Bitcoin Ambruk ke Rp1,4 Miliar per Keping, Pasar Panik Gegara Sinyal Suram The Fed

Bitcoin.
Bitcoin.

 Harga Bitcoin anjlok ke bawah level psikologis US$90.000 atau sekitar Rp 1,5 miliar (estimasi kurs Rp 16.730 per dolar AS). Penurunan tajam disinyalir seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) serta minimnya data ekonomi yang tertunda rilis sekaligus menjadi koreksi terdalam pertama kali sejak tujuh bulan terakhir.

Dikutip dari CoinMarketCap hingga pukul 13.48 WIB pada Selasa, 18 November 2025, harga Bitcoin berada di level US$89.381 sekitar Rp 1,49 miliar. Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin merosot 6.03 persen sematara dalam sepekan terakhir kehilangan hampir 15 persen. 

Posisi ini sekitar 30 persen di bawah rekor tertingginya pada akhir Oktober yang berada di atas US$126.000. Anjloknya harga Bitcoin makin tertekan setelah aset digital tersebut gagal mempertahankan level support penting di kisaran US$94.000. 

Melansir dari Investing, pelemahan memicu fenomena teknikal death cross, yakni terjadinya persilangan negatif antara moving average jangka pendek dan jangka panjang yang sering dianggap sebagai sinyal koreksi lanjutan.

Ilustrasi Investasi

Pelaku pasar semakin pesimistis bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga pada pertemuan bulan Desember 2025 mendatang. Sejumlah pejabat bank sentral AS, termasuk Ketua Jerome Powell, menegaskan bahwa mereka belum siap melakukan pelonggaran tambahan sehingga membuat investor menahan diri dan menunggu kejelasan arah kebijakan moneter berikutnya. 

Di saat yang sama, pasar juga menghadapi minimnya data ekonomi akibat keterlambatan rilis selama beberapa minggu, imbas dari penutupan pemerintahan AS baru-baru ini. Kondisi ini menambah ketidakpastian karena para pembuat kebijakan belum memiliki gambaran makro ekonomi yang memadai.

Penundaan data itu diperkirakan mulai pulih pada pekan minggu dengan laporan ketenagakerjaan non-pertanian (non-farm payrolls) untuk September 2025 yang dijadwalkan rilis pada Kamis, 20 November 2025. 

Selain faktor makro, sentimen negatif juga datang dari melemahnya arus masuk ke Exchange Traded Fund (ETF) Bitcoin. Investor institusional dilaporkan menahan pembelian karena volatilitas pasar meningkat tajam.

Tekanan juga melanda saham-saham teknologi dan perusahaan tambang kripto yang sama-sama mengalami penurunan signifikan. Koreksi serentak tersebut memperkuat sikap risk-off di seluruh ekosistem aset digital.

Gelombang likuidasi besar-besaran juga memperburuk kondisi. Dalam 24 jam pada awal bulan ini, lebih dari US$19 miliar posisi leverage terpaksa ditutup, memicu penjualan lanjutan yang menyeret harga Bitcoin lebih dalam.

Bitcoin terakhir kali diperdagangkan di bawah US$90.000 pada akhir April 2025. Kembalinya ke level tersebut mencerminkan seberapa cepat kepercayaan investor terkikis, terutama ketika pasar kembali menimbang risiko geopolitik global serta ketidakpastian mengenai waktu penurunan suku bunga The Fed.

Aksi jual besar-besaran ini menjadi alarm keras bagi pasar kripto yang selama beberapa bulan terakhir menikmati reli kuat, sebelum akhirnya kembali tersungkur oleh kombinasi tekanan makro dan teknikal.

Koreksi drastis juga dicatatkan Ethereum sebesar 6,50 persen dalam 24 jam terakhir ke level US$2.985. Tether menurun tipis 0,03 persen menjadi US$0,99 per keping. 

XRP merosot 5,23 persen dan diperdagangan pada posisi US$2,14. Kemudian BNB tergerus 3,09 persen menjadi US$903,58.