Bitcoin Ambruk Sentuh Level US$86.000 Jelang Keputusan Suku Bunga The Fed
Harga Bitcoin tertekan jelang keputusan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve, pada 27-28 Januari 2026. Aset kripto terbesar di dunia ini anjlok ke bawah level US$88.000 seiring melemahnya sentimen pasar global.
Bitcoin sempat turun sekitar 2 persen dalam 24 jam terakhir pada perdagangan Minggu sore waktu AS, berdasarkan data CoinDesk. Koreksi menyebabkan aset digital ini diperdagangkan di kisaran US$87.800 atau sekitar Rp 1,47 miliar (estimasi kurs Rp 16.820 per dolar AS).
Tekanan juga menjalar ke aset kripto utama lainnya. Ether merosot mendekati US$2.880, sementara Solana, XRP, dan Cardano masing-masing melemah antara 3 hingga 5 persen.
Berdasarkan pantauan VIVA di CoinMarketCap hingga pukul 07.08 WIB pada Senin, 26 Januari 2026, harga Bitcoin tergerus 2,57 persen dalam 24 jam terakhir dan berada di level US$86.831,79 atau sekitar Rp 1,46 miliar. Selama sepekan, Bitcoin anjlok sebesar 6,58 persen.
Koreksi ini memperpanjang tren pelemahan pasar kripto sepanjang sepekan terakhir. Kondisi ini sekaligus mencerminkan rapuhnya sentimen investor di tengah ketidakpastian makroekonomi global.
Aset kripto.
Rontoknya harga aset kripto memicu likuidasi besar-besaran terhadap posisi bullish. Data CoinGlass mencatat total likuidasi mencapai US$224 juta dalam 24 jam terakhir. Dari jumlah tersebut, sekitar US$68 juta berasal dari kontrak berjangka Bitcoin dan US$45 juta dari kontrak Ether.
Pelaku pasar menilai pergerakan cenderung sideways dipengaruhi karena kripto memasuki fase konsolidasi atau penyesuaian. Mengingat volatilitas yang tinggi di awal pekan ketiga bulan Januari 2026 ini.
Dikutip dari Coindesk, saat ini investor global tengah bersiaga terhadap potensi intervensi terhadap yen. Tepatnya setelah Perdana Menteri (PM) Jepang, Sanae Takaichi, memperingatkan adanya pergerakan pasar yang dianggap tidak normal usai yen menguat tajam pada Jumat malam, 23 Januari 2026.
Lonjakan tajam mata uang negeri Sakura ini meningkatkan meningkatkan kehati-hatian di kalangan pelaku pasar di kawasan Asia. Sampai saat ini, pemerintah Jepang belum memberikan konfirmasi apapun atas kenaikan tersebut.
Dari global, risiko penutupan sebagian pemerintahan (government shutdown) yang menekan aset berisiko, termasuk kripto. Pemimpin Partai Demokrat di Senat AS, Chuck Schumer, menyatakan pihaknya akan memblokir paket belanja pemerintah kecuali pendanaan untuk Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) dihapus.
Situasi ini dinilai berpotensi memperketat likuiditas jangka pendek dan membebani sentimen pasar. Berdasarkan data Polymarket, pelaku pasar mematok peluang sebesar 76 persen terjadinya government shutdown di AS sebelum akhir bulan ini.
Sejarah mencatat, Bitcoin kerap mengalami tekanan jual menjelang potensi penutupan pemerintahan AS. Meskipun penurunan sering diikuti dengan reli setelahnya.
Keputusan suku bunga The Fed menjadi perhatian utama para pelaku pasar. Meski bank sentral AS diperkirakan menahan suku bunga, pelaku pasar akan mencermati pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell dalam konferensi pers pasca-rapat.
Selain itu, pelaku pasar juga akan menghadapi beberapa rilis kinerja keuangan raksasa teknologi AS seperti Microsoft, Meta Platforms, Tesla, dan Apple. Komentar manajemen perusahaan-perusahaan tersebut terkait prospek kecerdasan buatan (AI) diperkirakan akan memengaruhi pergerakan pasar secara luas.