Harga Emas Anjlok Lagi Analis Sebut Shutdown AS, The Fed dan Tiongkok Jadi Biang Kerok
Harga emas melanjutkan tren penurunan untuk pekan ketiga berturut-turut hingga Jumat, 8 November 2025. Koreksi harga emas berbanding terbalik dengan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan sikap hati-hati bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed) yang menjadi dua faktor utama yang menekan minat investor terhadap aset aman seperti emas.
Mengutip dari Gold Price pada Senin, 10 November 2025, harga emas global menyusut 2,71 persen atau 111,33 poin selama sebulan terakhir. Harga emas bahkan sempat diperdagangkan turun dibawah US$4.000 seiring penguatan dolar AS.
"Emas diperdagangkan dalam rentang konsolidasi yang ketat selama sepekan. Meskipn aksi beli murah muncul di tengah penurunan dan momentum bullish yang terlihat di bulan Oktober mereda," ujar Chief Investment Officer Fixed Income Assets di LGT Wealth India, Chirag Doshi, dikutip dari Times of India pada Senin, 10 November 2025.
Doshi menambahkan, investor dalam fase wait and see dengan mempertimbangkan dolar AS dan imbal hasil Treasury sebelum mengambil keputusan bijak.
Ilustrasi Logam Mulia (Emas)
Senada dengan itu, Kepala Komoditas & CRM Ventura, NS Ramaswamy, menilai harga emas masih mendapat dukungan dari ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed. Ramaswamy juga menyoroti dampak dari penutupan pemerintahan (government shutdown) AS memasuki bulan kedua.
“Indeks dolar tetap stabil di kisaran 98–100 sejak Agustus. Jika dolar mulai melemah, emas bisa mendapat napas lega dalam jangka pendek,” katanya.
Ia menambahkan, shutdown AS menyebabkan tertundanya laporan ketenagakerjaan dan inflasi sehingga menciptakan ketidakpastian di pasar.
“Laporan swasta menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja AS. Jika ini berlanjut, The Fed bisa terdorong untuk memangkas suku bunga lebih cepat, yang biasanya positif bagi emas,” jelasnya.
Tekanan tambahan juga datang dari Tiongkok. Menurut Doshi, keputusan pemerintah Tiongkok untuk mengurangi pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN) atas beberapa pembelian emas ritel menekan sentimen permintaan fisik di Asia.
“Langkah ini menjadi katalis negatif baru bagi harga emas global,” ujarnya.
Harga perak juga melemah mengikuti pola konsolidasi emas, namun dengan tekanan lebih tajam akibat lemahnya prospek permintaan industri. Lonjakan singkat akibat permintaan musiman dan industri cepat terpangkas oleh aksi ambil untung yang menandakan pasar masih didominasi pelaku jangka pendek.
“Perak menunjukkan pergerakan lebih agresif dibanding emas, baik saat naik maupun turun,” kata Doshi.