Bursa Asia Anjlok Serempak, Investor Panik Hadapi Sinyal The Fed Tahan Pemangkasan Suku Bunga

Gangnam, Seoul, Korea Selatan.
Gangnam, Seoul, Korea Selatan.

Investor terus menjual saham perusahaan teknologi, terutama yang bergerak di bidang perdagangan kecerdasan buatan (AI). Aksi ini di tengah  kekhawatiran tentang valuasinya.

Sentimen negatif lain berasal dari pernyataan para anggota The Fed yang menunjukkan banyaknya kekhawatiran mengenai apakah bank sentral harus memberikan pelonggaran kebijakan ketiga berturut-turut saat bertemu pada tanggal 9-10 Desember 2025.

“Padangan dasar saya, kemungkinan besar akan tepat untuk mempertahankan suku bunga kebijakan pada tingkat saat ini," ujar Presiden The Fed Boston, Susan Collins, baru-baru ini dikutip dari CNBC Internasional pada Jumat, 14 November 2025.

Alasan menahan suku bunga untuk beberapa waktu, kata Collins, guna menyeimbangkan risiko inflasi dan ketenagakerjaan dalam lingkungan yang sangat tidak pasti. Akibatnya, pasar telah menyesuaikan kembali ekspektasi mereka. 

Beberapa hari yang lalu, investor memperkirakan kemungkinan penurunan suku bunga sebesar seperempat poin persentase setidaknya 2 banding 1. Hal itu kini berubah menjadi 'lemparan koin', menurut data pasar berjangka yang ditabulasi oleh CME Group dalam  perangkat FedWatch.

Indeks acuan Jepang, Nikkei 225, anjlok 1,85 persen. Indeks Topix melemah 1,03 persen. 

Di Korea Selatan, indeks Kospi terjun 2,29 persen. Indeks Kosdaq yang terdiri dari saham-saham berkapitalisasi kecil menyusut 1,42 persen.

Indeks S&P/ASX 200 di Australia kehilangan 1,58 persen.  Kontrak Berjangka untuk Indeks Hang Seng Hong Kong turun dari 27.073,03 menjadi 26.701.

Di Wall Street, indeks Dow Jones Industrial Average menyusut 797,60 poin atau 1,65 persen ke posisi 47.457,22. Indeks  S&P 500 amblas 1,66 persen ke level 6.737,49.