkait penguasaan akses dan kunci-kunci keraton.

Surat Permintaan Akses yang Dipersoalkan

Di sisi lain, pihak Pakubuwono XIV Purbaya mengaku telah mengirimkan surat permintaan akses kepada pihak Pakubuwono XIV Hangabehi.

Karena tidak mendapat respons, mereka kemudian mengganti gembok untuk memperoleh akses langsung.

Gusti Moeng mempertanyakan kapasitas pihak Purbaya dalam meminta akses pintu-pintu keraton.

“Surat itu dikasihkan hari Kamis saya pagi ke Jakarta. Sekarang saya melayangkan memberikan jawaban. Dia itu siapa. Kok minta-minta,” tuturnya.

Gusti Moeng menegaskan tidak akan menyerahkan kunci kepada pihak Pakubuwono XIV Purbaya. Ia menilai pihak tersebut tidak memiliki kewenangan memegang kunci keraton.

“Bebadannya siapa. Saya juga punya Sinuhun. Ya enggak saya berikan,” jelasnya.

Insiden dengan Petugas BPK

Saat penggantian gembok pada Sabtu (13/12/2025), sejumlah petugas Badan Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X sempat diusir dari area keraton. Meski demikian, akses kembali dibuka pada hari berikutnya.

“Itu kan kemarin sudah disampaikan petugas BPK diusir. Silakan diartikan sendiri,” kata Gusti Moeng.

Meski pintu kembali dibuka, Gusti Moeng mengaku pihaknya belum dapat mengakses sejumlah ruangan penting.

Salah satunya adalah Hondrowino yang biasa digunakan untuk wilujengan dan penandatanganan prasasti.

“Sementara belum (bisa akses). Hondrowino yang untuk wilujengan dan penandatanganan prasasti. Kalau masih bisa kita ingatkan ya monggo kalau nggak ya sudah kita jalani saja ini kan negara hukum,” jelasnya.

Revitalisasi Museum dan Tim Lima

Gusti Moeng menjelaskan bahwa revitalisasi Museum Keraton dan Panggung Songgo Buwono dilakukan melalui pembentukan Tim Lima.

Tim tersebut terdiri dari KG Panembahan Agung Tedjowulan, SISKS Pakoe Boewono XIII, GRAy Wandansari, BKRAy Hanantowiyah, dan KRAy Krisnina Maharani.

“Ketuanya Bapaknya dia almarhum. Adanya ini dibentuk Tim Lima yang mana isinya mewakili trah Sinuhun, Gusti Tedjo, saya sebagai Ketua LDA, Nina Akbar Tanjung mewakili Pakubuwono X, Mbak Yuyah mewakili Pakubuwono XI. Belum diganti (Pakubuwono XIII) karena di ujung selesai,” jelas Gusti Moeng.

Sikap Kubu Pakubuwono XIV Purbaya

Pengageng Sasana Wilapa Keraton Kasunanan Surakarta Pakubuwono XIV Purbaya, GKR Panembahan Timoer Rumbai, menegaskan bahwa sesuai kesepakatan rapat, hanya petugas BPK yang diperbolehkan masuk ke area kerja.

“Tadi ketika rapat di Balai Kota menyepakati hanya pekerja saja yang masuk. Saya juga di luar. Yang masuk pekerja saja. Supaya tidak mengganggu pekerjaan,” tutur GKR Panembahan Timor.

Ia menambahkan, setiap pihak yang ingin menggunakan aset keraton harus berkomunikasi dengan kelembagaan yang dibentuk Pakubuwono XIV.

“Beliau membawa orang sebanyak itu nanti ndak rame. Tinggal bersurat aja kalau mau menggunakan bersurat dengan kelembagaan Keraton Surakarta,” terangnya.

Menurut GKR Panembahan Timoer, pengelolaan museum berada di bawah Pangageng Kebudayaan dan Pariwisata, GKR Devi Lelyana Dewi.

Ia juga menegaskan Tim Lima tidak pernah memperoleh persetujuan resmi.

“Beliaunya ketika PB XIII pengelolaan museum dimandatkan PB XIII ke Gusti Devi. Sekarang PB XIV Gusti Devi pun yang dipercaya untuk mengelola museum. Nggak pernah dan tidak pernah ada ijinnya. Kalau Tim Lima mengklaim sudah ada terbentuknya Tim Lima tidak ada persetujuan pembentukan itu,” jelasnya.

GKR Devi menegaskan revitalisasi dilakukan atas persetujuan raja yang sedang bertahta dan kelembagaan di bawahnya.

“Harusnya menunggu balasan dari Sinuhun dulu. Kenyataannya kan berjalan begitu saja,” ungkapnya.

Museum Keraton Solo, Keraton Solo, Polemik Penggantian Gembok Keraton Surakarta, Ini Tanggapan LDA dan Pihak Pakubuwono XIV Purbaya, LDA Pertanyakan Hak Akses Museum Keraton Solo, Insiden Penggantian Gembok dan Respons LDA, Surat Permintaan Akses yang Dipersoalkan, Insiden dengan Petugas BPK, Revitalisasi Museum dan Tim Lima, Sikap Kubu Pakubuwono XIV Purbaya, Latar Belakang Panggung Songgo Buwono dan Konflik Keraton

Panggung Songgobuwono Keraton Surakarta.

Latar Belakang Panggung Songgo Buwono dan Konflik Keraton

Panggung Songgo Buwono merupakan bangunan bersejarah di kompleks Keraton Kasunanan Surakarta yang berfungsi sebagai menara pandang dan simbol kekuasaan raja.

Bangunan bertingkat ini memiliki nilai arsitektur dan filosofi, sekaligus menjadi bagian penting dari revitalisasi cagar budaya keraton.

Museum Keraton Kasunanan Surakarta sendiri menyimpan berbagai koleksi pusaka, karya kriya, dan dokumentasi sejarah raja-raja Pakubuwono.

Penggantian gembok dan pembatasan akses tersebut mempertegas ketegangan antara kubu Pakubuwono XIV Purbaya dan pihak lain yang masih berselisih soal legitimasi penerus takhta.

Artikel ini telah tayang di TribunSolo.com dengan judul "Polemik Ganti Gembok Keraton Solo, Kubu Hangabehi : Saya Juga Bisa Ganti" dan "LDA Dihalangi Masuk Museum Keraton Solo, Gusti Moeng : Saya Pengageng Sasana Wilapa, Masih Berhak!".

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang