Harga Emas dan Perak Terbang ke Rekor Tertinggi, Konflik Iran-Penyelidikan Bos The Fed Jadi Pendorong Utama

Ilustrasi emas
Ilustrasi emas

Harga emas dan perak dunia mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada Senin, 12 Januari 2026. Lonjakan kedua jenis logam mulia ini setelah  Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) melakukan penyelidikan terhadap Ketua Federal Reserve AS (The Fed), Jeromw Powell, terkait kasus proyek renovasi kantor pusat bank sentral di Washington, DC. 

Dakwaan yang ditujukan kepada bos The Fed ini memicu kekhawatiran di pasar terhadap independensi The Fed. Faktor pendorong kenaikan harga emas dan perak juga adalah lonjakan permintaan aset lindung nilai (safe haven) saat Iran protes sehingga memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah.

Harga emas melesat mendekati US$4.600 atau Rp 77,5 juta (estimasi kurs Rp 16.850 per dolar AS) per ons. Sedangkan harga perak meroket hampir menembus level US$85 atau Rp 1,43 juta per ons. 

Logam mulia emas dan perak.

“Potensi dakwaan ini harus dilihat dalam konteks yang lebih luas dari ancaman dan tekanan berkelanjutan pemerintah untuk memengaruhi keputusan suku bunga bank sentral,” ujar Powell dikutip dari Yahoo Finance pada Senin, 12 Januari 2026. 

Pernyataan Powell turut memicu koreksi dolar AS sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik tipis. Serangan berulang Donald Trump terhadap The Fed dalam setahun terakhir telah menekan kepercayaan terhadap dolar AS, sebaliknya menjadi faktor utama yang menopang reli emas.

Dari sisi geopolitik, protes berdarah di Iran turut memperkuat daya tarik logam mulia untuk melindungi nilai kekayaan. Trump mengatakan tengah mempertimbangkan berbagai opsi untuk Iran sembari melontarkan pernyataan kontroversial mengenai Greenland dan aliansi NATO. 

Penurunan suku bunga AS, meningkatnya ketegangan geopolitik, menurunnya kepercayaan terhadap dolar, serta tantangan terhadap independensi The Fed menjadi pendorong utama kenaikan harga emas dan perak. Berbagai sentimen ini mendorongt logam mulia berada di jalur reli. 

“Ini merupakan pengingat betapa banyaknya ketidakpastian yang dihadapi pasar," ulas Chief Investment Strategist Saxo Markets Singapura, Charu Chanana.

Pada perdagangan Asia sore hari, harga emas tercatat naik 1,6 persen ke level US$4.584,44 per ons. Di saat yang sama, harga platinum dan paladium masing-masing melonjak lebih dari 3 persen yang menegaskan kuatnya reli logam mulia di tengah gejolak global.

Harga perak membukukan kenaikan hampir 6 persen ke level tertinggi sepanjang masa di US$84,6 per ons. Sepanjang tahun 2024, logam putih ini melesat hampir 150 persen didorong oleh tekanan pasokan dan lonjakan permintaan investasi, terutama di pasar spot London yang masih ketat akibat kekhawatiran tarif.

“Kami memperkirakan defisit di pasar perak akan berlanjut sepanjang tahun 2026, terutama karena permintaan investasi yang lebih tinggi,” tulis BMI, unit dari Fitch Solutions Inc. dalam risetnya. 

BMI menambahkan, permintaan industri juga memperketat pasar fisik ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pelaku pasar juga menanti hasil investigasi Section 232 di AS yang berpotensi memicu tarif impor terhadap perak, platinum, dan paladium. Laporan tersebut diperkirakan akan dirilis pada Januari 2026.

Selain itu, data ketenagakerjaan AS terbaru memperkuat ekspektasi penurunan suku bunga lanjutan sekaligus menjadi sentimen positif bagi aset non-yielding seperti emas dan perak. Saat ini, pasar memperkirakan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga tahun 2026. 

Menurutnya, kondisi tersebut menggerus imbal hasil riil dan meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai. Sebagai informasi, The Fed telah menurunkan suku bunga sebanyak tiga kali berturut-turut pada paruh kedua tahun 2025.

“Data pasar tenaga kerja AS yang lebih lemah telah memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan beralih ke pemangkasan suku bunga lebih cepat dan lebih agresif dari perkiraan sebelumnya,” tulis Senior Market Analyst Phillip Nova Singapura, Priyanka Sachdeva