Kapan Waktu Terbaik Lari Saat Puasa? Ini Jam Ideal agar Tetap Kuat dan Aman

lari, olahraga lari, Kapan Waktu Terbaik Lari Saat Puasa? Ini Jam Ideal agar Tetap Kuat dan Aman

Orang yang menjalankan ibadah puasa tidak perlu khawatir jika tetap ingin berolahraga, termasuk lari.

Aktivitas lari selama bulan Ramadan tetap aman dilakukan oleh individu yang sehat, selama waktu pelaksanaan, intensitas latihan, serta asupan cairan diatur dengan baik.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University dr Agil Wahyu Wicaksono, MBiomed mengatakan, olahraga lari dapat dilakukan saat puasa asalkan seseorang dapat memahami kondisi tubuh.

Dengan begitu, olahraga lari tetap mendatangkan manfaat tanpa mengorbankan kesehatan diri sendiri.

“Secara medis, aktivitas lari saat berpuasa tidak dilarang," ujar Agil dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Senin (23/2/2026).

"Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa individu sehat tetap dapat melakukan olahraga ringan hingga sedang selama Ramadan tanpa risiko kesehatan yang signifikan,” sambungnya.

Namun, pelari perlu memperhatikan tiga hal penting, yakni waktu pelaksanaan, tingkat intensitas, dan kondisi tubuh.

Kapan Waktu Terbaik untuk Lari Saat Puasa?

Agil menjelaskan, waktu paling aman untuk berlari adalah sesudah berbuka puasa. 

Saat itu, tubuh sudah mendapat asupan makanan dan minuman sehingga kemungkinan mengalami dehidrasi jauh lebih rendah. 

Aktivitas bisa dilakukan dengan intensitas ringan sampai sedang selama 30–45 menit.

Waktu lain yang cukup baik adalah menjelang berbuka puasa dengan durasi lebih singkat sekitar 15–30 menit dan tetap pada intensitas ringan. 

Setelah selesai, tubuh bisa langsung mengisi kembali cairan dan energi.

Sementara itu, berlari setelah sahur masih bisa dilakukan, tetapi risikonya lebih tinggi karena tubuh berisiko mengalami dehidrasi.

Intensitas Berlari Saat Puasa

Agil menyarankan agar lari saat puasa dilakukan pada tingkat ringan atau sedang. 

Pada intensitas ringan, pernapasan masih teratur, tubuh nyaman, dan masih bisa berbicara dengan kalimat lengkap. 

Pada tingkat sedang, napas menjadi lebih cepat tapi masih bisa dikendalikan, dan hanya mampu mengucapkan beberapa kata saja.

Aktivitas harus segera dihentikan jika muncul gejala, seperti lemas, mual, pusing, gemetar, atau rasa haus yang berlebihan. 

Tanda-tanda itu bisa menunjukkan dehidrasi atau mengalami penurunan kadar gula darah.

Strategi Minum Air Saat Puasa

Strategi minum air yang efektif sangat menentukan. Pola 4–2–2 terbukti baik berdasarkan penelitian di Indonesia, yakni empat gelas saat berbuka, dua gelas di malam hari, serta dua gelas saat sahur. 

Menurut Agil, strategi minum air tersebut membantu tubuh memenuhi kebutuhan cairan harian secara optimal.

Penelitian lain di Inggris menunjukkan bahwa minum banyak air sekaligus saat sahur kurang dianjurkan karena cairan cepat keluar melalui urine. 

Lebih baik diminum secara bertahap dan dikombinasikan dengan makanan.

Selain itu, tidur yang cukup juga ikut mendukung performa tubuh. Durasi ideal adalah 7–9 jam per hari. 

Jika sulit, bisa dibagi menjadi tidur malam 4–5 jam ditambah tidur siang untuk menjaga stamina selama puasa.

Dengan memperhatikan panduan ini, berlari saat Ramadan bisa memberikan manfaat kebugaran tanpa mengganggu ibadah puasa.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang