Olahraga Saat Puasa Tidak untuk Semua Orang, Siapa Saja yang Perlu Hati-hati?
Olahraga saat puasa tetap dianjurkan untuk menjaga kebugaran, tetapi tidak semua orang boleh melakukannya tanpa pertimbangan medis.
Dokter spesialis kedokteran olahraga Rumah Sakit Pondok Indah Bintaro Jaya, dr. Risky Dwi Rahayu, M.Gizi, Sp.K.O, mengatakan bahwa latihan saat Ramadhan sebaiknya difokuskan untuk mempertahankan kesehatan, bukan mengejar target baru.
“Pada waktu puasa itu bukan waktu yang tepat untuk membuat target-target baru yang ekstrem,” ujar dr. Risky dalam jumpa pers secara daring yang diikuti Rabu (18/2/2026).
Kelompok yang perlu menghindari olahraga saat puasa
Berikut adalah kelompok tertentu yang perlu berhati-hati atau berkonsultasi lebih dulu sebelum tetap berolahraga saat puasa.
1. Orang dengan penyakit kronis
Individu dengan komorbid seperti diabetes, hipertensi, atau penyakit jantung perlu mempertimbangkan kondisi kesehatannya sebelum berolahraga saat puasa.
Risky menekankan bahwa mereka yang memiliki penyakit tertentu sebaiknya berdiskusi dengan dokter yang merawat.
Kondisi gula darah yang tidak stabil atau tekanan darah yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko saat latihan.
Pengaturan obat dan waktu olahraga menjadi faktor penting yang harus diperhitungkan secara individual.
2. Ibu hamil dan menyusui
Ibu hamil dan ibu menyusui termasuk kelompok yang memiliki kebutuhan energi lebih tinggi.
Risky menjelaskan bahwa kedua kelompok ini memang memiliki keringanan dalam menjalankan puasa.
Jika tetap berpuasa dan ingin berolahraga, intensitas dan durasi latihan harus disesuaikan. Kondisi tubuh ibu dan kebutuhan janin atau bayi harus menjadi prioritas utama.
3. Orang yang belum terbiasa berolahraga
Individu yang tidak memiliki kebiasaan latihan sebelumnya juga perlu menyesuaikan ekspektasi. Puasa bukan waktu yang tepat untuk memulai program latihan berat secara tiba-tiba.
Latihan yang terlalu intens tanpa persiapan dapat meningkatkan risiko cedera dan kelelahan.
Risky menyarankan agar aktivitas fisik dilakukan secara bertahap dengan intensitas ringan hingga sedang.
4. Atlet dengan target performa tinggi
Bagi atlet yang sedang dalam program peningkatan performa, Ramadhan bukan waktu ideal untuk mengejar capaian maksimal.
Tujuan latihan saat puasa sebaiknya hanya untuk mempertahankan tingkat kebugaran. Latihan dengan intensitas sangat tinggi berisiko meningkatkan kelelahan dan mengganggu pemulihan.
Penyesuaian jadwal dan intensitas menjadi kunci agar performa tetap stabil tanpa membahayakan kesehatan.
Olahraga saat puasa tetap bermanfaat, tetapi perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing.
Individu dengan penyakit kronis, ibu hamil dan menyusui, serta mereka yang belum terbiasa berolahraga sebaiknya berhati-hati dan berkonsultasi lebih dulu.
Pendekatan yang realistis dan terukur membantu menjaga kebugaran tanpa meningkatkan risiko selama menjalankan ibadah puasa.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang