Mahfud MD Sebut usai Proyek Whoosh Diubah Jokowi dari Jepang ke China, Bunganya Jadi Naik Drastis
Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD kembali menyoroti proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung atau Whoosh.
Dalam podcast Terus Terang di kanal YouTube Mahfud MD Official, ia menilai proyek tersebut penuh kejanggalan dan kini justru menjadi beban keuangan negara.
Mahfud menjelaskan, pada awalnya proyek kereta cepat itu ditawarkan kepada Jepang melalui skema kerja sama antar-pemerintah (Government to Government). Namun, secara mendadak proyek tersebut dialihkan ke China dengan bunga pinjaman jauh lebih tinggi.
Mahfud MD Komentari Polemik Ijazah Jokowi
Menurutnya, berdasarkan kajian para ahli dari Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada, bunga pinjaman dari Jepang hanya sekitar 0,1 persen. Namun setelah beralih ke China, angka itu melonjak menjadi 2 persen dan bahkan naik lagi hingga 3,4 persen.
“Dulu pada awalnya, rencana kereta api cepat yang kemudian bernama Whoosh ini adalah perjanjian G2G (Government to Government) antara Pemerintah Jepang dengan Pemerintah Indonesia. Disepakati pada waktu itu bisa dibangun dengan bunga 0,1 persen dengan Jepang. Tiba-tiba sesudah Jepang minta kenaikan sedikit, oleh pemerintah dibatalkan, dipindah ke China,” kata Mahfud MD.
“Waktu itu Menteri Perhubungan, Pak Ignasius Jonan, menyatakan tidak setuju. Ini tidak visible, kata Pak Jonan. Pak Jonannya dipecat (oleh Jokowi),” ujar Mahfud.
Setelah Jonan diberhentikan, Presiden ke-7, Jokowi sempat meminta pandangan dari ahli transportasi Agus Pambagio. Namun, kata Mahfud, pendapat Agus yang menilai proyek tersebut merugikan negara tidak diindahkan.
“Sesudah memecat Jonan, Presiden (Jokowi) panggil Agus, ‘Pak, Agus gimana ini, Pak?’ Ini tidak visible, rugi negara, ini menurut Agus. ‘Ini atas ide siapa,’ kata Agus, ‘kok bisa dari Jepang pindah ke situ dan biayanya...’ ‘atas ide saya,’ kata presiden (Jokowi),” beber Mahfud MD.
Lebih jauh, Mahfud menyoroti dampak finansial dari proyek Whoosh yang kini disebut menimbulkan kesulitan pembayaran utang. Ia menyatakan sepakat dengan sikap Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menolak penggunaan dana APBN untuk menutup beban utang proyek tersebut.
Ia juga menambahkan bahwa proyek yang semestinya menjadi kebanggaan nasional justru menguras anggaran besar hingga berpotensi mengorbankan pembangunan di sektor lain. Mahfud menduga ada potensi mark-up dalam perhitungan biaya pembangunan.
“Nah, itu yang harus diteliti. Karena ada dugaan markup, dugaan markup-nya, menurut perhitungan pihak Indonesia, biaya per satu kilometer kereta Whoosh itu USD 53 juta (sekitar Rp840 miliar). Tapi di China sendiri hitungannya USD 17-18 juta (sekitar Rp270-280 juta). Naik 3x lipat kan,” jelasnya.