Ray Dalio: Emas dan Bitcoin Punya Prospek Cerah di Tengah Perubahan Kebijakan The Fed dan Utang Jumbo AS

Ray Dalio
Ray Dalio

Miliarder sekaligus pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio, menyoroti kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) yang dinilai akan berdampak besar pada pasar aset global, khususnya emas dan Bitcoin. Dalio menilai langkah Federal Reserve (The Fed) mengakhiri kebijakan quantitative tightening (QT) pada 1 Desember 2025 mendatang merupakan bentuk pelonggaran moneter yang berpotensi mendorong harga aset berisiko naik.

Ketua The Fed, Jerome Powell, menyebut langkah tersebut sebagai housekeeping teknis untuk memastikan cadangan likuiditas tumbuh seiring kebutuhan sistem perbankan. Langkah beralih ke kebijakan balance sheet reinvestments guna menjaga cadangan perbankan tetap stabil.

Dalio  menilai keputusan ini sebagai sinyal penting dalam Big Debt Cycle atau siklus utang besar yang menjadi perhatian global. Menurutnya, kondisi saat ini unik karena The Fed justru memangkas suku bunga sekaligus berpotensi memperluas neraca keuangannya. 

Di sisi lain, defisit fiskal AS masih tinggi di atas US$1,8 triliun per tahun. Sementara itu, pasar obligasi menunjukkan credit spreads yang semakin sempit. Saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) diperdagangkan pada valuasi bubble berdasarkan indikator milik Dalio. 

Ray Dalio

“Ini bukan stimulus di tengah krisis, tetapi stimulus di tengah gelembung,” ujar Dalio, dikutip dari The Coin Republic pada Minggu, 9 November 2025.

Menurutnya, kombinasi kebijakan moneter longgar dan defisit besar menciptakan debasement trade, yaitu sebuah mekanisme ketika investor mencari aset yang nilainya lebih tahan terhadap pelemahan mata uang. Dalam situasi ini, emas dan Bitcoin berpotensi menjadi pilihan utama. 

Sudah menjadi rahasia umum bahwa emas menjadi lindung nilai (safe haven) klasik terhadap inflasi. Sedangkan Bitcoin memiliki karakteristik serupa dengan pasokan terbatas 21 juta koin.

Menurut Dalio, pelemahan imbal hasil riil (real yield) dan ekspansi neraca bank sentral mendorong rotasi modal menuju aset yang memiliki real return lebih tinggi atau memiliki kelangkaan struktural. Fenomena yang sama juga tercermin pada pergerakan Bitcoin sejak 2020, terutama setelah kehadiran ETF spot yang membuatnya semakin mudah diakses oleh investor institusional.

“Secara historis, emas terbukti mempertahankan nilai terhadap ekspansi jumlah uang beredar,” imbuh Dalio.

Sebagai pembanding, pada periode pelonggaran The Fed sebelumnya, neraca keuangan meningkat dari US$4 triliun menjadi US$9 triliun. Kenaikan likuiditas itu berkontribusi terhadap reli besar Bitcoin dari US$10.000 hingga menembus US$69.000 pada 2021. 

JPMorgan dalam riset terbarunya bahkan menyebut fenomena ini sebagai bagian dari debasement trade. Arus modal mengalir ke emas dan Bitcoin untuk melindungi daya beli dari pelemahan dolar AS.

Dalio juga mengingatkan adanya risiko melt-up atau lonjakan harga aset yang berlebihan sebelum koreksi besar terjadi. Ia membandingkan kondisi saat ini dengan periode 1999 dan 2010–2011, ketika stimulus berlebihan memicu gelembung aset yang akhirnya pecah setelah kebijakan moneter diperketat kembali.

“Lingkungan saat ini menggambarkan fase akhir siklus likuiditas. Investor yang cermat biasanya keluar pada puncak reli sebelum bank sentral kembali mengetatkan kebijakan," ungkap Dalio.

Jika The Fed benar-benar beralih ke pelonggaran penuh di tengah defisit fiskal besar, maka baik emas maupun Bitcoin diperkirakan akan menjadi aset yang paling diuntungkan. Dalam pandangan Dalio, kebijakan semacam ini mencerminkan debt monetization tahap akhir, yakni ketika bank sentral menambah likuiditas untuk menopang utang negara.

“Dalam situasi seperti ini. emas biasanya naik lebih dulu, lalu likuiditas mengalir ke Bitcoin," tegasnya. 

Emas adalah salah satu komoditas yang paling banyak diamati di Indonesia,

Emas adalah salah satu komoditas yang paling banyak diamati di Indonesia,

Dilansir dari Gold Price, harga emas global berada di level US$4.001,21 hingga pukul 11.223 WIB. Nilai tersebut naik 0,44 persen selama 24 jam terakhir dan naik 0,58 persen dalam sebulan. 

Sementara itu, harga Bitcoin berada di kisaran US$102.038 atau terkoreksi 0,47 persen dalam 24 jam terakhir, menurut data CoinMarketCap. Aset digital berhasil menembus level US$126.198 yang menjadi rekor baru tertinggi sepanjang masa (all high time/ATH) pada 7 November 2025