Pakubuwono XIV Hangabehi Belum Tentukan Tanggal Jumenengan, Gusti Moeng: Nunggu Dhawuhe Gusti Allah

GKR Koes Moertiyah, Gusti Moeng, Pakubuwono XIV Hangabehi Belum Tentukan Tanggal Jumenengan, Gusti Moeng: Nunggu Dhawuhe Gusti Allah, Pandangan Lembaga Dewan Adat, Dua Kubu Klaim Tahta Keraton Solo, Sikap Pakubuwono XIV Hangabehi, Jumenengan dan Bebadan dalam Tradisi Keraton

Pakubuwono XIV Hangabehi hingga kini belum menetapkan waktu pelaksanaan upacara jumenengan atau penobatan resmi sebagai raja Keraton Kasunanan Surakarta.

Kepastian tersebut belum disampaikan meski masa berkabung 40 hari telah berakhir.

Situasi ini muncul di tengah dinamika dua kubu yang sama-sama mengklaim sebagai penerus tahta Keraton Solo.

Sementara kubu lain, Pakubuwono XIV Purbaya, telah lebih dulu menggelar prosesi jumenengan dan pengukuhan bebadan.

Pandangan Lembaga Dewan Adat

Dilansir dari TribunSolo.com, Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), GKR Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng, menyampaikan bahwa pihaknya belum dapat memastikan waktu pelaksanaan jumenengan.

Ia menyebut masih menunggu petunjuk dari Yang Maha Kuasa.

“Saya nunggu dhawuhe Gusti Allah,” ujarnya saat ditemui di keraton, Rabu (10/12/2025).

Dua Kubu Klaim Tahta Keraton Solo

Seperti diketahui, konflik suksesi Keraton Kasunanan Surakarta melibatkan dua kubu yang saling mengklaim sebagai penerus tahta.

Putra bungsu mendiang Pakubuwono XIII, KGPAA Hamengkunegoro atau Purbaya, mengukuhkan diri sebagai Pakubuwono XIV pada Rabu (5/11/2025).

Prosesi tersebut digelar menjelang pemberangkatan jenazah Pakubuwono XIII.

Sementara itu, Lembaga Dewan Adat menobatkan KGPH Hangabehi sebagai Pakubuwono XIV pada Kamis (13/11/2025) di Sasana Handrawina.

Gusti Moeng menegaskan bahwa KGPH Hangabehi merupakan penerus tahta yang sah.

Menurutnya, Hangabehi adalah putra tertua dari Pakubuwono XIII.

Ia menilai pengangkatan permaisuri GKR Pakubuwono XIII, yang merupakan ibu dari Purbaya, tidak sah.

Dengan demikian, pengangkatan putra mahkota dari garis tersebut juga dinilai tidak sesuai paugeran.

“Kami berpegang pada yang namanya hak Gusti Allah yang memberikan. Gusti Behi yang sekarang Pakubuwono XIV kan tidak minta kepada Allah untuk dilahirkan lebih tua daripada Purbaya," ungkapnya,

"Dan itu sudah ditekankan dijadikan acuan paugeran. Bahwa kalau tidak punya permaisuri ya sudah anak laki-laki tertua. Tapi kan direkayasa seakan-akan ada permaisuri, ada surat wasiat, ada pengangkatan adipati anom sebelumnya baru akan kita kaji secara hukum,” jelas Gusti Moeng.

Sikap Pakubuwono XIV Hangabehi

Saat ditanya awak media terkait rencana jumenengan, Hangabehi menanggapi dengan nada santai.

Ia menyebut bahwa secara harfiah, jumenengan berarti berdiri.

“Jumenengan itu artinya berdiri. Ini sudah jumenengan ini. Prosesinya belum tahu,” ungkapnya.

Hangabehi juga belum memberikan kepastian kapan upacara resmi tersebut akan digelar.

Ia menegaskan bahwa fokus utamanya saat ini adalah pembenahan Keraton Kasunanan Surakarta.

“Ini fokus keraton aja. Memperbaiki terus,” jelas Hangabehi.

Jumenengan dan Bebadan dalam Tradisi Keraton

Jumenengan merupakan upacara sakral penobatan raja baru di Keraton Kasunanan Surakarta.

Prosesi ini menandai kenaikan tahta secara resmi sekaligus legitimasi spiritual dan adat Jawa.

Sementara itu, bebadan adalah struktur organisasi di dalam Keraton Kasunanan Surakarta.

Bebadan berfungsi membantu raja atau Pakubuwono dalam menjalankan pemerintahan serta mengelola urusan internal keraton.

Artikel ini telah tayang di TribunSolo.com dengan judul "Masa Berkabung 40 Hari Berlalu, PB XIV Hangabehi Belum Tentukan Waktu Kenaikan Tahta Raja Solo". 

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang