Minum Dulu atau Makan Dulu Saat Buka Puasa? Ini Jawaban Dokter Gizi
Setelah menahan makan dan minum sekitar 14 jam, tubuh lebih dulu membutuhkan cairan sebelum menerima makanan berat saat berbuka puasa.
Dokter spesialis gizi klinik RS Pondok Indah, dr. Ida Gunawan, MS, Sp.G.K, Subsp.K.M., FINEM, menegaskan bahwa pemenuhan cairan menjadi prioritas utama ketika azan magrib berkumandang.
“Yang penting untuk diperhatikan saat berbuka puasa adalah kebutuhan cairan dan jenis makanannya, porsi makanan bisa menyusul,” ujar dr. Ida dalam keterangan yang diterima Kompas.com pada Selasa (24/2/2026).
Menurut dia, kondisi tubuh setelah puasa panjang cenderung mengalami kekurangan cairan sehingga hidrasi harus segera dipulihkan secara bertahap.
Tubuh mengalami dehidrasi ringan
Selama berpuasa, tubuh tidak mendapatkan asupan cairan dari luar. Kondisi ini membuat kadar cairan dalam tubuh menurun dan dapat memicu rasa lemas serta kurang nyaman.
Karena itu, minum terlebih dahulu membantu menstabilkan kembali fungsi tubuh sebelum menerima makanan utama.
Pemulihan cairan yang cukup juga membantu proses pencernaan berjalan lebih baik.
Pilih cairan dengan gula alami
Ilustrasi buka puasa Ramadhan. Dokter gizi klinik dr. Ida Gunawan menjelaskan mengapa cairan harus didahulukan saat berbuka puasa sebelum mengonsumsi makanan berat.
Ida menyarankan agar cairan yang dikonsumsi saat berbuka tidak berlebihan gula tambahan.
Pilihan seperti sop buah, koktail buah, atau jus buah tanpa tambahan gula berlebih dapat menjadi alternatif.
“Yang paling penting adalah cairannya cukup dan gulanya manis alami itu yang terbaik, misalnya dari buah kurma atau jus buah,” kata dia.
Manis alami dari buah membantu mengembalikan energi tanpa membebani tubuh dengan lonjakan gula yang terlalu tinggi.
Hindari gula berlebihan
Mitos yang sering dipercaya adalah anggapan bahwa semua orang yang berpuasa pasti kekurangan gula sehingga harus segera mengonsumsi gula dalam jumlah besar. Ida menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Ia mengingatkan agar tidak membombardir tubuh dengan minuman dan makanan tinggi gula sesaat setelah berbuka.
Gula tambahan berlebihan justru dapat meningkatkan total kalori harian tanpa memberikan manfaat gizi yang seimbang.
Makanan berat bisa menyusul
Setelah kebutuhan cairan terpenuhi, makanan utama dapat dikonsumsi dengan komposisi gizi yang seimbang.
Karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, serta serat tetap diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energi.
Pendekatan bertahap ini membantu tubuh beradaptasi kembali setelah berpuasa seharian.
Cairan menjadi prioritas utama saat berbuka puasa karena tubuh telah mengalami kekurangan asupan selama berjam-jam.
Memilih minuman dengan gula alami dan menghindari tambahan gula berlebihan membantu menjaga keseimbangan energi tanpa memicu lonjakan kalori.
Pola berbuka yang terukur membuat tubuh kembali bertenaga dengan lebih nyaman dan sehat selama Ramadhan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang