Masih Banyak Salah Kaprah Saat Buka Puasa, Dokter Luruskan Mitos Ini
Berbagai anggapan tentang makanan saat berbuka puasa masih dipercaya banyak orang, padahal sebagian di antaranya tidak sepenuhnya benar.
Dokter spesialis gizi klinik RS Pondok Indah, dr. Ida Gunawan, MS, Sp.G.K, Subsp.K.M., FINEM, mengatakan beberapa kebiasaan saat berbuka justru dipengaruhi mitos yang keliru tentang kebutuhan energi setelah puasa.
“Yang pertama adalah semua orang yang berpuasa akan mengalami kekurangan gula, oleh karena itu begitu buka puasa harus konsumsi gula yang banyak. Itu adalah mitos yang keliru,” ujar dr. Ida saat dihubungi pada Selasa (24/2/2026).
Menurut dia, pemahaman yang kurang tepat tentang kebutuhan tubuh sering membuat orang mengonsumsi makanan berlebihan saat berbuka.
Mitos: tubuh pasti kekurangan gula saat puasa
Banyak orang percaya bahwa tubuh pasti mengalami kekurangan gula setelah berpuasa seharian.
Anggapan ini membuat sebagian orang langsung mengonsumsi minuman atau makanan yang sangat manis ketika berbuka.
Padahal, tidak semua orang yang berpuasa mengalami penurunan gula darah. Konsumsi gula berlebihan justru dapat meningkatkan kalori tanpa memberikan manfaat gizi yang seimbang.
Fakta: gula alami lebih dianjurkan
Ilustrasi kurma. Dokter gizi klinik dr. Ida Gunawan menjelaskan mitos yang masih sering dipercaya masyarakat tentang konsumsi gula dan gorengan saat berbuka puasa.
Ida menjelaskan bahwa sumber gula alami lebih baik dikonsumsi saat berbuka. Buah seperti kurma, koktail buah, atau jus buah dapat membantu mengembalikan energi secara bertahap.
“Yang paling penting adalah cairannya cukup dan gulanya manis alami itu yang terbaik,” kata dia.
Manis alami dari buah membantu tubuh memperoleh energi tanpa lonjakan gula yang terlalu tinggi.
Mitos: energi tubuh kurang jadi perlu makanan tinggi kalori
Mitos lain yang sering dipercaya adalah anggapan bahwa tubuh kekurangan energi setelah puasa sehingga harus segera diisi dengan makanan padat kalori.
Contoh yang sering terjadi adalah berbuka dengan gorengan dalam jumlah banyak. Gorengan dianggap cepat mengembalikan energi setelah seharian berpuasa.
Fakta: gorengan berlebihan menambah kalori
Ida menegaskan bahwa konsumsi gorengan tidak sepenuhnya dilarang, tetapi perlu dibatasi. Gorengan mengandung lemak yang tinggi sehingga dapat meningkatkan jumlah kalori secara signifikan.
“Bukan berarti tidak boleh makan gorengan, tetapi kalau berbuka dengan gorengan dua atau tiga potong itu yang sering keliru,” jelasnya.
Selain menambah kalori, makanan berminyak saat tubuh kekurangan cairan juga dapat menimbulkan rasa tidak nyaman di tenggorokan. Kondisi ini dapat memicu rasa gatal atau peradangan pada tenggorokan.
Berbagai mitos tentang makanan saat berbuka puasa sering membuat pola makan menjadi tidak seimbang.
Memilih gula alami dari buah dan membatasi gorengan membantu menjaga asupan kalori tetap terkendali.
Pendekatan ini membuat berbuka puasa tetap sehat tanpa menimbulkan kelebihan energi selama Ramadhan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang