Siapa Tedjowulan, Sosok yang Jadi Plt Raja Keraton Surakarta?

Sosok Kanjeng Gusti Panembahan Agung (KGPA) Tedjowulan menyatakan diri sebagai pelaksana tugas (Plt) Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat setelah Pakubuwono (PB) XIII wafat.
Meski di sisi lain, Putra Mahkota Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Hamengkunegoro atau Gusti Purboyo telah mendeklarasikan diri sebagai PB XIV di hadapan jenazah PB XIII sebelum diberangkatkan ke Makam Raja-Raja Mataram, Imogiri.
Pihak Tedjowulan mengklaim penunjukannya sebagai Plt berlandaskan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 430 Tahun 2017 tentang Penetapan Status dan Pengelolaan Keraton Kasunanan Surakarta.
Dalam aturan tersebut, khususnya pada Pasal 5, disebutkan bahwa PB XIII didampingi oleh Tedjowulan dalam pengelolaan keraton serta berkoordinasi dengan pemerintah pusat, provinsi, dan kota.
"Dengan dasar inilah beliau, mulai hari ini, menjalankan tugasnya sebagai pelaksana harian atau Plt Keraton Kasunanan Surakarta," ujar Juru Bicara Tedjowulan, Bambang Ary Wibowo, pada Rabu (5/11/2025), dikutip dari Kompas.com.
Menurut Bambang, Tedjowulan saat ini memiliki mandat administratif dan adat untuk menjaga keberlangsungan Keraton Surakarta hingga tercapai keputusan bersama mengenai suksesi.
Ia menegaskan bahwa ke depan perlu ada musyawarah bersama seluruh trah dari PB I-XIII untuk menentukan arah keraton.
"Kalau nanti sudah disepakati bersama, saya tidak lagi menjadi Plt. Tinggal diangkat saja siapa yang disetujui seluruh pihak," jelasnya.
Tedjowulan pun menyayangkan langkah Gusti Purboyo yang telah mengikrarkan diri sebagai PB XIV.
"Ini belum 40 hari, bahkan jenazah belum diberangkatkan, kok sudah diikrarkan. Itu sangat disayangkan," tutur Bambang.
Profil Singkat Tedjowulan
Tedjowulan merupakan anak dari PB XII. Lahir pada 3 Agustus 1954, atau sekarang berusia 71 tahun.
Ia juga adik dari PB XIII, namun dari ibu yang berbeda, bernama Kanjeng Raden Ayu Retnodiningrum.
Tedjowulan adalah seorang lulusan Akademi Militer di Magelang pada tahun 1984.
Kemudian, pernah menjabat Komandan Yonif 407/Padma Kusuma pada tahun 1995–1997, dan pensiun dengan pangkat terakhir Kolonel Infanteri.
Pernah Terlibat Konflik Soal Takhta Raja dengan PB XIII
Dulu, nama Tedjowulan pernah menjadi sorotan karena terlibat koflik internal perebutan takhta Raja Keraton Surakarta dengan PB XIII (dulu KGPH Hangabehi) pada tahun 2004.
Konflik internal itu terjadi setelah PB XII mangkat pada 12 Juni 2004.
Sebab, PB XII tidak memiliki permaisuri, melainkan hanya sejumlah istri yang bergelar garwa ampil (selir).
PB XII juga tidak menunjuk satu pun anak yang akan mewarisi takhta Raja Keraton Surakarta.
Itulah yang menyebabkan konflik di antara anak PB XII yang berbeda ibu tak dapat terhindarkan, hingga masing-masing kubu mendeklarasikan diri sebagai raja.
Putra tertua PB XII, Hangabehi (PB XIII), mendeklarasikan diri sebagai raja Keraton Surakarta pada 31 Agustus 2004.
Di sisi lain, Tedjowulan turut menyatakan diri sebagai raja pada 9 November 2004.
Dualisme pun berlangsung bertahun-tahun. Konflik baru berakhir pada tahun 2012 setelah Hangabehi dan Tedjowulan sepakat untuk berdamai dan menandatangani akta rekonsiliasi.
Dua kubu juga sepakat bahwa Hangabehi yang merupakan putra tertua PB XII tetap menjadi raja dengan gelar Pakubuwono XIII atau PB XIII.
Sementara Tedjowulan, menjadi Mahapatih dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Panembahan Agung (KGPHPA).
Sebagian tulisan artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "" dan TribunBanten.com dengan judul "Sosok KGPHPA Tedjowulan, Mahamenteri Keraton Solo yang Harap Suksesi Raja Selanjutnya Tak Buru-buru"
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.