Makan Gorengan Setiap Hari Saat Buka Puasa, Berbahayakah bagi Kesehatan?

Selain kurma, takjil terfavorit masyarakat Indonesia agaknya adalah gorengan.
Setelah menuntaskan dahaga, banyak Muslim yang menyantap gorengan saat buka puasa di bulan Ramadhan.
Selain memiliki citarasa yang gurih mantap, gorengan juga lumayan bisa mengganjal perut sebelum Muslim menunaikan ibadah shalat maghrib.
Meski nikmat, namun konsumsi gorengan setiap hari saat berbuka dikhawatirkan bisa memicu masalah kesehatan.
Apa saja efek makan gorengan setiap hari saat berbuka puasa? Dan apa saran dokter?
Makan gorengan saat berbuka puasa
Dilansir dari (20/4/2024), Guru Besar Bidang Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga IPB University Ali Khomsan mengatakan bahwa sebenarnya tak masalah untuk makan gorengan setiap hari saat buka puasa.
Namun, dia mengingatkan, masyarakat harus memperhatikan jumlah gorengan yang dimakan agar tidak mengalami masalah kesehatan.
"Kontribusi gorengan yang dikonsumsi secara wajar tentu tidak akan menimbulkan hal-hal yang kurang baik bagi kesehatan," ujarnya.
Dalam memahami gizi, pada prinsipnya, sesuatu yang dikonsumsi berlebihan akan mendatangkan dampak kurang sehat bagi tubuh.
Oleh karena itu, Muslim yang berpuasa sebenarnya bisa mengonsumsi gorengan bersama takjil lainnya sebelum melaksanakan shalat Maghrib.
Barulah setelah shalat, bisa menyegerakan menyantap nasi dan pendamping yang seimbang gizinya.
Kekhawatiran muncul saat orang mulai sering mengonsumsi gorengan terlalu banyak saat berbuka hingga tak lagi bernafsu untuk makan makanan berat. Sehingga, pemenuhan gizi justru berkurang.
Menurut Ali, satu hingga dua gorengan masih relatif aman dimakan.
"Lebih dari itu ada kemungkinan perut merasa kenyang duluan, sehingga mengurangi selera makan lengkap," imbuhnya.
Bahaya makan gorengan terlalu banyak
Konsumsi gorengan dalam jumlah banyak setiap hari saat berbuka juga akan meningkatkan risiko penyakit berbahaya, seperti penyakit jantung, diabetes, hingga obesitas.
Berikut potensi bahayanya:
1. Kelebihan berat badan
Makanan yang digoreng menyerap lemak dari minyak, sehingga kalorinya akan menjadi lebih tinggi.
Semakin tinggi asupan kalori harian seseorang, semakin tinggi pula risiko mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.
Selain itu, kandungan lemak trans dalam gorengan pun memainkan peran penting dalam penambahan berat badan. Lemak ini dapat memengaruhi kerja hormon yang berpotensi meningkatkan nafsu makan dan menambah penyimpanan lemak.
2. Risiko penyakit kardiovaskular
Makan gorengan terlalu banyak dan terlalu sering bisa meningkatkan risiko penyakit jantung.
Efek samping tersebut dikarenakan gorengan memicu obesitas, salah satu faktor risiko penyakit jantung.
Minyak goreng juga mengandung banyak lemak jenuh dan lemak trans yang diketahui dapat meningkatkan kadar kolesterol darah.
Peningkatan kolesterol ini bisa menjadi akar dari berbagai penyakit kardiovaskular, termasuk penyakit jantung koroner, serangan jantung, dan stroke.
3. Risiko diabetes tipe 2
Gorengan sering kali dilapisi tepung yang tinggi kalori, karbohidrat sederhana, serta lemak tidak sehat.
Terlalu banyak lemak dalam makanan tidak hanya dapat menyebabkan penambahan berat badan, tetapi juga meningkatkan risiko diabetes tipe 2.
4. Risiko kanker
Makan gorengan terlalu sering juga bisa meningkatkan risiko kanker.
Efek ini disebabkan zat akrilamida yang dapat terbentuk selama proses memasak dengan suhu tinggi, seperti menggoreng.
Jika terlalu banyak dan sering dikonsumsi, termasuk saat berbuka puasa, zat ini diduga bisa menyebabkan beberapa jenis kanker, seperti kanker ovarium.
Selain itu, lemak trans pada makanan yang digoreng pun berpotensi meningkatkan jumlah senyawa yang mendukung peradangan dalam tubuh, salah satu faktor risiko kanker.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang