Bitcoin Makin Terpuruk, Harga Anjlok ke Rp 1,54 Miliar Per Keping
Harga Bitcoin kembali anjlok. Aset kripto itu kini "nyemplung" ke level 92.500 dollar AS per koin, atau sekitar Rp 1,54 miliar (kurs Rp 16.700). Angka ini adalah titik terendah dalam enam bulan terakhir.
Penurunan ini membuat BTC tercatat turun 27 persen dari rekor tertingginya pada Oktober lalu.
Pada perdagangan Senin, Bitcoin sempat berada 93.876,6 (sekitar Rp 1,57 miliar) per koin sebelum sedikit rebound dan kembali melemah. Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin tercatat turun 2,4 persen, dan selama sepekan merosot hampir 13 persen.
Sementara itu, Ether masih bertahan di atas 3.000 dollar AS, yaitu sekitar 3.041 dollar AS atau Rp 50,7 juta, turun 2 persen dalam sehari dan 15 persen selama sepekan.
Sentimen negatif juga menyeret saham-saham terkait kripto. Coinbase, Circle, Gemini, dan Galaxy kompak turun sekitar 7 persen.
Perusahaan pemegang aset digital seperti MicroStrategy merosot 4 persen, sedangkan BitMine dan ETHZilla turun masing-masing 8 persen dan 14 persen.
Namun, beberapa perusahaan penambang Bitcoin justru bergerak positif. Salah satunya adalah Hive Digital yang nilai sahamnya naik 10 persen setelah mengumumkan kerja sama cloud AI dengan Dell Technologies.
Mengapa Bitcoin turun terus?
Menurunnya harga mata uang kripto ini terjadi karena kecilnya peluang The Federal Reserve atau The Fed menurunkan suku bunga pada Desember mendatang.
Pasar sebelumnya memperkirakan peluang besar bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada pertemuan bulan depan, tetapi kemungkinan itu menipis sehingga membuat investor menjauhi aset berisiko seperti kripto.
Menurut analis pasar Polymarket, peluang suku bunga menjadi tetap atau tidak berubah kini berada di 55 persen. Sementara itu, CME FedWatch Tool memproyeksikan probabilitas sekitar 60 persen.
Selain itu, pasar juga dibayangi ketidakpastian terkait rilis data ekonomi Amerika Serikat yang mengalami penundaan akibat kondisi pemerintahan.
Sementara analis dari Bitfinex juga melihat tanda-tanda bahwa Bitcoin mendekati titik terendah. Mereka mencatat bahwa laju realisasi kerugian mulai stabil, yang biasanya mendahului fase rebound.
"Dalam siklus historis, titik terendah baru terbentuk setelah pemegang jangka pendek menyerah dan menutup posisi rugi," tulis analis Bitfinex dalam catatan kepada CoinDesk.
Penurunan saat ini disebut sebagai yang terbesar ketiga sejak 2023, dan terbesar kedua sejak ETF Bitcoin spot AS diluncurkan. Dengan kondisi tersebut, analis memperkirakan titik terendah nilai BTC "dalam waktu dekat".
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.